Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 22


__ADS_3

Tamara tak mengerti dengan dirinya sendiri, padahal ia tadi merasa kesal dengan Lukas ketika mengetahui bahwa Lukas tak menyukainya. Dan pernikahan mereka hanyalah sebuah paksaan.


Namun ketika Lukas memperlakukannya dengan hangat, Tamara malah merasa sangat tersanjung. Meski ia tau bahwa Lukas melakukan itu hanya pura-pura agat dilihat baik dimata orang. Namun tetap saja hatinya berbunga-bunga.


"Dasar, hati tidak bisa diajak kerja sama. Kau harusnya marah dengan pria ini, jangan malah terbuai," ucap Tamara dalam hatinya.


Tamara menggelengkan kepalanya, ia menepis pikiran dalam kepalanya yang membuat hatinya berbunga-bunga.


"Ingat Tamara, ini semua hanya pencitraan baginya. Dia tidak benar-benar menyukaimu, jika kau terlena kau yang akan sakit hati nantinya," berulang kali Tamara mengingatkan dirinya untuk tak semakin jatuh cinta pada Lukas.


"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Lukas saat melihat Tamara yang bertingkah aneh.


"Hah?" Tamara tak menyangka Lukas memperhatikan dirinya.


"Kamu sakit kepala?" Tanya Lukas dengan penuh perhatian.


"Ah, iya... Sedikit," Tamara tak mau mengatakan yang sebenarnya bahwa ia sedang berusaha menepis perasaan sukanya pada Lukas.


"Apa nona baik-baik saja?" Tanya penjaga vila.


"Iya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing," jawan Tamara.


"Kalau begitu tidurlah dulu, nanti begitu sampai pelabuhan akan ku bangunkan," Lukas merangkul bahu Tamara, dan meminta Tamara merebahkan kepalanya di pundak Lukas.


Tentu saja perlakuan Lukas padanya itu semakin membuat jantung Tamara berdetak tak karuan.


"Aduh, Tamara... Jangan bodoh! Dia melakukan ini hanya demi pencitraan!" Batin Tamara.


Meski begitu, Tamara menikmati momen itu. Ia tau mungkin hatinya akan sakit jika ia membiarkan perasaannya pada Lukas terus tumbuh, namun Tamara memutuskan untuk membiarkan hatinya merasa senang meski hanya sesaat.


Setelah perjalan yang cukup panjang mereka akhirnya sampai di pelabuhan.


"Hei, bangun! Kau senang ya bisa tidur di pundakku?" Bisik Lukas.


Tamara yang benar-benar tertidur pulas tak mendengar Lukas yang membangunkannya.


Penjaga vila sudah turun terlebih dahulu untuk menurunkan barang-barang mereka, dan memindahkannya ke atas kapal.


"Tamara!" Lukas memanggil nama Tamara sedikit berteriak. Ia berani melakukan itu saat melihat si penjaga sudah masuk ke dalam kapal.

__ADS_1


Tentu saja suara teriakan itu akhirnya mampu membangunkan Tamara.


"Kau kenapa berteriak? Telingaku jadi sakit!" Ucap Tamara kesal.


"Kau itu memang kebo ya? Sudah ku bangunkan sejak tadi kenapa tak bangun juga? Lihat bahuku jadi sakit karena kau tidur di sini!"


"Itu kan karena kau sendiri yang menyuruhku tidur di bahumu!" Tamara tak terima dirinya disalahkan.


"Dan kau mau saja? Dasar, cari-cari kesempatan!"


"Terserahlah," Tamara tak mau memperpanjang urusan dengan Lukas. Ia pun bergegas turun dari mobil, menikmati udara laut yang segar.


"Ahhh segarnya!" Ucap Tamara sambil meregangkan tubuhnya yang kaku.


"Tentu saja segar. Kau tidur pulas sekali, lihat pundakku yang kaku karena ulahmu itu," Lukas masih kesal karena Tamara tertidur di pundaknya selama perjalanan. Padahal ia sendiri yang meminta Tamara tidur di sana.


"Kenapa menyalahkan aku? Dasar pundakmu saja yang lemah. Masa menahan berat kepalaku yang tak seberapa ini sudah mengeluh," Tamara melengos masuk ke dalam kapal.


"Apa? Lemah katanya? Sial, dia belum pernah lihat otot-otot di tubuhku tapi sudah berani meremehkan aku!" Lukas menyusul Tamara masuk ke dalam kapal.


