
Akhirnya, Tamara dan Richard bertemu secara langsung. Mereka bertemu di dalam ruang interogasi. Tentu saja Tamara tak seorang diri, ada Lukas di sampingnya yang menemani.
Tak hanya Tamara, Richard juga ditemani oleh istrinya, Sandra. Sebelum Tamara dan Lukas masuk, Sandra berbisik terlebih dahulu kepada Richard.
"Kenapa tadi kamu diam saja? Apa kamu berniat untuk mencari masalah lagi?" Bisik Sandra.
"Kamu tau aku memilih diam saat diinterogasi tadi?" Richard malah balik bertanya.
"Tentu saja, aku melihat semuanya dari dalam sana," Sandra menunjuk sebuah ruangan disebelahnya. Ada kaca besar yang menghubungkan kedua ruangan tersebut. Namun dari ruangan tempat mereka berada saat ini tak ada melihat apapun. Kacanya terlalu gelap. Hanya dari sisi satunya saja ruangan ini dapat terlihat dengan jelas.
"Apa lagi yang kamu pikirkan?" Tanya Sandra.
"Aku masih belum ingat apa yang terjadi beberapa bulan terakhir," jawab Richard memberi alasan.
"Menyerah, atau aku akan pergi?" Akhirnya Sandra mengeluarkan jurus ancaman pada Richard.
Mendengar ancaman dari Sandra tentu saja Richard sangat terkejut. Ia tak menyangka Sandra sampai sejauh itu menginginkan dirinya untuk menyerah.
"Tapi nanti aku akan masuk penjara."
"Memangnya kenapa? Tentu saja kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu itu."
"Apa kamu tak keberatan?"
"Bukankah sudah ku bilang aku akan menunggumu?"
Ricahrd terdiam, tak lama kemudian Tamara dan Lukas pun masuk ke dalam ruangan. Mereka saling menyapa dengan canggungnya. Dari ruang sebelah, tentu saja Dominic dan beberapa detektif mengamati pembicaraan mereka.
"Apa kabar om, tante?" Tamara mulai menyapa.
"Apa aku terlihat baik-baik saja?" Gumam Richard, namun mereka semua yang ada di ruangan itu mampu mendengar dengan baik ucapan Richard barusan. Sandra reflek langsung mencubit perut Richard.
__ADS_1
"Sshhh.." Richard melotot ke arah Sandra tapi Sandra tak peduli.
"Kami berdua baik, kalian bagaimana?" Sandra yang mengambil alih dan memperbaiki jawaban Richard.
"Syukurlah, kami berdua juga baik-baik saja," Tamara menjawab dengan canggung.
"Sudahlah, tak usah berbasa-basi. Katakan saja, kenapa kau ingin bertemu denganku?" Tanya Richard dengan sikap yang canggung. Sejak tadi ia sama sekali tak berani menatap Tamara secara langsung.
Mendengar pertanyaan Richard, jantung Tamara berdebar dengan cepat. Tamara tak tau bagaimana harus memulai, dan kini Richard memintanya berbicara langsung ke intinya. Tamara menatap ke arah Lukas.
Lukas yang paham akan situasinya, segera menggenggam erat tangan Tamara, Lukas tau saat ini Tamara butuh kekuatan darinya untuk mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.
"Mmmm... Aku... Aku merindukanmu om," dengan ragu-ragu dan suara sedikit bergetar, Tamara akhirnya berhasil mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.
Mendengar apa yang Tamara katakan, tentu saja membuat Richard terkejut. Semula Richard menyangka Tamara akan menuntut dirinya, atau mempertanyakan kenapa ia tega melakukan semua itu padanya. Richard yang masih belum kembali ingatannya tentu merasa bingung jika sampai Tamara bertanya demikian padanya.
Namun tak disangka, Tamara malah mengungkapan rasa rindu pada dirinya.
Namun semuanya berubah ketika ia bersitegang dengan Adrian, ayahnya. Richard tak lagi memperhatikan Tamara. Bahkan saat Tamara berulang tahun pun Richard lupa untuk memberinya kado. Keserakahannya membutakan dirinya. Kasih sayang yang dulu ia berikan pada Tamara seketika hilang. Richard seolah tak peduli lagi pada kehadiran gadis kecil yang selalu mewarnai hari-harinya dulu.
