
Tamara merasa senang sekali karena ia bisa bertemu dengan pria tampan yang membantunya saat itu.
Saat itu, hubungannya dan Lukas masih sangatlah kaku. Lukas selalu saja marah-marah dan bersikap kasar padanya.
Berkat bantuan Jake saat itu, Tamara merasa sangat senang sekali. Ditambah dengan wajah tampan Jake, tentu Tamara tak akan pernah bisa melupakannya.
Perasaannya semakin senang, bukan hanya karena ia bertemu kembali dengan pria tampan yang membantunya. Tapi juga karena pria tampan ini adalah sepupunya.
"Wah, aku benar-benar tak menyangka ternyata kita adalah saudara," ucap Tamara senang.
"Jadi, kini kamu sudah mengakui ku sebagai saudaramu?"
"Hehe, tentu saja aku harus menyelidiki lebih lanjut lagi. Tapi setidaknya, aku percaya kalau kamu orang baik."
"Memang sebelumnya kamu tak percaya?"
"Iya," Tamara mengangguk polos.
"Hahaha..." Jake tertawa lepas. Ia tak menyangka wajah tampannya ini malah dikira penjahat oleh sepupunya sendiri.
"Jadi, kapan orang tua kalian menikah?" Tanya Tamara
"Saat umurku sebelas tahun," jawab Jake.
Tamara mengangguk, saat ini jarak usianya dan Jake memang terpaut tiga tahun. Jika saat itu Jake berusia sebelas tahun, maka usia Tamara adalah delapan tahun. Dan itulah saat Tamara kehilangan kedua orang tuanya, dan saat itu juga Richard pergi dari kehidupan Adrian dan Tamara.
"Kamu yakin, om Richard itu ayah kandungmu?"
Jake terdiam, ia memang tak punya bukti jika Richard adalah ayah kandungnya. Selama ini ia hanya mempercayai bahwa Richard memang ayah kandungnya seperti yang sering dikatakan oleh ibunya.
"Apa sebelum menikah dengan ibumu, Om Richard sering datang mengunjungimu?"
Jake menggelengkan kepalanya. Ia ingat betul, dulu saat kecil Jake dan ibunya hanya tinggal berdua di desa terpencil.
"Apa kalian pernah tes DNA?"
"Tidak," jawab Jake.
Tamara mengangguk-angguk, dalam hatinya terus terpikirkan bagaimana jika Richard bukan ayah kandung Jake dan hanya mengaku sebagai ayahnya.
"Ah, apa peduliku?" Tamara menggelengkan kepalanya.
Saat ini, yang harus Tamara pikirkan adalah tujuan Richard mencarinya.
"Baiklah, untuk saat ini aku akan percaya padamu. Tapi ingat janjimu ya, jangan beri tau siapapun tentang pertemuan kita hari ini ya!" Ucap Tamara.
"Iya, tenang saja. Tapi aku boleh minta nomer ponselmu?"
"Sebutkan saja berapa nomer mu. Biar nanti aku yang putuskan, akan memberikannya padamu atau tidak?"
__ADS_1
Jake tersenyum. Tak lama ia menyebutkan nomor ponselnya, Tamara pun menyimpan nomor itu dengan nama 'Sepupu?'.
Tanpa terasa, mereka akhirnya tiba di kompleks perumahan tempat Tamara tinggal. Namun Tamara hanya meminta Jake untuk menurunkannya di gerbang masuk perumahan.
"Loh, kenapa gak sekalian sampai rumah?" Tanya Jake.
"Hehe, aku lupa ada yang mau aku beli di supermarket depan," jawab Tamara.
"Kalau begitu biar aku antar, kebetulan aku senggang hari ini," Jake menawarkan diri untuk menemani Tamara.
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok," Tamara menolak.
"Ayolah, aku khawatir jika terjadi sesuatu padamu," Jake memaksa ingin mengantar Tamara.
"Aku benar tidak apa-apa, aku sudah terbiasa belanja di supermarket sendiri."
Tamara sebenarnya tak ada niatan untuk pergi ke supermarket, ia hanya ingin menghindari Jake agar tidak mengantar langsung ke depan rumahnya. Tamara masih belum percaya Jake sepenuhnya.
"Ayolah, kebetulan aku juga ada yang mau dibeli di sana. Ku rasa aku membutuhkan bantuanmu," bujuk Jake sekali lagi.
Tamara menghela nafas panjang, sulit sekali rasanya menolak permintaan Jake. Akhirnya Tamara menuruti keinginan Jake untuk mengantarnya ke supermarket.
