
Di sebuah bandara di negara seberang, Lukas baru saja turun dari pesawat. Di tempat para penumpang pesawat biasa di jemput, seorang gadis cantik sudah menunggu kedatangan Lukas.
Dia adalah Agnes, teman masa kecil Lukas. Mereka pernah bersekolah di sekolah dasar hingga sekolah menengah bersama.
Tak hanya sebagai teman masa kecil Lukas, agnes juga merupakan putri bungsu dari rekan bisnis Dominic. Jarak usia Agnes dengan kakaknya memang terpaut sangat jauh.
"Lukas!" Sapa Agnes begitu melihat sosok Lukas yang berjalan perlahan.
"Hai," sapa Lukas dengan senyum seadanya. Dirinya sedang kacau saat ini, ia tau keputusannya untuk meminta bantuan pada keluarga Agnes pasti mendapat tentangan keras dari Dominic.
"Aku sangat merindukanmu," Agnes memeluk Lukas seolah ia telah merindukan kekasihnya yang lama tak ia jumpai.
"Apa kabar?" Tanya Lukas dengan nada datar.
"Tentu saja aku sangat baik, oh iya... Maaf aku tak hadir di acara pernikahanmu. Ngomong-ngomong kamu tidak membawa istrimu juga kan?"
"Tidak," jawab Lukas singkat.
"Syukurlah... Kalau begitu, hari ini temani aku berbelanja baju. Lalu aku ingin nongkrong di cafe terkenal di kota ini, ah iya, aku juga ingin diner di rooftop di atas apartemenku," Agnes mengutarakan keinginannya dengan semangat menggebu-gebu.
"Nes, aku kesini bukan sedang berlibur. Aku..."
"Sssttt..." Agnes menutup mulut Lukas dengan jari telunjuknya. "Aku tau, tapi tolonglah... Kita ini sudah lama tak bertemu, dan aku sangat merindukanmu," rengek Agnes.
"Tapi..."
"Kamu ini seperti keluargaku saja, selalu berbicara tentang bisnis dan bisnis. Begini saja, kamu temani ku seharian ini maka akan ku kabulkan segala keinginanmu," Agnes memberikan tawaran pada Lukas.
Lukas hanya bisa menghela nafas, namun sepertinya tawarannya tak terlalu sulit. Jika hanya menemani Agnes seharian, Lukas merasa akan bisa menyanggupi keinginan teman masa kecilnya itu.
"Baiklah, aku kan menemanimu hingga jam delapan malam nanti. Setelah itu kau harus berjanji akan membantuku menyelesaikan masalahku," ucap Lukas.
"Baiklah," Agnes setuju. Ia tersenyum penuh arti, ada sesuatu yang ia rencanakan di dalam hatinya.
"Lalu kemana kita akan pergi sekarang?" Tanya Lukas.
"Kenapa kita tidak ke apartemenku dulu? Barang-barang mu ini tidak perlu dibawa-bawa kan?" Agnes menatap ke arah koper milik Lukas.
"Antar aku ke hotel terdekat saja," pinta Lukas.
__ADS_1
"Baiklah, tak masalah," Agnes dengan senang hati melangkahkan kaki sambil menggandeng mesra tangan Lukas.
Berkali-kali Lukas berusaha menarik tangannya dari dekapan Agnes, namun Agnes mendekapnya dengan erat sehingga Lukas menyerah dan membiarkan saja Agnes melakukan apa yang ia mau.
Di dalam mobil, Agnes tanpa malu bersandar di pundak Lukas. Padahal mereka tak hanya berdua di dalam mobil itu, ada supir pribadi Agnes yang sesekali memperhatikan dari balik kaca spion.
"Lukas, kenapa kamu menikah cepat sekali. Padahal dulu kamu tak pernah mau jika ku ajak pacaran, kalau tau begitu mending aku langsung mengajakmu menikah saja ya," ucap Agnes sambil menatap mesra ke arah Lukas.
"Aku tak menyukaimu, sekalipun kamu mengajak nikah aku tetap tak mau," jawab Lukas cuek.
"Kau masih saja seperti itu, aku jadi penasaran bagaimana wanita itu bisa menaklukan hatimu?"
"Kalau begitu kenapa kamu tidak datang di pesta pernikahanku?"
