
Tamara yang merasa tubuhnya sangat lelah tanpa terasa ia tertidur dengan pulas di atas ranjangnya. Dalam tidurnya Tamara bermimpi, Lukas dengan wajah tampannya itu datang menggodanya.
Ia bahkan dengan sentuhan lembut membelai rambut Tamara. Dan yang paling mengejutkan, Lukas mencium bibir Tamara.
Meski hanya dalam mimpi, Tamara menikmati adegan itu. Hingga ia tersadar dan bangun dari tidurnya.
"Ah, kenapa aku memimpikan itu?" Gumam Tamara. Ia menyentuh bibirnya, entah mengapa mimpi itu terasa nyata baginya?
Masih terasa dengan jelas bibir Lukas yang menyentuh bibirnya.
Tiba-tiba pikiran Tamara teringat pada satu kejadian. Dimana saat Tamara masih ingat betul saat ia mabuk kala itu, ia mencium bibir Lukas.
"Jangan-jangan waktu itu bukan mimpi?" Gumam Tamara.
"Ah, tidak mungkin!" Tamara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, dari pada aku terus memikirkan hal yang tidak-tidak. Lebih baik aku mandi saja," Tamara berjalan keluar kamar.
Sebelumnya ia sudah mengambil handuk yang berada di dalam lemari kamarnya. Tamara hendak mandi di kamar mandi belakang dekat dapur. Karena di dalam kamarnya tidak ada kamar mandi.
Tidak seperti di kamar Lukas, yang ada kamar mandi di dalamnya.
Selesai mandi, Tamara lupa membawa baju ganti.
"Aduh... Bagaimana ini?" Gumam Tamara. Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, mencoba mengintip keadaan di luar kamar mandi.
Dan sepertinya aman-aman saja. Lukas nampaknya masih berada di kamarnya.
"Baiklah, aku akan pakai handuk ini saja," ucap Tamara.
Tamara memakai handuk yang ia lilitkan ke tubuhnya. Handuknya sangat kecil sehingga hanya bisa menutupi hingga sebagian pahanya saja.
"Baiklah, aku akan berjalan cepat menuju kamar," tekad Tamara.
Jarak dari kamar mandi belakang hingga ke kamar Tamara lumayan jauh. Ia harus melewati dapur dan juga ruang makan, hingga ke ruang tengah baru Tamara bisa menemukan pintu kamarnya.
Tamara berjalan perlahan sambil melihat situasi sekitar.
"Sepertinya aman," gumam Tamara.
Ia akhirnya berlari kecil agar cepat sampai ke kamarnya. Dari dapur hingga ke ruang makan, keadaan masih sepi. Namun saat ia masuk ke ruang tengah...
"Kamu habis mandi?" Suara Lukas terdengar dari arah sofa.
Karena terkejut mendengar suara Lukas yang tiba-tiba muncul. Tamara jadi terpeleset dan kehilangan keseimbangan, ia pun terjatuh.
"Aaaa..."
Brugh...
"Tamara!" Lukas segera berlari menuju Tamara. Namun seketika langkahnya terhenti, ia segera membalikkan badannya.
"Aduhhh..." Tamara mengadu kesakitan.
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Lukas dengan panik, namun ia masih membalikkan badannya.
"Sepertinya kakiku terkilir," jawab Tamara.
Lukas yang merasa bingung hanya bisa diam mematung di sana.
"Lukas, apa kau bisa membantuku?"
"Aku bukannya tidak mau membantu, tapi pakai dulu handuk mu dengan benar."
Tamara menoleh ke arah tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia karena tanpa ia sadari handuk itu sudah terlepas. Dan kini tubuhnya tak tertutup apapun.
"Lukas!!!" Teriak Tamara.
"Kenapa?" Mendengar teriakan Tamara, justru Lukas merasa sangat panik.
"Hua..." Tamara malah menangis kencang membuat Lukas semakin bingung.
"Ada apa Tamara? Kamu kenapa?" Lukas panik, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Hiks... Hiks..." Tamara bukannya menjawab malah terus menangis.
Karena khawatir, Lukas berusaha mendekati Tamara dengan berjalan mundur.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan?" Lukas kini sudah berlutut namun wajahnya masih membelakangi Tamara.
Buk... Buk... Buk...
Tamara memukul punggung Lukas berkali-kali.
