Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 81


__ADS_3

Jake mengajak Tamara untuk pergi ke cafe terdekat. Tamara tak bisa menolak, ia juga penasaran dengan pria yang mengaku cucu dari kakeknya.


Di dalam cafe, Tamara terus-menerus menatap Jake dengan curiga.


"Aku tak percaya kamu anaknya om Richard," Tamara memulai pembicaraan.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti aku memang anaknya," jawab Jake santai.


"Anak tiri?"


"Tidak, anak kandung."


"Memangnya berapa usiamu?"


"Dua puluh lima tahun."


"Tuh kan, aku saja baru berumur dua puluh dua. Ayahmu dan ayahku jelas ayahku dulu yang menikah. Kau itu anak tiri kan? Dari berita yang pernah ku dengar, om Richard itu menikahi seorang janda, dan itu adalah ibumu kan?" Tebak Tamara.


"Aku ini memang anak kandung, dan ayahku tak menikahi seorang janda, dia menikahi wanita yang pernah dia hamili sebelumnya. Asal kau tau, ibuku tak pernah menikahi laki-laki lain selain ayahku," Jake menjelaskan.


Tamara terdiam, ia berusaha mencerna ucapan Jake.


"Jika memang seperti itu, berarti om Richard telah membohongi kakek selama ini," batin Tamara.


"Sudahlah, aku sendiri tak tau bagaimana bisa begitu. Yang pasti, ayahku kini mencari mu," ucap Jake.


"Mencariku? Untuk apa?"


"Mana aku tau? Saat mendengar kakek meninggal, ayah langsung mengajakku untuk mencari mu. Namun tak ada seorang pun yang tau keberadaan mu, mereka hanya mengatakan kau sudah ikut dengan suamimu yang kaya raya itu."


"Ayahmu sendiri kemana selama ini? Kenapa tak pernah muncul di hadapan kakek?"


Jake terdiam, ia tau Tamara pasti akan menanyakan hal ini padanya. Namun Jake belum menyiapkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Tamara itu.


"Kenapa diam? Apa karena ayahmu malu punya orang tua yang sudah jatuh miskin?"


"Aku tidak tau, aku sendiri juga bertanya-tanya mengapa ayahku tak pernah mengajakku bertemu dengan kakek."


"Jangan bohong!" Tamara menuding Jake pasti berbohong. "Ah... Jangan bilang ayahmu ingin menuntut warisan setelah kakek meninggal?"


Jake membelalakkan matanya.


"Tidak mungkin!" Protes Jake.


"Tidak mungkin apanya? Saat kamu susah saja ayahmu dengan tega meninggalkan kami. Apa ayahmu pikir sekarang kakek punya sesuatu untuk diwariskan?"

__ADS_1


"Kau jangan menuduh yang macam-macam tentang ayahku. Dia itu orang baik!"


"Orang baik? Apa ada orang baik yang tega meninggalkan orang tuanya karena sudah jatuh miskin?"


Jake berpikir sejenak, apa yang dikatakan Tamara memang benar. Ia sendiri selama ini tak pernah tau alasan mengapa ayahnya tak pernah mengajaknya bertemu dengan keluarganya. Hingga Jake selalu berpikir ayahnya adalah sebatang kara yang sudah tak memiliki siapapun lagi di hidupnya.


Hingga suatu hari, Richard mengajak Jake untuk datang ke kontrakan Adrian mencari keberadaan Tamara. Di situlah Jake baru tau ternyata ayahnya masih memiliki orang tua yang baru saja meninggal, dan ternyata ia juga memiliki seorang sepupu yang usianya tiga tahun di bawahnya.


"Sudahlah, aku sudah harus pulang. Selamat tinggal," Tamara hendak berlalu meninggalkan Jake. Namun Jake segera menarik tangan Tamara.


"Tunggu!"


"Mau apa lagi?" Tamara rasa sudah cukup info yang ia dapatkan tentang Jake. Tamara pikir juga, Jake tak tau apa-apa tentang Richard.


"Biar ku antar pulang," Jake memberi penawaran.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," Tamara menolak.


"Kenapa? Kau takut aku akan tau dimana kamu tinggal?"


"Baguslah kalau kamu menyadarinya, jadi aku tak perlu repot-repot menjelaskan," cibir Tamara.


