
Tamara dan Lukas sudah sampai di kota tujuan tepat sebelum matahari terbenam. Tak lupa, Lukas juga mengajak Tamara untuk membeli pakaian ganti untuk mereka.
"Di sini kenapa tidak ada hotel bintang lima ya?" Gerutu Lukas sambil mengutak-atik ponselnya.
"Bukannya kamu pernah datang ke sini sebelumnya?" Tanya Tamara.
"Iya, tapi aku tidak menginap saat itu," jawab Lukas.
"Menginap di hotel biasa saja," usul Tamara.
Lukas terdiam menatap Tamara.
"Memangnya tidak apa-apa?" Tanya Lukas.
"Loh, memangnya kenapa? Kan sama-sama menginap. Aku juga yakin tempatnya layak huni, bahkan lebih baik dari kontrakan kakek. Lagi pula kita kan hanya menginap semalam," jawab Tamara.
Lukas nampak berpikir sejenak, apa yang dikatakan Tamara memang benar. Mereka hanya akan menginap satu malam.
"Baiklah, kalau begitu aku kan mencari penginapan yang lokasinya paling dekat dengan tempat tujuan ya," Lukas akhirnya memutuskan untuk menginap di penginapan saja.
Setelah mendapatkan lokasi tempat menginap tujuan mereka, Lukas segera melajukan mobilnya menuju titik lokasi.
Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tiba di sebuah penginapan sederhana. Namun penginapan ini yang lokasinya paling dekat dengan tempat mereka akan berwisata arung jeram nanti.
Lukas dan Tamara sudah mendapatkan kamar, mereka pun segera membersihkan diri karena ingin segera tidur.
"Kita pakai baju ini?" Tamara menunjuk piyama couple yang Lukas beli.
"Iya, kenapa? Tidak suka?"
"Hehe, bukan begitu. Aku hanya tak menyangka kalau kamu akan membeli pakaian seperti ini."
"Pakailah, bagaimana pun kamu harus ganti baju," pinta Lukas. Sebenarnya ia merasa malu karena membeli barang couple seperti itu untuknya dan Tamara.
"Baiklah," Tamara lalu memakai set piyama yang sudah Lukas belikan.
Tadi saat belanja pakaian, Lukas sendiri yang memilih pakaian untuknya dan juga Tamara. Sedangkan Tamara yang memang sudah kelelahan karena perjalanan jauh, hanya menunggu saja di dalam mobil.
Setelah mereka mengganti pakaian dengan piyama couple. Mereka pun bersiap untuk tidur.
"Benar katamu, tempatnya tidak seburuk itu," ucap Lukas.
__ADS_1
"Benarkan?"
Lukas tersenyum.
"Ayo kita tidur, karena besok kita harus bangun pagi-pagi," ajak Lukas.
Tamara menurut. Sesuai janji mereka kemarin malam, Lukas tidur bersama dengan Tamara di ranjang yang sama. Meski tak melakukan apapun, namun keduanya tidur sambil berpelukan.
Pagi hari, Lukas dan Tamara sudah siap untuk menuju lokasi tempat wisata arung jeram.
Tiba di sana, keduanya disambut oleh beberapa orang pemandu wisata. Tamara merasa bersemangat karena kali ini ia akan masuk ke alam bebas dan bermain air di sana.
Saat itu, tempat wisata yang mereka kunjungi masih sepi karena memang biasanya lara wisatawan akan datang saat siang hari.
Lukas dan Tamara pun menunggu sejenak hingga hari sedikit hangat, dan ada beberapa wisatawan lain yang bergabung agar suasana menjadi lebih ramai.
Sambil menunggu, Lukas dan Tamara sarapan terlebih dahulu. Untungnya di tempat itu terdapat warung makan, sehingga Lukas dan Tamara bisa mengisi perut mereka di sana sebelum memulai wisata.
Sebelum memulai wisata, mereka berdua tentu saja harus menggunakan jaket keselamatan lebih dulu. Kebetulan saat itu sudah ada beberapa wisatawan juga yang hadir di sana.
Lalu pemandu wisata mengajak mereka untuk masuk ke dalam hutan. Jalan yang mereka lalui cukup curam dan terjal.
Tamara berkali-kali hampir terjatuh karena banyaknya bebatuan di jalur yang mereka lewati. Untungnya Lukas dengan sigap memeganginya, sehingga Tamara tak sampai terjatuh.
