
Malam yang sunyi
***********
Naraya terus berjalan tanpa tau arah tujuannya,dia bahkan dia tak tau dimana dia sekarang.dia hanya mengikuti langkah kakinya kemanapun dia melangkah
Dengan masih berurai air mata naraya duduk di sebuah bangku taman kayu
"Ibu,kenapa hidup ku begitu menyedihkan begini.ibu aku mau ikut dengan mu saja" Ucapnya sambil nengis menatap langit malam
"Ibuuuuuuuuuuuuu" Naraya teriak dengan suara yang sangat kencang,mungkin dengan begitu dia bisa meluapkan semua amarahnya
**Tanpa Naraya sadari ada sepasang yang memperhatikannya mulai dari tadi
Naraya menuju ke sebuah jembatan yang di aliri arus air yang cukup deras.dia naik ke antara tiang pembatas**
"Ibu tunggu aku" Ucapnya dan ingin melompat dan dengan sigap lelaki yang memperhatikannya mulai dari tadi menyelamatkan naraya dan menariknya naik ke atas
"Apa kau sudah gila?" ucapnya sambil melepas kan tubuh naraya dari pelukannya
"Apa urusanmu" Ucap naraya ketus
"Aku tidak punya urusan apa apa" ucap lelaki tersebut dan melangkah ingin meninggalkan naraya
"Kenapa kau menyelamatkanku,kenapa tak membiarkan ku mati saja" Ucap naraya sedikit berteriak karna lelaki tersebut sudah agak jauh dari dirinya..
Lelaki itu Menoleh ke belakang dan menghampirinya lagi
"Apa kau sudah gila?" ucap pria itu tidak mengerti.
"Yah,aku sudah cukup gila dengan hidupku saat ini" Naraya membayangkan perlakuan ayahnya yang serasa merobek robek kepercayaannya tentang ayahnya sendiri
"Mati bukan pilihan nona,kalau kau punya masalah.ajak otak mu yang kecil ini untuk berfikir" Ucap lelaki itu kesal dan mengetuk kening naraya dengan telunjuknya lumayan keras
"Hei,apa kau sudah gila.sakit tau" Naraya bergidik kesal merasa sakit di keningnya
"Kau bisa merasakan sakit rupanya.Itu belum seberapa dibandingkan kau mati sia sia bodoh" Ucapnya sambil berlalu meninggalkan naraya yang terpatung sangat bodoh di tempatnya berdiri tadi
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang lagi,naraya segera mengikuti langkah kaki laki laki tersebut
"Siapa namamu tuan" naraya bertanya sambil sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkahnya dengan laki laki tersebut karna laki laki itu berjalan seperti berlari
***Huuhhh jangan lari lari dong,capek tau ngejarnya
"Batman,kau?" Ucap** lelaki itu asal
"Hah? batman? namaku Naraya! " ucapnya
Naraya terus mengikuti lelaki yang bernama batman tersebut
"Hei men,pelan pelan jalannya.aku capek tau" Naraya yang sudah ngos ngosan pun berhenti
"Kau lemah sekali nona muda,untuk bunuh diri tadi kau sangat bertenaga'' Lelaki itu tersenyum sinis seperti menyindir naraya
"Itu beda tau.jalan dan melompat.jalan lebih capek tau " Ucap naraya terputus karna laki laki tersebut sudah menggendongnya
"Kau cerewet sekali nona" Ucapnya sambil menggendong naraya
naraya dan laki laki tersebut sudah berada di dalam mobil
HENING...
"Dimana rumahmu?" lelaki itu mulai bertanya untuk memecahkan keheningan
"Aku tidak punya rumah" jawab naraya malas dan enggan untuk memberitahu
"Kalau begitu,dimana rumah orang tuamu?" Tanyanya lagi
"Aku sudah tidak punya rumah,dan tidak punya orang tua mulai dari ayahku menamparku?" Suara naraya sudah bergetar menahan tangisnya
"Katakan saja,biar ku antarkan" Ucap lelaki itu tiba tiba dingin.dia tak suka ada wanita berkeliaran sendiiri di luar seperti ini
Naraya pun dengan terpaksa menunjukkan arah rumah orang tua nya dan lelaki itu pun mengantarkannya sampai di depan rumah naraya
"Turunlah" Ucap pria itu.
__ADS_1
" Tidak mau" naraya tidak beranjak sedikitpu. dari duduk nya.
lelaki itu memandang naraya dengab pandangan tak mengerti
"apa perlu aku mengantarmu sampai ke kamarmu,.memelukmu erat dan tak akan melepaskan mu?" Ucapnya sambil tersenyum nakal
"Tidak,tidak perlu.dasar mesum" Ucapnya sambil berlalu turun dari mobil pria tersebut
"Hati hati nona" ucap lelaki itu melambaikan tangan ke arah naraya
tetapi naraya tidak memperdulikan lambaian tangan pria tersebut dan langsung masuk kerumah.dia tidak memperdulikan ada dua pasang mata yang memperhatikan nya mulai dari tadi setelah masuk dari pintu utama
Ayahnya yang melihat putrinya pulang merasa senang karna sebenarnya dia juga khawatir terajadi sesuatu pada naraya
"Naraya" panggil ayahnya.
Naraya tak menjawab malah meninggalkan merdua dan masuk ke dalam kamarnya tersebut
Ibu tirinya sudah mengumpat kesal
"dasar anak yang tidak tau sopan santun" ucap ibunya kesal
"Sudahlah,dia sudah lelah.butuh istiraha" ucap ayahnya melerai
"Kau selalu begitu,membela dia walaupun berlaku tidak sopan.makanya sekarang menjadi anak yg sangat kurang ajar" Ucap Dina yang sudah emosi melihat kelakuan suami nya tersebut
"Biar bagaimanapun dia putriku dina" ucap handoko dengan lirih
"kau urus saja putrimu yang pembangkang itu sendiri" Ucap dina berlalu pergi ke kamar meninggalkan handoko
dan..
Prangggggggg.."Dina membanting pintu kamar dengan keras sampai menimbulkan suara berisik
Handoko hanya mengelus dada
"Dasar iblis sialan" gumam Naraya yang mendengar keributan tersebut dari dalam kamarnya
__ADS_1
****************
Bersambung*...