Tiga puluh menit perjalanan menggunakan kapal kecil menuju pulau pribadi milik Dominic. Tamara lebih memilih menikmati angin laut yang sejuk dan melihat pemandangan yang menyejukkan mata, dibanding duduk di dalam bersama Lukas dan melanjutkan perdebatan mereka.


"Cih, dia menghindariku," gerutu Lukas. Entah mengapa ia merasa kesal karena Tamara lebih memilih berada di luar kapal dari pada duduk bersamanya di dalam.


Tamara membayangkan akan berenang di pantai, menyelam dan berenang bersama ikan-ikan yang terlihat jelas dari permukaan laut.


Namun kebahagiaannya sirna seketika, saat melihat Lukas yang memandangnya dengan wajah kesal.


"Satu hal yang tidak menyenangkan di tempat ini," gumam Tamara sambil menatap Lukas.


"Kenapa kau menatapku?" Tanya Lukas.


"Kau duluan yang memandangiku sejak tadi, kau pikir aku tak tau?" Tanya Tamara dengan ketus.


"Tentu saja aku memandangimu, kau itu terlihat sangat norak. Seperti tak pernah melihat laut saja," ledek Lukas.


"Aku memang tak ingat pernah pergi ke laut, kau lupa kalau aku orang miskin? Seumur hidupku hanya bekerja dan bekerja, mana pernah ada yang namanya liburan? Libur itu adalah waktu untuk tidur," ucap Tamara sambil berlalu meninggalkan Lukas.


Tamara berlari mengejar penjaga vila yang sudah berjalan cukup jauh dari mereka. Lukas tertegun mendengar ucapan Tamara, ia tak percaya kalau Tamara memang tak pernah pergi berlibur.

__ADS_1


Orang kaya seperti Lukas mana paham tentang kerasnya kehidupan masyarakat menengah ke bawah. Jangankan berlibur, punya waktu untuk istirahat saja sudah syukur rasanya. Keseharian mereka hanya diisi dengan bekerja dan bekerja.


Lukas jadi merasa tak enak hati, namun egonya yang besar itu berhasil menepis rasa tak enaknya. Lukas berlari mendahului Tamara.


"Siapa yang sampai ke vila duluan, dia yang akan tidur di ranjang," bisik Lukas saat melewati Tamara.


"Apa?" Tentu saja hal itu membuat Tamara bergegas mengejar Lukas. Namun sekencang apapun Tamara berlari, tak akan bisa menyamai kecepatan Lukas.


Dan sudah jelas, Lukas lah yang sampai lebih dulu.


"Aku menang, jadi aku yang akan tidur di ranjang," ucap Lukas dengan bangga saat Tamara yang sedang terengah-engah sampai juga di vila.


"Kau curang! Seharusnya kau katakan sebelum kau lari," Tamara tak terima karena Lukas bermain curang.


"Bukan aku yang curang, kau saja yang lamban," Lukas semakin mengejek Tamara.


"Terserahlah, aku mau mandi dulu!" Tamara berlalu meninggalkan Lukas.


"Hei, mau mandi dimana?" Teriak Lukas.


"Ya di kamar mandi lah..."


Lukas menyeringai, ia seperti punya ide licik dalam pikirannya. Lukas lalu mengejar Tamara dan membopong Tamara di pundaknya.


"Ya... Lukas!!! Turunkan aku!" Tamara berontak saat Lukas mengangkat tubuhnya. Berkali-kali Tamara memukuli punggung Lukas namun tubuh pria itu seperti baja yang kokoh.


Semua pukulan yang Lukas terima dari Tamara seolah tak berpengaruh apapun.


Lukas membawa Tamara ke pantai dan menceburkan Tamara ke laut.


"Aaaa...." Jerit Tamara.


"Hahaha... Kau lucu sekali, kenapa mau mandi di kamar mandi? Mandi saja di sini," ledek Lukas.


"Apa?" Tamara yang tak terima segera menarik tangan Lukas hingga Lukas juga tercebur ke laut.


"Ya...!!!" Lukas melotot ke arah Tamara.


"Apa? Mau ikutan mandi juga?" Tamara tertawa terbahak-bahak melihat Lukas yang kesal.

__ADS_1


"Satu sama," ejek Tamara sambil menjulurkan lidahnya.


Tanpa mereka sadari, salah seorang pelayan yang bertugas si vila diam-diam mengambil gambar mereka dan mengirimkannya pada Dominic.


__ADS_2