Ada beberapa perahu yang tersedia di sana. Seorang pemandu turun ke sungai dan memegangi perahu karet yang kan mereka tumpangi. Sebelum naik ke atas perahu, pemandu wisata memberikan arahan terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah mereka diperbolehkan untuk naik ke atas perahu.
Ada sekitar lima orang wisatawan yang naik ke atas perahu itu, lalu seorang pemadu wisata duduk di paling belakang dan seorang lagi duduk di paling depan.
Tamara dan Lukas duduk di posisi ke dua.
"Kamu siap?" Bisik Lukas.
Tamara mengangguk dengan semangat, ia sudah tak sabar ingin memulai permainan.
Perahu akhirnya mulai melaju menjauhi tepi sungai, aliran sungai yang awalnya pelan lama-lama semakin deras. Perahu yang mereka naiki pun melaju dengan kencang.
Mereka semua terombang-ambing di atas aliran sungai yang semakin deras. Tamara berpegangan erat pada Lukas, ia takut jatuh terpental keluar perahu.
Lukas pun tak tinggal diam, ia juga merangkul pinggang Tamara agar Tamara merasa aman berada di sisinya.
Karena sungai yang mereka lalui cukup panjang sekitar sepuluh kilometer, maka setidaknya butuh waktu hingga dua jam untuk sampai kembali di tempat tujuan.
Dan akhirnya, setelah banyaknya lika-liku dan juga berbagai halang rintang yang dilalui. Mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.
__ADS_1
Lukas dan Tamara memilih untuk beristirahat sejenak, setelah memacu adrenalin mereka mengarungi sungai yang cukup deras selama perjalanan.
"Bagaimana? Kamu suka?" Tanya Lukas.
"Iya, walaupun agak sedikit ngeri tapi seru," jawab Tamara.
Lukas tersenyum bangga, entah mengapa ia merasa sangat bahagia melihat keceriaan di wajah Tamara.
Hari sudah mulai sore, Lukas dan Tamara juga sudah kembali ke penginapan mereka.
"Kamu yakin mau langsung pulang?" Tanya Tamara.
"Iya, kenapa memangnya?" Lukas balik bertanya.
"Apa kamu tidak lelah? Aku saja merasa sangat lelah sekarang, apalagi kamu yang harus menyetir nanti," ucap Tamara.
"Aku memang lelah, tapi mau bagaimana lagi? Besok kan aku sudah mulai kembali bekerja."
"Tapi kamu yakin tidak apa-apa menyetir dalam kondisi lelah begini?" Tamara merasa khawatir dengan kondisi Lukas.
Lukas menggelengkan kepalanya, ia lalu menarik Tamara ke dalam pelukannya.
"Bagaimana kalau kamu kasih aku energi tambahan supaya aku bisa segar kembali," bisik Lukas di telinga Tamara.
Mendengar itu, tentu saja Tamara langsung tersipu malu. Ia tau apa maksud Lukas.
"Sekarang?" Tanya Tamara.
Lukas mengangguk manja.
Tamara pun tersenyum seolah mengiyakan pemintaan Lukas.
Tanpa pikir panjang, Lukas pun langsung melampiaskan keinginannya karena Tamara sudah memberikan lampu hijau.
Satu persatu Lukas melucuti baju Tamara hingga gak tersisa satu helai benang pun. Lukas membopong Tamara dan perlahan merebahkannya di atas tempat tidur.
Kini Lukas sudah tak lagi gengsi untuk melepaskan hasratnya pada Tamara. Dia laki-laki normal, dan lagi Tamara adalah istrinya.
Tak peduli dengan perasaannya yang entah suka atau tidak, tapi rasa yang sudah di ubun-ubun itu tentu harus segera ia salurkan.
Tamara pun hanya bisa pasrah, ia hanya mau menikmati momen mereka saat ini. Tak mau berpikir jauh apa kini Lukas sudah benar-benar tertarik padanya atau hanya sekedar melampiaskan nafsu saja.
Yang Tamara tau, dirinya sangat mencintai Lukas. Dan ia rela melakukan apapun demi Lukas, termasuk menjadikan dirinya sebagai budak pelampiasan bagi Lukas.
__ADS_1
Toh baginya itu tidak salah, Lukas adalah suaminya dan itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan oleh suami istri.