Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 71


__ADS_3

Di pagi hari, Tamara bingung karena tak menemukan sosok Lukas dimana pun. Ia bertanya kepada Dominic dan Leonard saat sarapan bersama, namun mereka berdua juga tak tau apapun.


"Kami sudah coba menghubungi ponselnya?" Tanya Leonard.


"Sudah pah, tapi tak ada jawaban," jawab Tamara khawatir.


"Dia pasti kembali ke lokasi proyek, cobalah kamu hubungi Vanesa," pinta Dominic pada Leonard.


Leonard pun menurut, ia mencoba menghubungi istrinya. Dan tak butuh waktu lama, telepon pun tersambung pada Vanesa.


"Halo..." Suara Vanesa terdengar di seberang sana.


"Halo, sayang... Apa Lukas ada bersamamu?"


"Iya sayang, dia baru saja datang. Maaf, aku harus memintanya datang ke sini karena ada masalah penting di sini."


Vanesa pun menceritakan masalah yang saat ini sedang mereka hadapi.


"Oh begitu, baiklah... Kamu hati-hati ya sayang, jaga diri baik-baik," pesan Leonard pada istrinya sebelum ia menutup telepon.


"Bagaimana? Lukas sudah kembali ke lokasi proyek?" Tanya Dominic.


"Iya pah," jawab Leonard.


Leonard menatap wajah menantunya yang sedih karena baru saja bertemu dengan Lukas namun sudah harus berpisah kembali.


"Papah harap, kamu maklum ya Tamara. Memang seperti ini jika kami sedang ada proyek. Aku bahkan dulu tak pulang-pulang hingga satu tahun lamanya," Leonard mencoba memberi pengertian pada Tamara.


Meski sedih, Tamara berusaha untuk mengerti.


"Oh iya pah, kek... Aku berencana untuk pulang ke rumah hari ini," Tamara mengutarakan isi hatinya.


"Loh kenapa? Bukankah di sini lebih baik?" Tanya Leonard.


"Tunggu sebentar, rumah yang mana nih?" Tanya Dominic.


"Rumah yang ku tinggali bersama Lukas," jawab Tamara.


"Memangnya kenapa di sini?" Tanya Leonard lagi.

__ADS_1


"Tidak apa pah, aku hanya merasa nyaman jika tinggal di rumah sendiri. Tapi papah dan kakek tak usah khawatir, karena aku akan minta kakek Adrian untuk menemaniku selama Lukas tak ada," Tamara langsung memberi penjelasan bahwa kakeknya juga akan ikut tinggal di sana meski ia belum mengatakan apapun pada Adrian.


Ia sengaja mengatakannya agar mendapat izin dari papah dan kakek mertuanya.


"Oh, jadi kamu di sana bersama Adrian?"


"Iya kek..."


"Baiklah, kalau begitu kami tak perlu merasa khawatir. Tapi jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi kami," pesan Dominic.


"Iya kek, siap!"


Setelah selesai sarapan, Tamara diantar supir pribadi Leonard untuk datang ke kontrakan Adrian. Tamara ingin menjemput kakeknya dulu sebelum pulang ke rumah.


Sesuai instruksi, supir yang mengantar Tamara tak hanya mengantar sampai gang depan saja. Ia juga menemani Tamara hingga sampai di kontrakan Adrian.


Tiba di kontrakan, Tamara terkejut melihat ada banyak sekali orang yang berkerumun di depan pintu rumah kakeknya.


"Loh, itu Tamara..." Ucap salah seorang tetangganya.


"Nak Tamara, kemarilah..." Panggil si ibu pemilik warung yang rumahnya dekat dengan kontrakan kakeknya.


"Begini nak, kamu kesini bersama siapa?"


"Sama supir bu, ada apa?"


"Sebaiknya kita segera bawa kakekmu ke rumah sakit," pinta si ibu.


"Kakek kenapa bu?" Tamara jadi semakin khawatir, ia belum juga melihat sosok kakek sejak ia datang.


"Kakekmu ada di kamar, tadi dia terpeleset di kamar mandi. Untung saja pintu ruang tamu tidak di buka, dan di depan sini sedang ada banyak orang. Mereka semua mendengar dengan jelas suara kakekmu yang terjatuh," jelas si ibu warung.