"Itu karena aku cemburu, aku tak pernah mendengat kabar darimu sejak lulus SMA, tapi kamu tau-tau mengirim surat undangan pernikahan. Tentu saja aku marah," gerutu Agnes.
"Kenapa harus marah?"
"Kamu ini bagaimana sih? Memang kamu tidak menyadari perasaanku selama ini padamu?"
"Tidak," jawab Lukas singkat.
"Hahhh..." Agnes mendesah kesal.
Tiba di hotel, Agnes langsung mendaftarkan atas namanya. Setelah mendapat kamar, dan menaruh barang-barang Lukas di dalam kamar, Agnes mengajak Lukas untuk pergi ke sebuah mall terbesar di negara itu.
Agnes berniat ingin memamerkan harta kekayaannya pada Lukas. Hal ini ia lakukan agar kelak jika Lukas menjadi suaminya nanti, Lukas tak perlu khawatir karena Agnes mampu untuk membiayai hidupnya sendiri dan tak akan bergantung pada Lukas.
Namun Lukas memandangnya lain, setiap kali Agnes memilih satu barang mahal, Lukas langsung membandingkannya dengan Tamara.
"Kamu berbelanja habisnya hampir seratus juta?" Bisik Lukas pada Agnes.
"Ia, memangnya kenapa? Apa kau baru tau kalau wanita berbelanja memang biasa segini?"
Lukas hanya mengangguk pelan. Ia ingat sekali, Tamara bisa membeli banyak baju, tas, sendal dan sepatu bahkan tak habis sampai sepuluh juta. Sementara Agnes hanya membeli beberapa barang saja sudah hampir habis seratus juta.
"Apa bedanya memang?" Gumam Lukas.
Puas berbelanja barang mahal, Agnes mengajak Lukas untuk makan siang di sebuah restoran dengan private room. Ada banyak hidangan mahal dan berkelas yang tersaji di sana.
__ADS_1
Namun entah mengapa, ia merasa tak nafsu makan saat itu. Lukas teringat pada Tamara, dan ia jadi rindu pada masakan istrinya itu.
"Kenapa diam saja?" Tanya Agnes yang melihat Lukas hanya memandangi makanannya saja.
"Tidak apa," Lukas memakan sedikit demi sedikit makanan yang tersedia, namun ia semakin merasa tak berselera.
"Tumben kamu makan sedikit begitu? Biasanya kamu bisa habis dua sampai tiga porsi," Agnes merasa heran dengan Lukas.
"Entahlah, bagiku masakannya tidak enak," ucap Lukas sambil meletakkan sendoknya.
"Oh ya? Bukankah kamu dulu suka masakan di tempat ini?"
"Entahlah, aku lupa," jawab Lukas singkat.
"Baiklah, kalau begitu kamu mau makan apa?"
Lukas nampak berpikir, dan dalam pikirannya itu berkali-kali bayangan masakan Tamara terus bermunculan di kepalanya. Lukas hanya bisa menghela nafas.
"Tidak ada, ini sudah cukup."
"Ayo sini biar aku suapi, aku yakin rasanya pasti kan berbeda," Agnes berpindah duduk di samping Lukas.
Sedangkan Lukas hanya diam saja memandangi Agnes yang menyodorkan sendok ke mulutnya.
"Ayo buka mulutmu..."
"Sudahlah, aku sedang tidak selera," Lukas mengambil sendok di tangan Agnes dan meletakkannya kembali ke atas piring.
Agnes sedikit kesal karena Lukas menolak bantuannya. Agnes pun memperlihatkan wajah murungnya.
Lukas seakan tak peduli, ia malah membuka ponselnya karena seharian ini tak ada pesan masuk dari Tamara.
"Itu istrimu?" Agnes melirik layar ponsel Lukas, ternyata Lukas baru saja mengganti gambar wallpaper nya dengan foto Tamara.
"Iya," jawab Lukas sambil tersenyum menatap foto Tamara.
"Cih, sama sekali tidak cantik... Apa dia sengaja memasang foto istrinya agar aku menyerah? Maaf saja, aku sudah menyukaimu sejak lama. Tentu saja aku tak akan menyerah dan semakin gencar mendekatimu," batin Agnes.
__ADS_1
"Lukas... Bagaimana kalau kita nonton film saja? Ada film romansa terbaru yang belum sempat aku tonton," ajak Agnes.
"Baiklah, ayo..." dengan sedikit malas, Lukas tetap menuruti kemauan Agnes.