Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 24


__ADS_3

"Hei... Apa yang ku lakukan barusan? Meminta jatah? Yang benar saja! Hei tubuh, tolong jangan kau berkhianat, aku sama sekali tak tertarik padanya." Lukas bergumam sambil terus marah-marah sendiri di dalam kamar mandi.


Karena baru saja terlintas dalam pikirannya untuk meminta haknya sebagai suami kepada istrinya.


"Ahhh dasar sial!!!" Lukas membasahi tubuhnya di bawah kucuran shower. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak dari bayangan tubuh Tamara.


Namun saat matanya melihat ke arah bathub, ia teringat akan tubuh Tamara yang ternyata putih dan mulus itu. Buah dadanya yang besar dan bagian intinya yang tertutup bulu-bulu halus.


Lukas seolah sedang menikmati pemandangan yang hanya bisa dilihat oleh pikirannya saja.


"Ah... Ayolah! Kenapa kau tergoda?" Lukas menggelengkan kepalanya, berusaha untuk kembali fokus.


Namun Lukas tak bisa, semakin ia berusaha semakin nyata bayangan tubuh Tamara menari-nari di hadapannya.


"Sial, sepertinya aku harus mengakui bahwa gadis itu benar-benar menggoda," gumam Lukas.


Tapi Lukas tak mau berlarut-larut, ia mempercepat mandinya dan tak ingin terus-terusan memikirkan Tamara saat melihat bathub.


Di luar kamar, Tamara bergegas memakai pakaiannya agar saat Lukas keluar kamar mandi ia sudah berpakaian dengan lengkap. Dan benar saja, tak berselang lama saat Tamara selesai memakai seluruh pakaiannya. Lukas keluar dari kamar mandi.


"Cepat sekali mandinya," gumam Tamara sambil terus memandangi Lukas.


"Apa kau lihat-lihat?"


"Memangnya kenapa? Aku punya mata dan kau lewat di depanku, tentu saja aku bisa melihatnya," jawab Tamara dengan ketus.


"Aku tau pikiran kotormu itu, jangan harap kau akan bisa melihat bagian pribadiku ya."


Tamara mencibir di belakang Lukas karena terus mendengar Lukas yang mengira bahwa dirinya ingin melihat tubuh polos Lukas.


"Kau tidak mau pergi?" Tanya Lukas.


"Kenapa aku harus pergi?"


"Aku mau ganti baju!"


"Ya sudah ganti saja, kenapa kau memperdulikan aku?"


"Kau sepertinya benar-benar ingin melihat seluruh tubuhku ya?"


Tamara yang jengah segera pergi meninggalkan Lukas seorang diri di kamar.


"Dia seenaknya saja menuduhku!" Gerutu Tamara.


Seorang pelayan yang tadi diminta Lukas membawakan dua cangkir teh hangat datang menghampiri Tamara yang baru keluar kamar.


"Ini teh hangatnya nona," ucap si pelayan seraya menuangkan teh hangat ke dua cangkir gelas yang ada di sana.


"Terima kasih," Tamara mengambil satu cangkir yang sudah terisi air teh hangat. Ia merasa tersanjung dengan pelayanan di vila tersebut.

__ADS_1


"Tau saja kalau aku sedang butuh teh hangat," batin Tamara.


Semenit kemudian Lukas keluar dari kamarnya. Ia melihat Tamara yang sedang menikmati secangkir teh hangat di ruang tamu.


"Mana punyaku?" Tanya Lukas.


"Itu," Tamara menunjuk satu cangkir lagi yang masih tergeletak di meja.


"Pelayanan di vila ini sungguh sangat bagus, mereka menyuguhkan teh hangat tanpa diminta," ucap Tamara sedikit berbisik pada Lukas.


"Bodoh, itu karena aku yang memintanya!"


"Oh ya? Kalau kau yang meminta, kenapa mereka membawa dua cangkir?"


"Sudah ku bilang itu karena aku yang memintanya," Lukas mengulang ucapannya dengan suara yang lebih keras.


"Kau meminta dua cangkir?"


"Mmm..."


"Kenapa?"


"Karena aku kasihan melihatmu kedinginan," jawab Lukas asal.


"Kasihan? Kau peduli padaku?" Entah mengapa Tamara merasa tersanjung dan senyum-senyum sendiri.