Tamara semakin panik, ia ingin segera melihat kondisi kakeknya.


"Terus kondisi kakek gimana bu?"


"Tidak sadarkan diri, jadi bagaimana? Mau langsung dibawa ke rumah sakit?"


"Iya bu, ayo kita bawa sekarang," ucap Tamara.

__ADS_1


Dengan bantuan beberapa bapak-bapak yang ada di sana, Adrian pun di bopong menuju tempat mobil yang ditumpangi Tamara terparkir.


Tamara sangat panik saat ini, ia tak tau harus berbuat apa sekarang? Pikirannya mendadak kosong. Ia hanya menuruti kemana pun orang-orang memintanya pergi.


Bahkan saat di rumah sakit pun, ia hanya bisa diam mematung di depan ruang IGD. Beruntung pak Nuh, supir pribadi Leonard adalah orang yang sigap.


Dengan inisiatifnya, pak Nuh menghubungi majikannya dan mengatakan apa yang terjadi saat ini.


Tentu saja Leonard terkejut mendengar kabar itu, ia berniat untuk menyusul ke rumah sakit namun di larang oleh Dominic. Mengingat kondisi Leonard juga yang masih dalam masa pemulihan.


"Tapi pah, kasihan Tamara." Leonard justru mengkhawatirkan kondisi menantunya itu.


"Tenang saja, biar papah saja yang ke sana," untung saja saat itu Dominic belum berangkat ke kantor. Maka ia yang berinisiatif untuk menyusul ke rumah sakit.


Dominic juga khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Dan juga dengan cucu menantunya yang kini tengah berbadan dua.


Di perjalanan, Dominic mencoba menghubungi Lukas. Namun tetap tak ada jawaban. Dominic akhirnya menghubungi Vanesa.


Di telepon, Vanesa mengatakan bahwa saat ini ia membutuhkan bantuan dari rekan bisnisnya yang berada di luar negeri, oleh karena itu ia meminta Lukas untuk mendatangi rekan bisnisnya yang saat ini siap untuk membantu.


"Kenapa kamu menyuruh Lukas? Memang tidak ada orang lain?" Tanya Dominic dengan nada sedikit marah.


"Itu permintaan langsung dari dia pah, dan lagi Lukas juga menyanggupinya," jawab Vanesa.


Dominic memijit keningnya yang terasa sangat pusing. Ia tau, bahwa masalah yang kini mereka hadapi adalah ulah para pesaingnya. Namun ia tak menyangka Lukas akan langsung minta bantuan pada rekan bisnis yang ia rasa tak perlu.


Dominic sangat tau, siapa rekan bisnis yang dimaksud. Meski mereka sudah lama menjalin kerja sama, namun si rekan bisnis ini sangatlah licik.


Dominic sejak dulu selalu menjaga agar tidak meminta bantuan terlebih dahulu. Karena mereka pasti akan meminta imbalan yang tidak sedikit jika dimintai bantuan.


Mendengar syarat dari mereka yang meminta Lukas langsung datang menemui mereka, tentu saja Dominic jadi khawatir. Lukas ini sejak lama sudah ditaksir oleh putri rekan kerjanya itu.


Pernah sekali Dominic mengajak Lukas bertemu dengan putri bungsu mereka, namun ternyata memang Lukas sama sekali tak tertarik. Dominic merasa sangat lega saat itu, terlebih Lukas masih belum menyelesaikan S2 nya. Sehingga Dominic memiliki alasan untuk menolak pertunangan mereka.


Lalu bagaimana jika mereka tau bahwa Lukas sudah menikah dan itu karena dijodohkan oleh Dominic? Seketika Dominic pun merasa panik, ia berusaha menghubungi Lukas selama di dalam perjalanan menuju rumah sakit, namun tak ada jawaban juga dari Lukas.


Dominic berharap Lukas bisa membatalkan janjinya dengan si rekan bisnis. Ia takut, Lukas tak akan bisa menangani keinginan dari rekan bisnisnya yang sudah pasti banyak maunya itu.


Tanpa terasa ia sudah sampai di depan IGD, Dominic melihat Tamara masih mematung di depan pintu IGD.

__ADS_1


"Tamara..." Panggil Dominic. Namun Tamara seakan tak mendengarnya dan tetap diam mematung.


__ADS_2