"Kamu tak perlu khawatir, aku bisa merahasiakannya dari ayahku jika kamu mau. Bahkan pertemuan kita hari ini akan ku rahasiakan," Jake lagi-lagi membelikan penawaran.


Tamara merasa sanksi, ia sama sekali tak mempercayai ucapan Jake.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku sudah bertemu denganmu di sini. Bisa saja setelah kamu pergi aku mengikuti mu dari belakang."


Tamara terdiam, ia memikirkan perkataan Jake barusan. Memang benar apa yang Jake bilang, saat ini ia sama sekali tak bisa menghindar.


Mau dia pergi lebih dulu pun, Jake pasti akan membuntutinya. Lalu, bukankah lebih baik secara terang-terangan saja ia memberi tau Jake dimana Tamara tinggal selama ini? Bahkan ia memiliki waktu lebih untuk lebih mengenal Jake.


"Bagaimana? Kamu bersedia?"


Tamara menghela nafas panjang.


"Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk merahasiakan pertemuan kita hari dari ayahmu," ancam Tamara.


Jake mengulurkan tangannya, ia mengangguk yakin akan bisa mengabulkan permintaan Tamara.


Tamara pun membalas jabatan tangan Jake, meski agak ragu, Tamara tak punya pilihan.


"Baiklah, kita lihat apa setelah ini om Richard akan tau dimana tempat tinggal ku atau memang benar kau tak akan mengatakannya pada ayahmu," batin Tamara.


Setelah sepakat, keduanya pun pergi ke rumah Tamara. Sepanjang perjalanan, Tamara nampak canggung. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Jake, namun Tamara bingung harus mulai dari mana?

__ADS_1


Sementara itu, Jake fokus pada kemudinya. Ia seolah menunggu Tamara bertanya lebih dahulu.


"Aku ingin tau lebih banyak tentangmu," ucap Tamara akhirnya.


"Tanyakanlah apa yang ingin kamu tau," balas Jake.


"Apa benar kau anak kandung om Richard?"


"Bukankah sudah ku jawab tadi?"


"Aku tau, tapi aku masih tak percaya."


"Apa perlu kamu bertemu ibuku agar kamu bisa mendengar langsung apa yang terjadi di antara mereka?"


"Tidak perlu, memangnya kamu sendiri tidak tau bagaimana ayahmu dulu menghamili ibumu dan baru menikahinya setelah bertahun-tahun lamanya?"


"Tidak, aku bahkan tak peduli."


Jawaban Jake membuat Tamara semakin bingung.


"Aku sungguh tak paham denganmu," ucap Tamara.


"Tak perlu memahami ku," jawab Jake dengan tatapan mata yang sendu.


Tamara terus mengamati wajah Jake yang nampak familiar, ia merasa pernah bertemu dengan Jake namun ia lupa dimana?


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Tamara.


"Entahlah, mungkin saja," jawab Jake santai.


"Aku yakin pernah bertemu denganmu, tapi dimana aku lupa," Tamara berusaha mengingat apa ada kenalannya yang berwajah seperti Jake.


Seberapa pun kerasnya Tamara berusaha mengingat, Tamara tetap tak bisa mengingatnya.


Tamara memang tak banyak mengenal pria tampan, satu-satunya pria tampan yang ia tau hanyalah Lukas dan juga...


"Ah... Aku ingat, kamu pria di bandara itu kan?" Tamara menunjuk wajah Jake.


Jake terdiam, ia sendiri juga tak sadar pernah bertemu dengan Tamara sebelumnya.


"Benar, aku ingat. Kamu membantuku menaruh koper-koper di bagasi mobil. Aku bahkan memberimu kenang-kenangan," Tamara ingat kini dimana ia bertemu dengan Jake sebelumnya.


"Ah, benar... Aku ingat sekarang," Jake akhirnya ingat tentang gantungan kunci pemberian Tamara saat di bandara.


"Wah, aku tak menyangka akan bertemu denganmu lagi," Tamara merasa senang akhirnya ia bisa bertemu dengan seseorang yang pernah membantunya dulu.

__ADS_1


Jake tersenyum, ia juga tak menyangka bisa bertemu kembali dengan orang yang tak sengaja ia tolong saat di bandara. Dan ternyata, orang itu adalah sepupunya sendiri.


__ADS_2