Melihat ekspresi Tamara yang senyum-senyum sendiri membuat Lukas menggelengkan kepalanya.


Lukas pergi ke halaman di belakang villa suasana sore yang hangat membuatnya memejamkan mata karena menikmati keindahan pemandangan sore itu.


"Indah sekali..." Terdengar suara Tamara di belakang Lukas, tentu saja membuat Lukas menoleh ke arah Tamara.


"Kau mengikutiku?"


"Tidak, aku bahkan tak tau kau ada di sini."


"Lalu kenapa kau ke sini?"


"Aku hanya penasaran dengan vila ini, aku berkeliling dan melihat pemandangan indah itu. Aku tak menyangka kau juga ada di sini," jelas Tamara.


"Pembohong," gumam Lukas. Meski begitu, Tamara masih bisa mendengarnya.


"Bukannya kau yang pembohong?"


"Apa?"


"Kau yang berbohong seolah kau menyukai aku nyatanya tidak," gerutu Tamara.


"Memangnya kau menyukaiku?"

__ADS_1


Tamara mengangguk.


"Kau benar menyukai aku?" Tanya Lukas tak percaya.


"Kalau iya memang kenapa? Apa tidak boleh? Aku tak memaksa kau juga harus menyukaiku, itu kan perasaanmu. Terserah padamu, aku tak bisa mengaturnya."


"Kau benar, ini perasaanku dan ini milikku. Jadi jangan berharap lebih," ucap Lukas sambil menatap Tamara.


"Aku tau," Tamara terus menatap langit senja. Matahari yang perlahan tenggelam membuatnya semakin teringat dengan sang kakek.


"Aku harus bagaimana kek? Aku telah menikah dengan orang yang tidak mencintaiku," batin Tamara.


Tamara menghela nafas sambil terus memandangi matahari yang terbenam. Ia memikirkan apa yang akan ia lakukan ke depannya. Statusnya sebagai seorang istri, tapi suaminya tak menginginkannya.


"Pernikahan macam apa ini?" Tanpa sadar Tamara mengatakan apa yang ada dipikirannya.


"Makanya, kau bangun dari tidurmu. Ini bukan cerita dongeng tentang gadis miskin yang dicintai oleh pangeran dan akhirnya mereka menikah. Ini kehidupan nyata, aku memang pangeran tampan tapi aku tak menyukai gadis miskin," oceh Lukas.


Tamara mencibir mendengar ocehan Lukas. Dari awal ia cukup sadar diri. Namun sikap Lukas yang sangat hangat padanya tentu membuat Tamara jatuh hati.


"Kalau boleh tau, kenapa kau menyukaiku?" Tanya Lukas penasaran.


"Karena ku pikir kau orang yang hangat," jawab Tamara jujur.


"Hanya karena itu? Bukan karena aku tampan?"


Tamara menggeleng.


"Bagiku, ketampanan itu hanya bonus. Yang penting hatinya."


"Lalu, setelah tau bahwa aku hanya berpura-pura. Kau pasti jadi membenciku kan?"


"Seharusnya begitu, tapi aku tak bisa membencimu," jawab Tamara.


Lukas terdiam, ia menatap Tamara lebih lama. Lukas menyadari wajah Tamara tak sebuluk saat pertama kali mereka bertemu.


Sementara Tamara masih terus menatap langit yang perlahan mulai gelap.


"Kau jangan lagi menyukaiku, mungkin aku hanya akan terus menyakitimu," pinta Lukas.


"Ini perasaanku, dan ini milikku. Biar aku yang mengaturnya, mau tetap menyukaimu atau berbalik membencimu," ucap Tamara.


Tamara menoleh ke arah Lukas.


"Nanti kau hanya akan terus menangis jika terus-terusan menyukaiku," Lukas berkata serius.


"Kau kan memberiku kebebasan melakukan apapun yang aku mau, mulai sekarang aku harus memikirkan akan melakukan hal-hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Tak masalah kan?"


"Tak masalah, selagi kau tak membuatku malu. Kau harus ingat statusmu sebagai istriku," Lukas masih terus menatap Tamara yang pandangan kini kembali beralih ke lautan luas.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menjaga sikapku," Tamara kembali menatap Lukas dengan senyum manisnya.


Lukas terpana sesaat. Lalu sekejap kemudian, Lukas berpaling melihat langit yang sudah gelap.


__ADS_2