Tak hanya Richard yang terkejut, Lukas dan Sandra yang ada di rungan itu pun terkejut. Bahkan Dominic dan para detektif yang mendengar dari ruang sebelah pun juga ikut terkejut. Mereka tak menyangka Tamara hanya ingin mengungkapkan perasaan rindu pada pamannya.
"Bolehkah... Aku... Memelukmu?" Lagi-lagi dengan suara terbata-bata Tamara mengutarakan isi hatinya.
Rasa haru seketika menembus ke hati Richard. Hatinya yang semula keras bagaikan batu kini mencair dan terasa amat sangat hangat. Richard kembali teringat pada gadis kecilnya dulu yang selalu berlari menghampiri dirinya ketika ia pulang ke rumah.
Rasa bersalah mulai bermunculan dalam hati Richard, semua ingatan atas apa yang telah ia lakukan terus berputar di dalam kepalanya. Bagaikan slide film yang diputar dengan sangat cepat.
Kejahatannya di masa lalu dan di masa sekarang terus bermunculan di dalam ingatannya. Semakin Richard ingat, semakin sakit pula hatinya. Rasa bersalah itu terus menjalar ke seluruh tubuhnya, bagaikan ditusuk-tusuk oleh jarum penyesalan. HIngga membuat air mata Richard jatuh perlahan.
"Hiks... Hiks... Tamara..." Richard menatap gadis kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa.
__ADS_1
Melihat air mata Richard yang jatuh mengalir dengan deras, tentu membuat Tamara juga ikut menangis.
"Om... Hiks... Om..." Tamara berhambur berlari ke arah Richard. Richard pun melebarkan tangannya siap memeluk Tamara.
Keduanya kini menangis sambil berpelukan.
Suasana haru juga dirasakan di ruang sebelah. Dominic yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri juga ikut meneteskan air matanya.
Lukas tak menyangka, Tamara ternyata memiliki hati yang begitu baik dan polosnya. Tamara hanya ingin kembali berhubungan baik dengan pamannya, ia sama sekali tak mau menuntut untuk memenjarakan Richard. Lukas hanya bisa mengamati gerak-gerik mereka dari tempatnya duduk.
"Maafkan om, Tamara. Maafkan om," berulang kali Richard meminta maaf sambil memeluk Tamara.
Tamara hanya membalas ucapan Richard dengan anggukan. Sambil terus menangis menumpahkan semua perasaan yang tengah ia rasakan kepada Richard. Rasa rindu yang teramat sangat pada pamannya yang selalu mengajaknya bermain saat ia masih kecil dulu. Kerinduan juga pada kedua orang tua dan kakeknya yang belum lama ini berpulang.
Wajah Richard memang mirip dengan ayah dan kakaknya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Tamara. Melihat wajah itu berada di hadapannya, Tamara merasa ia bisa kembali bertemu dengan ayahnya yang telah lama tiada.
Setelah berpelukan cukup lama, keduanya melepaskan pelukan dan saling menyeka air mata masing-masing. Richard menggenggam tangan Tamara, dengan sendu ia menatap wajah Tamara.
"Kamu mau memaafkan om?" Tanya Richard.
Tamara mengangguk berkali-kali.
"Terima kasih, Tamara. Kau mirip sekali dengan ibumu," ucap Richard seraya mengusap air mata di pipi Tamara.
Tamara tersenyum.
"Syukurlah, terima kasih Tamara," Sandra juga ikut berterima kasih pada Tamara.
Lukas yang menyaksikan langsung bagaimana kebaikan istrinya jadi semakin terenyuh hatinya.
"Istriku memang sangat baik, bak bidadari," ucap Lukas dalam hati. Lukas kembali teringat akan ucapan kedua orang tuanya tentang Tamara, bahwa Tamara adalah gadis yang baik, dan itu sudah cukup untuk membuatnya di terima sebagai menantu di keluarganya.
__ADS_1
Lukas bersyukur saat itu ia mau menerima Tamara walau dengan sangat terpaksa, kini Lukas tau apa maksud kedua orang tua dan kakeknya. Lukas berjanji pada dirinya sendiri, ia akan lebih membahagiakan Tamara.