
Hari-hari berlalu, Tamara akhirnya menceritakan dengan mulutnya sendiri apa yang terjadi pada dirinya saat di Supermarket beberapa waktu yang lalu.
Lukas berusaha dengan sabar menahan emosinya, agar Tamara mau menceritakan semuanya bahkan apa yang selama ini mengganjal dalam pikirannya.
Dan buah dari kesabaran itu, kini Lukas berhasil mendapat banyak informasi yang belum ia ketahui dari siapapun. Selama ini Tamara selalu berkomunikasi dengan Jake melalui pesan singkat.
Tamara sengaja menyembunyikan hal ini dari Lukas karena ia takut jika mengatakannya malah akan membuat Lukas cemburu buta, dan Tamara jadi tak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi.
Tamara bercerita, selama beberapa hari ini Jake dikurung di sebuah rumah yang ia sendiri tak tau dimana letak rumah itu. Untungnya selama dikurung ponsel Jake dibiarkan begitu saja oleh Richard, sehingga mereka bisa bebas berkomunikasi meski secara diam-diam.
"Bagaimana bisa kamu percaya begitu saja pada Jake?" Tanya Lukas ragu pada cerita Tamara.
"Maksud kamu?" Tamara balik bertanya.
"Jika memang dia dikurung di suatu tempat, apa mungkin jika dia diperbolehkan memegang ponselnya sendiri? Kalau aku yang jadi pamanmu, pasti sudah kuambil ponsel itu dan tak akan kubiarkan dia berkomunikasi dengan orang luar," Lukas menjelaskan alasannya mengapa ia tak percaya pada Jake.
"Itu kan karena om Richard yakin bahwa Jake tak akan melaporkannya ke polisi."
"Kenapa?"
"Jake bilang, om Richard mengancam akan menyakiti ibunya jika ia melapor ke polisi."
Lukas masih meragukan jawaban Tamara.
"Tapi bagaimana jika pamanmu sengaja membiarkan Jake berkomunikasi denganmu?"
"Tidak mungkin, Jake sudah bilang pada om Richard bahwa dia tak punya nomor ponselku."
"Oh ya? Tapi bisa saja kan ponsel Jake sudah di sadap oleh om Richard?"
Tamara terdiam, apa yang dikatakan Lukas memang benar. Namun ia yakin Jake tidak mungkin menjebaknya. Jika memang apa yang dikatakan Lukas benar, berarti Jake juga ikut dijebak.
"Apa selama beberapa hari ini om Richard pernah menghubungi mu?"
"Tidak," Tamara menggelengkan kepalanya.
Lukas menghela nafas perlahan, ia tak menyangka Tamara bisa sepolos ini.
"Sayang, tapi aku percaya pada Jake. Dia bahkan sedang disekap saat ini, waktu itu aku dengar sendiri om Richard sedang memukulinya... Dan..."
"Apa kamu melihatnya sendiri?"
__ADS_1
"Tidak, tapi aku mendengarnya."
"Seyakin itukah kamu dengan indra pendengarmu?"
Tamara diam, ia tau Lukas masih saja meragukan Jake saat ini. Namun entah mengapa Tamara sangat mempercayainya.
"Tak mungkin Jake membohongiku," batin Tamara.
"Kamu bahkan tak melihatnya, bagaimana bisa kamu yakin jika orang itu memang dipukuli? Bisa saja kan mereka hanya bersandiwara?"
Meski kesal dengan ucapan Lukas, Tamara juga memikirkan hal itu. Meski takut jika yang dikatakan Lukas itu benar, Tamara juga memikirkan kemungkinan dirinya juga ditipu oleh Jake.
"Kamu bahkan belum lama kenal dengannya dan hanya bertemu beberapa kali, tapi kenapa kamu sangat yakin? Apa karena dia menyelamatkan kamu?" Lukas terus mencecar Tamara dengan banyak pertanyaan. Sepertinya kesabarannya mulai habis.
Tamara masih terdiam, ia tak tau harus menjawab apa.
"Jawab Tamara!"
"Aku tidak tau, aku sendiri takut jika memang apa yang kamu katakan itu benar. Lalu aku harus percaya pada siapa?"
Lukas mengernyitkan dahinya.
"Apa itu yang selama ini ada dalam pikiranmu?"
"Astaga... Lalu kamu anggap apa aku?" Kesabaran Lukas sudah diambang batas.
"Kamu... Tentu saja kamu suamiku," Tamara tak mengerti arah pembicaraan Lukas.
