Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 105


__ADS_3

Pras berjalan perlahan menyusuri sungai, ada beberapa semak belukar di sana. Namun itu bukan masalah besar bagi Pras.


Semak-semak yang tidak terlalu tinggi, Pras terjang begitu saja. Namun ia harus memotong beberapa ranting pohon yang menghalangi jalannya. Dan itu membuatnya sedikit terhambat untuk segera sampai di titik lokasi.


Pras sendiri tidak tau pasti apa di sana ada Tamara atau hanya gerombolan para penjahat saja. Namun ia berusaha mengeluarkan sisa tenaganya untuk segera sampai. Kalaupun Tamara tak ada di sana, ia pasti menemukan petunjuk lainnya.


Pras mempercepat langkah kakinya begitu hampir tiba di lokasi. Pras sudah tak lagi berjalan mengikuti aliran sungai. Ia kini kembali berjalan masuk ke dalam hutan.


Dari kejauhan, Pras dapat melihat dua buah mobil. Ada seseorang yang sedang menghisap rokok sambil bersandar di salah satu mobil. Pras kembali mengamati sekitar, ia tak melihat siapapun lagi.


Pras menarik nafas panjang, ia sudah siap untuk pertarungan ini.


"Baiklah, ayo selamatkan nona!" Tekad Pras.


Pras keluar dari persembunyiannya dan berjalan begitu saja menghampiri pria yang tengah merokok itu.


"Hei... Kenapa kau lama..." Pria itu awalnya terlihat senang melihat kehadiran Pras, namun setelah sadar siapa yang datang senyum pria itu hilang seketika.


"Siapa kau?" Pria itu berjalan mendekat, ia melihat Pras memegang ponsel berwarna biru terang dan yang pria itu tau, itu adalah ponsel Brian.


"Siapa kau? Mengapa kau memegang ponsel Brian? Dimana Brian?" Tanyanya lagi.


Pras tak mau berbasa-basi, ia langsung saja menghajar pria yang ia yakin itu adalah komplotannya Brian.


Bagaimana ia tidak yakin, pria itu baru saja menyebut nama Brian. Terlebih pria itu hafal dengan bentuk ponsel Brian.


Pras tak kenal ampun, ia menghajar habis-habisan pria di hadapannya itu. Ia sama sekali tak memberi kesempatan untuk musuhnya membalas perlawanan.


Lalu seketika Pras mendengar suara pintu mobil terbuka dari arah mobil yang satunya. Pras menoleh sekilas dan melihat pria itu menodongkan pistolnya. Dengan sigap, Pras menarik tubuh lawannya tadi untuk dijadikan tameng.


Beruntung gerakan Pras sangat cepat, jadi ia bisa menghindari tembakan itu. Namun ternyata serangan itu belum berakhir. Pria yang tadi menembak masih terus melanjutkan serangannya ke arah Pras.


Menembak beberapa kali lagi. Pras masih menggunakan tubuh musuhnya yang sudah tak berdaya karena dihajar olehnya, ditambah luka tembak barusan sebagai tameng.


Pras berjalan mendekati pria bersenjata itu, sambil menghitung jumlah pelurunya. Setelah Pras yakin pria itu sudah kehabisan peluru, ia melempar musuhnya yang sudah tak bernyawa itu ke arah pria penembak.


Lalu secepat kilat juga Pras langsung menjegal kaki si penembak agar terjatuh.


Brugh...


Pria itu terjatuh karena dilempar rekannya sendiri dan juga tendangan dari Pras.

__ADS_1


"Sial, siapa kau?" Pria yang tak Pras kenal itu berteriak setelah ia mendorong tubuh rekannya yang sudah tak bernyawa.


Pras menatap tajam pada pria itu. Ia melihat pria itu tak lagi memegang senjata, sepertinya senjatanya jauh ketika pria itu juga terjatuh.


Tanpa pikir panjang, Pras mencengkram kerah pria di hadapannya.


"Apa kau yang bernama Richard?" Tanya Pras tajam.


Richard menyeringai. "Bagaimana jika ku katakan bukan?"


Pras mengamati dengan seksama. Pria di hadapannya itu berusia sekitar lima puluh tahun. Dari gaya berpakaiannya ia terlihat lebih modis dan rapih dibanding dengan lawan sebelumnya.


