Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 47


__ADS_3

"Apa masih jauh?" Bisik Lukas di telinga Tamara.


"Sebentar lagi," jawab Tamara.


Adrian berhenti dan menoleh ke arah Lukas.


"Kamu sudah lelah?"


"Tidak kek," Lukas terkejut melihat Adrian yang tiba-tiba saja berhenti berjalan.


"Baguslah, ayo!" Adrian kembali melanjutkan perjalanannya. Namun ia sengaja memilih jalan memutar agar nampak semakin jauh.


Tamara yang heran melihat tingkah kakeknya, hanya diam saja. Dan berjalan mengikuti kakeknya.


Tamara merasa sepertinya Adrian sengaja ingin mengerjai Lukas.


"Apa karena tadi pagi Lukas tak mengantarku ke rumah kakek?" Batin Tamara. Ia bertekad akan bertanya pada Adrian nanti.


Setengah jam berlalu akhirnya mereka sampai juga di pasar malam. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh dan hanya akan memakan waktu lima belas menit saja, namun karena Adrian memilih jalan berputar-putar mereka akhirnya tiba lima belas menit lebih lama.


"Tadi kamu bilang sebentar lagi, tapi nyatanya jauh," protes Lukas.


"Hehe, entahlah... Ku rasa ada yang aneh pada kakek. Sebaiknya mulai sekarang kamu harus berakting seolah-olah kamu benar-benar jatuh cinta padaku," pinta Tamara.


"Kenapa?"


"Sepertinya kakek curiga karena tadi pagi kamu tidak mengantarku," jawab Tamara sambil berlalu pergi, menyusul Adrian yang sudah lebih dulu masuk ke arena pasar malam.


"Wah, aku tak percaya ini. Padahal kan dia sendiri yang pergi tanpa pamit padaku, sekarang malah menyalahkan aku. Baiklah, akan ku tunjukkan skill aktingku."


Lukas melebarkan langkah kakinya menyusul Tamara.


"Lukas, aku mau naik itu," Tamara menunjuk kincir angin yang ukurannya tidak terlalu besar.


"Kamu berani sayang?" Lukas memulai aktingnya.


"Lukas, Tamara itu bukan orang penakut kalau masalah ketinggian. Dia paling berani. Kelemahan dia itu cuma takut sama hantu," Adrian memberi tau rahasia Tamara.


"Oh ya? Pantas saja kemarin sepanjang nonton film horor dia terus-terusan memejamkan mata, bahkan ia mengeluh tak bisa tidur karena takut bermimpi buruk. Namun nyatanya, dia tidur pulas sekali."


"Itu kan karena aku merasa tenang, ada kamu di samping aku," Tamara memeluk lengan Lukas dengan erat.

__ADS_1


Lukas pun memandang Tamara dengan tatapan penuh cinta.


"Kalau begitu ayo kita naik," Tamara dengan semangat menarik tangan Lukas. Lukas hanya tersenyum melihat tingkah Tamara.


Sementara itu Adrian yang melihat keduanya nampak sangat mesra, sedikit merasa senang. Sebelumnya ia mulai ragu pada Lukas, karena kabar terakhir yang ia dengar Dominic memberinya jabatan sebagai CEO jika dia mau menikahi Tamara.


Adrian takut, Lukas tak akan memperlakukan Tamara dengan baik. Dan malah semakin membuat Tamara merasa sengsara. Padahal niat awalnya ia ingin menjodohkan Lukas dengan Tamara adalah agar cucu kesayangannya itu bisa hidup bahagia tanpa perlu memikirkan tentang kondisi keuangan mereka yang tidak kunjung membaik.


Terlebih saat tadi pagi ia melihat Tamara datang seorang diri, Adrian jadi sedikit merasa kesal. Meski Tamara sudah menjelaskan situasinya mengapa ia harus datang seorang diri, Adrian tetap saja curiga.


Namun kecurigaannya sedikit menghilang saat ia melihat kedatangan Lukas yang memang ingin menjemput Tamara.


Kini Adrian hanya tinggal melihat, apa Lukas benar-benar tulus mencintai Tamara atau tidak. Ia ingin menyaksikan secara langsung kebahagiaan cucunya di depan mata kepalanya sendiri.


"Kakek mau ikut gak?" Tanya Tamara, membuyarkan lamunannya.


"Tidak, kalian saja. Kakek tunggu di sini ya," jawab Adrian.


"Kalau begitu kami naik dulu ya," Tamara melambaikan tangannya.


