
Pukul sebelas malam, Lukas dan Olivia tiba di bandara. Erik yang sudah dihubungi oleh Olivia terlebih dahulu mengenai kedatangan mereka pun sudah tiba di bandara terlebih dahulu.
Melihat kedatangan Lukas dan Olivia, Erik segera menghampiri keduanya.
"Dimana istriku? Bagaimana keadaannya sekarang?" Lukas langsung bertanya dengan paniknya pada Erik, begitu Erik dekat dengan mereka.
Melihat ekspresi tuannya yang panik, Erik bingung harus menjawab apa?
Olivia yang tau bahwa saat ini Erik tengah bingung, segera memberi kode pada Erik agar ia menjawab bahwa nona baik-baik saja.
"Eh... Iya tuan, nona baik-baik saja," jawab Erik. Meski sebenarnya memang Tamara dalam kondisi baik-baik saja, bahkan sangat-sangat baik. Namun melihat sikap Lukas yang khawatir, membuat Erik bingung haruskah ia mengatakan yang sejujurnya?
"Kamu yakin Tamara baik-baik saja?" Lukas mengguncang tubuh Erik, meyakinkan sekali lagi apa benar Tamara baik-baik saja?
"I... Iya tuan muda, em, nona baik-baik saja..." jawab Erik dengan terbata-bata.
Lukas menghela nafas lega.
"Kalau begitu ayo cepat kita pulang!" Lukas berjalan mendahului, bergegas keluar dari bandara. Meski ia tak tau dimana Erik memarkirkan mobilnya.
Erik dan Olivia berjalan mengikuti di belakang Lukas.
"Kamu yakin nona baik-baik saja?" Tanya Olivia yang kini berjalan di samping Erik.
"Nona sangat baik-baik saja," jawab Erik yakin.
"Lalu, mengapa ekspresimu seperti itu?"
Erik menghela nafas panjang.
"Apa anda tau saat ini nona sedang apa?" Tanya Erik.
"Tidur?" Tebak Olivia.
__ADS_1
Erik kembali menghela nafas. "Nona sedang menonton drama di televisi. Nona bahkan tak beranjak dari depan televisi sejak pagi."
Mendengar jawaban Erik, tentu saja membuat Olivia mengernyitkan dahinya.
"Nona tak beranjak sama sekali?" Tanya Olivia meyakinkan.
"Nona hanya pergi ke kamar kecil, lalu kembali lagi menonton drama. Kali ini drama yang nona lihat adalah drama komedi. Apa anda tau, seharian ini nona terus tertawa terbahak-bahak karena drama itu," jawab Erik.
Olivia terdiam. "Nona sedang tidak baik-baik saja," gumamnya.
"Hei... Kalian berdua, kenapa jalannya lama sekali? Cepatlah sedikit!" Teriak Lukas yang sudah berada di pintu masuk bandara.
Sontak Olivia dan Erik pun berlari mengejar ketertinggalan mereka, menghampiri Lukas yang kesal karena melihat dua anak buahnya berjalan sangat lambat.
"Dimana kau memarkirkan mobilnya?" Tanya Lukas dengan kesal pada Erik.
"Tunggu di sini tuan muda," Erik bergegas menuju parkiran yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berada.
Meski tadi Erik sudah mengatakan bahwa Tamara baik-baik saja. Namun hati kecilnya tetap tak bisa mempercayai ucapan Erik begitu saja. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa istrinya itu benar baik-baik saja.
Tak lama, Erik datang mengendarai mobil dan berhenti tepat di depan mereka.
Lukas bergegas masuk, di susul oleh Olivia. Barang-barang bawaan mereka sudah dibawa lebih dahulu oleh Erik.
Ketika semuanya sudah masuk ke dalam mobil, Erik segera tancap gas. Ia tau, majikannya saat ini ingin ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Tiba di rumah, Lukas segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Tentu saja hal pertama yang ia cari adalah istrinya, Tamara.
"Sayang, dimana kamu?"
Tamara yang masih asik menonton drama, segera mematikan televisi begitu mendengar suara Lukas.
"Lukas?" Tamara bangun dari duduknya dan berlari menuju sumber suara.
__ADS_1
Keduanya bertemu di ruang tamu, Lukas segera menghampiri Tamara dan memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu, apa kamu baik-baik saja?" Bisik Lukas di telinga Tamara.
Tamara tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan di dalam dekapan Lukas.
Lukas melepas pelukan, ia memandangi wajah istrinya. Memastikan sekali lagi bahwa benar Tamara baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja sayang," ucap Tamara setengah berbisik.
"Tapi... Matamu, terlihat lelah sayang," Lukas khawatir melihat ekspresi wajah Tamara yang terlihat lemas.
Tamara tersenyum, "itu karena aku belum tidur sejak semalam," jawab Tamara.
"Tidak tidur? Ada apa? Kamu pasti gelisah memikirkan om mu itu," Lukas menatap Tamara dengan iba.
"Tidak sayang, itu karena aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu," Tamara berusaha menutupi rasa gelisah nya.
"Kamu yakin?" Lukas memandang wajah istrinya dengan seksama.
"Iya sayang, ayo... Aku sudah sangat merindukanmu," Tamara berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia menarik tangan Lukas dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau apa?" Lukas terlihat bingung.
"Kamu jangan pura-pura tidak tau," goda Tamara.
Lukas terdiam sejenak, ia lalu tersenyum penuh arti. Dan akhirnya ia pasrah saja mengikuti kemana Tamara membawanya.
Tamara mengajak Lukas untuk mandi bersama, setelah itu keduanya melanjutkan aktivitas malam mereka. Melepaskan rindu yang telah satu minggu ini mereka pendam.
Tamara sengaja tak mau membahas tentang masalahnya dulu pada Lukas. Ia tau Lukas lelah, dan Tamara ingin agar Lukas istirahat terlebih dahulu.
Besok barulah ia akan membicarakan masalahnya dengan Lukas.
__ADS_1