Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 78


__ADS_3

Malam ini, Tamara sudah diperbolehkan pulang. Karen kondisinya sudah jauh lebih baik.


"Kamu benar sudah tak apa?" Tanya Lukas khawatir. Lukas sendiri juga sudah tak lagi demam seperti tadi.


"Aku baik-baik saja, sudah tak sakit lagi," jawab Tamara.


Sebenarnya, Tamara masih merasakan sedikit nyeri di perutnya. Namun ia tak mau mengatakannya. Tamara takut Lukas tak akan membiarkannya pulang malam ini.


Vanesa dan Leonard pun masih setia menemani mereka berdua di rumah sakit. Hingga administrasi selesai, dan mereka pun pulang bersama.


"Kalian pulang ke rumah kakek kan?" Tanya Vanesa.


"Tidak mah, aku mau pulang ke rumah saja," jawab Tamara.


"Kamu gak apa-apa di rumah? Bukannya lebih baik tinggal sama kita saja?" Vanesa merasa khawatir membiarkan Tamara tinggal di rumahnya sendiri.


"Tenang mah, kan ada aku. Aku masih diperbolehkan cuti kan?" Tanya Lukas.


"Tentu saja, proyek itu bahkan kakek yang mengambil alih," jawab Vanesa.


"Ya sudah kalau gitu tolong mamah antarkan kami pulang ya mah, mamah tidak perlu khawatir, ada aku yang akan menjaga Tamara."


"Bagaimana mamah mau percaya sama kamu? Kamu saja sampai sakit begitu karena kurang istirahat."


"Sudahlah mah, biarkan saja mereka. Mungkin mereka ingin menghabiskan waktu berdua saja tanpa gangguan dari kita," Leonard menengahi.


"Tapi kan Tamara belum pulih total pah, mamah cuma khawatir."


"Iya papah tau, tapi kita juga harus percaya pada anak kita," Leonard membelai rambut istrinya yang tengah mengemudi.


"Iya mah, lagi pula kemarin aku kurang istirahat kan karena khawatir pada Tamara," Lukas berdalih.


Vanesa tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


"Kamu yakin Tamara, kalau kamu sudah baik-baik saja?" Vanesa bertanya sekali lagi pada Tamara.


"Sudah mah, aku baik-baik saja. Lagi pula aku juga rindu dengan rumah," jawab Tamara.


"Baiklah, kalau gitu ayo mamah antar kalian pulang," Vanesa menyerah.

__ADS_1


Lukas dan Tamara tersenyum senang, sudah setengah bulan lebih mereka meninggalkan rumah mereka.


"Tapi kamu janji ya Tamara, kalau kamu merasakan sesuatu yang tak beres pada tubuhmu, kau harus bilang sama Lukas. Nanti Lukas pasti akan mengantarmu ke rumah sakit," pesan Vanesa yang masih merasa khawatir.


"Iya mah, tenang saja," Tamara mengangguk meyakinkan mamah mertuanya.


Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di kediaman Lukas dan Tamara. Rumah yang sudah lama mereka tinggali, kini keduanya sangat merindukannya.


Meski mereka berdua tak ada di rumah, Vanesa selalu menyuruh seorang pelayan dari rumah Dominic untuk membersihkan rumah ini setiap hari. Agar tidak banyak debu yang bersarang, sehingga saat mereka pulang kapanpun, rumah akan selalu nampak bersih dan rapih.


"Ahhh... Senangnya bisa pulang ke rumah," Lukas melemparkan tubuhnya ke sofa di ruang tengah.


"Mamah dan papah menginap di sini ya," tawar Vanesa.


"Ih, ngapain?" Lukas protes.


"Iya mah, mau ngapain?" Leonard juga ikut protes.


"Ya mau ngawasin mereka," jawab Vanesa santai.


"Mah, kita bukan anak kecil lagi. Udah mamah sama pulang sana," Lukas mengusir orang tuanya.


Tamara tak bisa bicara apapun, ia hanya tertawa saja melihat tingkah Lukas dan kedua orang tuanya.


"Ya sudah, mamah pergi deh. Ayo pah, kita sudah di usir," Vanesa menggandeng tangan Leonard dan pergi meninggalkan rumah Lukas.