Pras sangat yakin, pria ini adalah bosnya.


Pras tak peduli, ia memberikan bogem mentah bertubi-tubi pada Richard. Namun Richard tak diam saja, ia berusaha mengambil pisau lipat di dalam saku celananya.


Lalu...


Richard menusuk perut Pras hingga membuat Pras berhenti memukul Richard.


"Aaa...," Pras melihat bagian perutnya yang tertusuk pisau.


"Sialan kau, siapa kau sebenarnya?" Tanya Richard.


"Kau tak perlu tau siapa aku, cepat katakan dimana nona Tamara?" Pras balik bertanya sambil memegangi perutnya yang terus mengalirkan banyak darah.


"Hahaha... Jadi kau pengawalnya Tamara?" Richard tertawa lepas. Namun seketika tawa itu hilang. "Dimana Brian?" Richard seketika memasang wajah serius.


"Dia sudah tergeletak sama seperti pria itu," Pras melihat ke arah pria yang sudah tak bernyawa itu.


"Apa? Kau membunuhnya?" Richard terlihat geram.


"Iya, kenapa? Apa dia anak buah kesayanganmu?" Pras memberikan tatapan mengejek pada Richard.


Richard tak menjawab, ia langsung menyerang Pras dengan balok kayu yang sudah dipegangnya sejak tadi.


Bugh...


Bugh...


Bugh...

__ADS_1


Bertubi-tubi Richard memukuli Pras dengan penuh emosi. Sepertinya tebakan Pras benar, karena terlihat sekali Richard seketika langsung menjadi gila dan memukulinya secara membabi buta.


Tamara yang melihat semua itu dari dalam mobil tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis melihat pengawalnya terus dipukuli tanpa ampun oleh Richard.


Tamara terus menggerakkan kaki dan tangannya agar bisa terlepas dari ikatan. Namun ikatan itu terlalu kuat, Tamara tak bisa melepasnya seorang diri.


Richard masih terus menghajar Pras yang sepertinya sudah tak berdaya. Hingga Richard sendiri kelelahan dan berhenti memukuli Pras.


Richard mengatur nafasnya sambil menatap ke arah langit.


"Apa benar, kau telah membunuh Brian?"


"Tentu saja," dengan suara yang parau Pras menjawab pertanyaan Richard sambil tersenyum mengejek.


Mendengar itu, Richard kembali hendak memukuli Pras. Namun tak berhasil, karena Pras lebih dulu menendang Richard hingga terjatuh, sebelum balok kayu itu mengenai tubuh Pras.


Dengan sisa tenaga yang Pras miliki, ia kembali bangkit sambil memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah.


Pras menendang balok kayu yang tergeletak di samping Richard.


Namun sayang, usaha Pras untuk melawan sia-sia. Karena ia sudah terluka dan sangat kelelahan. Richard yang tadi terjatuh langsung kembali menyerang Pras dengan tendangan ke arah perutnya.


Tentu saja hal itu berhasil membuat Pras jatuh tersungkur ke tanah.


Setelah Pras jatuh, Richard berjalan mendekat dan menginjak perut Pras yang terluka.


"Nyawa dibayar nyawa," ucap Richard sambil melotot ke arah Pras. Ia menginjak semakin kuat membuat Pras berteriak kesakitan.


Teriakan Pras membuat hati Tamara semakin sakit, ditambah ia tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya yang terikat.


"Ku mohon, hentikan!" Teriak Tamara dengan mulut tertutup lakban.


"Seseorang, kumohon... Tolonglah Pras, tolong," sambil menangis Tamara berusaha berteriak sekuat tenaganya. Berharap ada seseorang yang mendengarnya.


Dan tiba-tiba...


Bugh...


Seseorang keluar dari mobil di depannya, mengambil balok kayu yang tergeletak. Lalu ia memukul kepala Richard dengan sekuat tenaga.


"Jake?" Tamara membelalakkan matanya. Ia melihat tubuh Jake yang juga sudah babak belur itu berusaha berdiri dengan tegak sambil memegang balok kayu.

__ADS_1


__ADS_2