Adrian pun ikut melambaikan tangan.


"Ini tidak adil, kamu kan tadi pagi pergi sendiri bahkan tanpa berpamitan dulu padaku. Sekarang kenapa aku yang harus dicurigai?" Lukas protes saat mereka hanya berdua saja di kincir angin yang sedang berputar.


"Tahan dulu marahnya, nanti di rumah saja. Lihatlah ke bawah, kakek sedang mengamati kita."


Tamara tanpa basa basi langsung duduk di samping Lukas. Ia pun kembali memeluk lengan Lukas dan menyandarkan kepalanya di sana.


Lukas hanya bisa menghela nafas, meski sebenarnya ia jengah namun mau bagaimana lagi? Jika ia tidak akting saat ini, mungkin saja Adrian akan memberi tau Dominic tentang dirinya yang tidak bersikap baik pada Tamara.


"Baiklah, lakukanlah sesukamu," ucap Lukas pasrah.


Selama di pasar malam Tamara merasa sangat senang karena Lukas menuruti semua keinginannya tanpa terkecuali. Lukas bahkan selalu bersikap manis pada Tamara.


"Sayang, tunggu aku. Kenapa kau cepat sekali jalannya," panggil Lukas saat Tamara sudah berlari menuju arena bermain yang lain.


Adrian hanya melihat keduanya dari kejauhan, ia tersenyum senang melihat Lukas yang nampak terlihat tulus menyukai Tamara.


"Ah, aku lelah sekali," nafas Tamara terengah-engah karena ia berjalan ke sana kemari dengan riangnya.


"Sayang, kamu pasti lelah. Biar aku beli minum dulu ya," Lukas yang juga sebenarnya merasa sangat lelah namun ia masih harus berakting bersikap sebagai suami romantis.

__ADS_1


Lukas pun berjalan meninggalkan Tamara dan Adrian yang duduk di bangku yang tersedia di tengah pasar malam.


"Kakek, kenapa kakek dari tadi hanya duduk saja?"


"Kakek sebenarnya lelah, karena tadi kita mengambil jalan memutar. Jadi kakek memilih untuk duduk saja dan melihat keseruan kalian berdua."


"Kakek, tadi kakek sempat marah ya sama Lukas?"


"Kapan? Kakek tidak begitu!" Adrian mengelak.


"Lalu tadi kenapa kakek lebih memilih jalan memutar?"


"Itu karena kakek mendengar Lukas terus-terusan bertanya apa masih jauh? Sekalian saja kakek buat jalan yang jauh."


"Oh ya?"


"Iya, kenapa? Kamu meragukan kakek?"


"Tentu saja tidak," Tamara memeluk kakeknya.


"Kakek, pilihan kakek tidak salah. Lukas adalah pria yang baik, meski kadang kami sedikit bertengkar, tapi aku tau dia sangat menyayangiku," lanjut Tamara.


"Kalian suka bertengkar?" Adrian langsung saja ingin marah.


"Tidak kek, hanya terkadang. Bukankah itu hal yang wajar untuk pasangan baru seperti kami? Kami juga perlu beradaptasi satu sama lain," Tamara berusaha memberi pengertian.


"Tapi dia benar memperlakukan kamu dengan baik kan?"


"Iya kek, Lukas sangat baik padaku. Aku jadi semakin mencintainya," ucap Tamara dengan yakin.


"Syukurlah, kakek hanya merasa khawatir. Karena Lukas itu kan pilihan kakek, kakek takut Lukas hanya akan melukaimu. Tapi jika dia benar memperlakukan kamu dengan baik, kakek merasa sangat bersyukur."


Adrian membelai rambut cucunya itu, malam ini ia bisa melihat sendiri dengan kedua matanya bahwa hubungan Tamara dan Lukas baik-baik saja.


"Setidaknya kakek tak perlu merasa khawatir lagi jika suatu saat aku meninggalkan dunia ini. Karena akan ada sosok Lukas yang menggantikan kakek."


"Kenapa kakek bicara begitu? Kakek harus berumur panjang agar kakek bisa bermain dengan cicit kakek."


"Iya, kakek akan berumur panjang dan bermain dengan cicit-cicit kakek," ucap Adrian.


Di belakang mereka, tanpa mereka ketahui. Lukas mendengar pembicaraan antara kakek dan cucunya itu. Entah mengapa hatinya seketika bergetar.

__ADS_1


__ADS_2