Di perjalanan, Tamara terus berpikir apa yang akan dia beli kali ini? Sebab beberapa hari yang lalu, ia dan Lukas baru saja membeli kebutuhan selama satu minggu.
"Ah, sudahlah... Ku beli apa saja yang mau ku beli," batin Tamara.
"Kamu mau beli apa?" Tanya Tamara lebih dulu. Ia berniat ingin mengantar Jake berbelanja kebutuhannya dulu baru ia akan membeli beberapa barang seadanya.
"Mmm... Bisakah kamu bantu aku memilihkan sesuatu yang cocok untuk seorang wanita muda?"
"Wanita muda? Apa itu pacarmu?"
"Bukan, tapi dia orang yang spesial bagiku kini," jawab Jake dengan tatapan penuh arti pada Tamara.
"Mmm... Apa ya? Menurutmu apa yang dia suka?"
"Aku tak tau..."
"Wah, kalau begitu akan sulit sekali."
"Begini saja, pilih sesuatu yang kira-kira sudah pasti akan disukai wanita," usul Jake.
Tamara berpikir sejenak, ia sendiri tak tau harus memilih apa di dalam supermarket ini? Tamara jarang tau banyak mengenai hal-hal yang akan disukai kebanyakan wanita.
Di tengah kebingungannya itu, ponsel Tamara berdering. Ternyata Lukas yang meneleponnya.
"Ini suamiku, aku permisi angkat telepon sebentar ya," ucap Tamara.
Jake hanya mengangguk mempersilahkan Tamara menerima panggilan dari suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang?" Sapa Tamara setelah menerima panggilan telepon dari Lukas.
Lukas terdiam sejenak, ia mendengar suara bising dari tempat Tamara berada.
"Kamu dimana?" Tanya Lukas.
"Aku? Mmm... Di supermarket," jawab Tamara. Ia ragu apakah harus jujur pada Lukas jika ia sedang bersama Jake saat ini atau tidak.
"Ke supermarket lagi?"
"Iya, ada yang mau aku beli," jawaban Tamara terdengar dibuat-buat.
"Yakin kamu di supermarket?"
"Iya sayang, ada apa?"
"Aku dalam perjalanan pulang, tadinya aku mau tanya kamu mau nitip apa? Tapi berhubung kamu ada di supermarket, jadi biar aku ke sana saja."
"Ah, iya... Kalau begitu biar aku tunggu," Tamara sedikit bingung karena Lukas akan datang ke tempat ini. Sementara ia sendiri tak tau bagaimana menceritakan tentang Jake pada Lukas.
"Ya sudah, kalau begitu tunggu aku ya. Nikmati saja waktu belanjamu," Lukas menutup panggilan teleponnya.
Tamara semakin bingung, haruskah ia meminta Jake untuk pergi atau haruskah ia memperkenalkan Jake pada Lukas. Tapi, apakah Lukas akan percaya jika Jake adalah sepupunya?
Melihat Tamara yang kebingungan, Jake langsung menghampiri Tamara.
"Ada apa?"
"Suamiku ingin menyusul ku ke sini."
"Oh ya? Baguslah," ucap Jake santai.
"Tapi..."
"Kenapa? Kamu takut dia curiga padaku? Haruskah aku memperkenalkan diri padanya atau haruskah aku pergi sekarang juga?"
Jake seakan tau kegalauan hati Tamara.
"Tamara, aku inu sepupumu, bukan selingkuhanmu. Kenalkan saja aku pada suamimu, kenapa kamu mesti bingung?"
"Kamu benar, kita kan hanya sepupu, tapi kenapa aku merasa sedang berselingkuh ya? Hahaha..." Tamara menertawakan kebodohannya sendiri.
Jake tersenyum ringan, senyum nya sangat manis. Namun sayang, Tamara tak melihatnya.
Mungkin karena sebelumnya Lukas pernah cemburu pada Jake saat Jake menolong Tamara di bandara. Sehingga Tamara khawatir, Lukas akan cemburu lagi saat melihat Tamara sedang bersama Jake saat ini.
"Apa Lukas ingat wajahnya ya? Ah, semoga saja saat itu Lukas tak melihat wajah Jake," batin Tamara.
Tamara lalu melanjutkan memilih barang untuk Jake, ia semakin tak tau harus membeli apa saat ini. Karena ia sangat khawatir dengan reaksi Lukas saat tau ia sedang bersama dengan orang yang pernah Lukas cemburui.
__ADS_1