"Terima kasih ya mah pah," ucap Tamara sebelum kedua mertuanya itu pergi.


"Iya sayang, mamah titip Lukas ya," tak lupa Vanesa mencium kening Tamara.


"Iya mah," Tamara tersipu malu. Ia mengakui memang mertuanya itu sangat baik padanya, bahkan ia sering merasa mereka berdua bukanlah mertuanya, melainkan sudah seperti orang tua kandungnya.


"Udah sana, dah mamah... Dah papah!" Lukas mendorong keduanya untuk masuk ke dalam mobil secepatnya.


Vanesa yang kesal karena terus di usir oleh Lukas, padahal ia masih ingin bercengkrama dengan Tamara, segera mengendarai mobilnya dan melaju dengan cepat keluar dari rumah Lukas.


"Ayo kita masuk," ajak Lukas pada Tamara.


Tamara masih memandangi kepergian kedua mertuanya itu. Ada perasaan sedih di dalam hati Tamara.

__ADS_1


Lukas memandangi Tamara, ia sangat tau bahwa Tamara sedang sedih saat ini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Lukas membelai lembut rambut Tamara.


"Aku seharusnya ke sini bersama kakek," air mata Tamara kembali berlinang.


"Kamu tidak usah sedih, kakek sudah bahagia di alam sana. Kakek juga pasti sedang mengamatimu dari kejauhan, maka dari itu kamu jangan bersedih ya, nanti kakek juga ikutan sedih."


Tamara mengangguk sambil mengusap air matanya, namun air mata itu tetap mengalir dan tak mau berhenti.


"Aku kangen sama kakek," Tamara terus menerus mengusap air matanya, namun sebanyak apapun ia mengusap, air matanya tetap terus mengalir dengan deras.


Lukas menarik Tamara ke dalam pelukannya.


"Menangislah, aku akan menemanimu di sini," ucap Lukas sambil mengusap-usap punggung Tamara seolah memberinya support.


Tamara pun meluapkan tangisannya dalam pelukan Lukas, ia menangis sampai puas, hingga tak ada lagi air mata yang akan menetes.


Perlahan Lukas melepas pelukannya, ia menatap wajah Tamara dan menghapus sisa-sisa air mata di wajah Tamara.


"Kamu boleh menangis jika sedang merindukan kakekmu, tapi kamu tidak boleh bersedih karena kamu tidak sendiri. Ada aku yang akan selalu menemanimu, ada mamah, papah, dan juga kakek Dom. Mereka semua juga adalah keluargamu, jadi jangan pernah katakan kalau kamu tidak punya siapa-siapa lagi ya," ucap Lukas dengan senyum manisnya.


Tamara mengangguk perlahan. Benar apa yang dikatakan Lukas, mamah, papah, dan kakek Dom juga sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


Mereka memperlakukan Tamara dengan sangat baik, seolah mereka sudah hidup bersama sejak lama. Tamara tak pernah mendapatkan perlakuan buruk sedikitpun dari keluarga Lukas.


"Sudah yuk masuk," ajak Lukas sekali lagi.


Kali ini Tamara menurut, sambil digandeng oleh Lukas mereka berdua pun masuk ke dalam rumah bersama-sama.


"Oh iya, ada yang mau aku ceritakan padamu," ucap Lukas.


"Apa itu?"


"Nanti saja aku ceritakan, sekarang aku sangat lelah dan ingin cepat tidur."


"Aku juga lelah," balas Tamara.


Keduanya pun melakukan rutinitas malam mereka seperti biasa, kini Tamara sudah mulai mengikuti kebiasaan Lukas di malam hari.

__ADS_1


Tamara merasa sangat bersyukur karena memiliki suami yang sangat menyayanginya. Meski kini ia telah kehilangan sosok kakek yang selama ini menemaninya, namun Tamara sudah memiliki pengganti bahkan lebih.


Ada mamah dan papah mertuanya yang selalu sayang dan perhatian pada Tamara, dan ada juga kakek Dom, sahabat kakeknya yang juga sama perhatiannya seperti kakeknya sendiri.


__ADS_2