"Kamu jahat... Hiks," Tamara masih saja menangis.
Lukas yang tak mengerti berusaha untuk tak memperdulikannya, ia mengambil handuk yang terjatuh di lantai dan menutupi sebagian tubuh Tamara.
"Apa yang sakit?" Tanya Lukas dengan lembut.
Tamara tak menjawab, ia masih saja menangis.
"Katakan padaku, dimana sakitnya?"
"Kamu jahat!" Bentak Tamara.
"Aku jahat? Jahat gimana?"
"Kamu sudah dua kali melihat tubuh polos ku, tapi aku?"
"Kamu kenapa? Mau lihat punyaku juga?"
Tamara ingin mengangguk tapi ia merasa malu.
"Aku hanya merasa malu," Tamara menundukkan wajahnya. "Aku jadi merasa sudah tidak suci lagi."
"Kamu memang sudah tidak suci, apa kau tak sadar?" Batin Lukas.
__ADS_1
"Sudahlah, toh aku ini juga kan suamimu. Apa salahnya jika aku melihat seluruh tubuhmu?"
"Aku tau itu, tapi tetap saja aku malu."
"Tak perlu malu, anggap saja kejadian ini tak pernah ada. Lalu sekarang apa kamu bisa berdiri?"
"Sakit," keluh Tamara dengan manja.
"Ya sudah, sini biar aku gendong," ucap Lukas dengan suara lembut.
Tentu saja hal itu mampu membuat jantung Tamara berdegup kencang. Lukas melingkarkan tangan Tamara di lehernya.
Lukas menggotong Tamara, dan membawanya masuk ke kamar Tamara. Ini pertama kalinya Tamara secara sadar berada di jarak terdekat dengan Lukas. Tamara terus menerus menatap wajah tampan Lukas tanpa berkedip.
"Kenapa? Aku sangat tampan kan? Kamu beruntung bisa punya suami setampan aku," ucap Lukas.
Dengan hati-hati Lukas meletakkan tubuh Tamara di atas tempat tidur.
Meski tubuhnya sudah berada di atas kasur, Tamara enggan melepaskan tangannya yang masih melingkari leher Lukas.
Lukas tak berkata apapun, ia hanya menatap Tamara penuh tanda tanya.
"Gak mau dilepas?" Tanya Lukas akhirnya setelah mereka bertatapan mata cukup lama.
"Boleh aku mencium bibirmu?" Tanya Tamara dengan mata yang terus menatap Lukas tanpa berkedip.
Lukas tak menjawab, ia malah melihat bibir merah muda milik Tamara. Tanpa Tamara tau, Lukas tadi sudah sempat mencicipinya.
Tak mau menunggu jawaban dari Lukas, Tamara pun mengecup bibir Lukas dengan cepat.
Cup...
Setelah mengecup bibir Lukas, Tamara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Cukup?"
Tamara mengangguk dengan cepat dan tak berani menampakkan wajahnya. Ia sedang mempersiapkan diri jika saja Lukas akan memarahinya nanti.
Namun bukannya omelan yang Tamara dapatkan, ia malah mendapatkan belaian di rambutnya.
"Istirahatlah, apa perlu ku ambilkan pakaian untukmu?"
"Tidak perlu," jawab Tamara sambil mengintip dari sela-sela jemarinya.
"Ya sudah, aku ada di ruang tengah ya. Kalau kamu butuh sesuatu panggil aku saja."
Lukas lalu meninggalkan Tamara di kamarnya seorang diri. Setelah menutup pintu kamar Tamara rapat-rapat, Lukas hanya diam mematung di sana.
Entah mengapa Lukas merasa debaran jantungnya memacu kian cepat. Lukas memegang dadanya dan merasakan debaran jantungnya yang kian memacu.
"Apa ini? Kenapa tubuhku seakan ingin meminta lebih dari sekedar kecupan?"
Lukas menghela nafas, ia mencoba mengatur hatinya.
__ADS_1
"Ayo Lukas sadar, tidak seharusnya kamu jatuh cinta. Kamu hanya membutuhkan dia sebagai alat untuk menempati posisi CEO ini," batin Lukas.
Lukas pun berjalan menjauh dari kamar Tamara, ia kembali ke sofa melanjutkan film yang tadi sempat tertunda.