"Hah... Suami?" Lukas menyeringai.
"Ya tentu saja, memang apa lagi?"
"Jika kamu memang menganggap aku sebagai suamimu, seharusnya kamu percaya padaku. Turuti semua apa yang ku minta padamu, apa sebegitu sulitnya untuk menuruti apa kataku?" Lukas akhirnya meluapkan emosinya.
"Permintaanmu yang mana yang tidak aku turuti?" Tamara ikut meninggikan suaranya.
"Wah, kamu tidak ingat? Sudah ku bilang kamu tidak usah pergi ke supermarket, tapi kamu tetap ingin pergi juga. Lalu kini, dengan seenaknya kami berkirim pesan dengan pria lain. Apa ini yang dinamakan menganggap ku sebagai suami?"
Deg...
Kata-kata Lukas begitu tajam menancap di hati Tamara. Ia tau ia salah, tapi Tamara tak menyangka Lukas akan menegurnya dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Nafas Tamara memburu, ia hampir menangis tapi masih berusaha ia tahan.
"Kenapa? Apa kata-kataku terlalu kasar? Tapi coba pikirkan, apa yang ku katakan itu benar kan?" Lukas masih bicara dengan nada sinis.
"Apa kamu marah padaku?" Suara Tamara mulai terdengar parau.
Lukas mendesah kasar.
"Sudahlah, kamu bahkan tak mengerti inti dari percakapan ini," Lukas beranjak pergi dari dalam kamarnya. Ia keluar dan menutup pintu kamar dengan kasar sehingga menimbulkan suara dentuman pintu yang sangat keras.
Hati Tamara semakin dibuat pilu mendengar suaminya yang selama beberapa hari ini terlihat sabar, namun kini malah seolah menyalahkan dirinya.
"Apa aku memang sangat salah hingga dia marah seperti itu?" Tangis Tamara akhirnya pecah.
Tamara menyelimuti dirinya dan mendekap wajahnya dengan bantal agar tak terdengar keluar suara isak tangisnya.
"Kakek... Hiks... Hiks... Aku harus bagaimana? Kenapa tiba-tiba om Richard mengusik kehidupan rumah tanggaku? Apa dia tidak suka melihat ku bahagia? Hiks... Hiks... Memangnya apa salahku?" Tamara terus meracau dalam tangisnya.
Di luar ruangan, Lukas berjalan menuju halaman depan. Semua pengawal di rumah itu seolah tau apa yang sedang terjadi. Mereka semua sengaja memberikan ruang untuk Lukas meredakan emosinya, tak ada satu pun yang berani bertegur sapa apalagi bertanya tentang apa yang terjadi.
Mereka lebih memilih diam, dan menahan untuk tak membicarakan apapun. Mereka tak mau membuat majikannya semakin murka.
Lukas menyadarkan dirinya di sofa di teras rumah.
"Apa aku terlalu keras padanya?" Lukas sedikit menyesal karena lagi-lagi ia tak bis mengontrol emosinya.
"Tak bisa begini, aku harus segera mengatasinya. Jika tidak hubunganku dengan Tamara akan seperti ini terus. Lagi pula aku tidak suka dia terus berkomunikasi dengan pria itu. Aku yakin, pria itu juga punya maksud tersembunyi pada Tamara."
Lukas bertekad untuk menyelesaikan sendiri masalah ini tanpa sepengetahuan Tamara.
Setelah dirinya mulai tenang, Lukas kembali ke dalam kamar. Ia bermaksud untuk meminta maaf pada Tamara karena ucapannya yang terlalu keras.
Di dalam kamar, Lukas melihat Tamara sedang meringkuk di atas kasur. Seluruh tubuhnya tertutupi selimut.
Perlahan Lukas berjalan mendekati Tamara, lalu ia duduk tepat di samping Tamara.
"Sayang... Apa kamu menangis?" Tanya Lukas dengan suara yang sangat lembut.
Tamara diam tak menjawab.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud membentak mu tadi. Aku hanya merasa emosi sesaat," Lukas mencoba untuk membuka selimut yang menutupi Tamara.
__ADS_1
Namun bukannya menerima permintaan maaf Lukas, Tamara malah membalas amarah Lukas yang sudah mereda itu.
"Apa yang kamu katakan memang benar, aku ini bodoh mau saja percaya dan ditipu oleh orang yang mengaku sebagai sepupuku. Maaf, semua ini tidak akan terjadi jika kamu tidak menikah denganku. Sebaiknya kita bercerai saja!" Ucap Tamara dengan suara lantang.