
Sementara Richard di periksa oleh dokter, pak Nuh menjelaskan pada Sandra dan Jake apa yang telah terjadi.
"Entah bagaimana, tuan Richard masuk ke dalam jurang. Beruntung kami masih bisa menyelamatkannya," ucap pak Nuh.
"Kenapa repot-repot menyelamatkan ayahku? Apa kalian tidak takut jika ayahku akan kembali menculik Tamara?" Tanya Jake.
Sandra terkejut dengan apa yang Jake katakan.
"Jake, jaga ucapanmu," bisik Sandra.
"Bu, berhentilah menutup mata. Ayah itu orang yang sangat berbahaya. Jujur saja, bagi kita ayah bagaikan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu," Jake mengingatkan Sandra.
"Tapi, bagaimana pun juga dia adalah ayahmu. Apa kau tak ingat apa yang sudah ia berikan selama ini padamu?"
"Tetap saja bu, tidak seharusnya ayah melakukan itu kepada keluarganya sendiri. Apa ibu tidak takut? Suatu saat mungkin kita juga akan diperlakukan seperti itu oleh ayah."
Sandra terdiam, ia tak bisa menyangkal ucapan Jake.
Selama ini Sandra hanya menutup mata, Ia sama sekali tak peduli dengan apa yang Richard lakukan di luar sana. Selama Richard baik dan menunjukkan rasa sayangnya kepada ia dan Jake, baginya itu sudah cukup.
"Bu..." Jake menyadarkan Sandra dari lamunannya.
"Hmm?" Sandra menatap lembut ke arah Jake.
"Aku tau ibu mungkin tidak terlalu menyayangi ayah. Selama ini ibu hanya bertahan hidup dengan ayah karena ibu tak ingin aku tak memiliki orang tua yang utuh. Tapi bu, kita tidak bisa terus membiarkan ayah seperti ini."
"Maksudmu?" Sandra tak mengerti maksdu Jake.
"Kita harus melaporkan ayah ke polisi," jawab Jake.
"Kenapa?"
"Ibu harus percaya, ayahlah yang melakukan ini padaku. Karena aku sudah membocorkan rencananya pada Tamara."
"Kenapa kau membocorkan rencana ayahmu?"
"Bu!" Jake membentak Sandra. Ia tak percaya ibunya justru malah menyalahkannya karena tak mendukung Richard.
Bentakan Jake membuat orang-orang yang berada di ruang IGD jadi menatap ke arahnya. Termasuk Richard yang sedang di periksa oleh dokter.
Richard melihat dari kejauhan istri dan anaknya seperti sedang bertengkar.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka bertengkar? Apa ini karena aku? Apa sebenarnya yang telah aku lakukan hingga membuat istri dan anakku bertengkar?" Berbagai pertanyaan terlintas dalam kepala Richard. Hingga membuat kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit.
"Ssshhh..." Richard mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ada apa pak?" Tanya dokter yang sedang memeriksanya.
Ricahrd tak menjawab, karena sakit yang luar biasa yang ia rasakan. Richard pun akhirnya jatuh pingsan.
Tim medis pun bergerak cepat untuk membantu Richard berbaring di ranjang yang masih kosong. Setelah Richard dibaringkan di ranjang, tim medis pun segera membawanya ke ruang terpisah untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1
Jake dan Sandra yang melihat Richard dibawa oleh petugas medis pun merasa khawatir.
"Jake, tunggulah di sini. Ibu akan ikut ayahmu dulu," ucap Sandra.
Jake hanya membalasnya dengan anggukan.
Tak hanya Sandra yang mengikuti para tim medis membawa Richard. Pak Nuh juga dengan gesit menikkuti langkah kaki para petugas medis yang berjalan dengan sangat cepat.
Akhirnya tibalah mereka di sebuah ruangan. Sayangnya, pak Nuh dan Sandra tidak diperbolehkan masuk. Mereka akhirnya terpaksa menunggu di luar ruangan.
"Apa suamiku akan dioperasi?" Tanya Sandra memecah keheningan setelah sekitar lima belas menit mereka menunggu di depan ruangan.
"Tidak mungkin jika melakukan tindakan tanpa persetujuan. Mereka mungkin hanya memeriksa keadaan suami anda saja," ucap pak Nuh menenangkan.
"Tapi mengapa mereka harus membawanya ke sini? Ruangan apa itu?"
Belum sempat pak Nuh menjawab pertanyaan Sandra, salah seorang petugas medis ada yang keluar ruangan dengan tergesa-gesa. Perawat itu membawa beberapa dokumen untuk ditandatangani oleh Sandra.
"Apa yang terjadi pada suami saya?" Tanya Sandra pada si petugas medis.
"Ada pendarahan di kepala suami anda dan itu cukup parah, secepatnya harus segera di operasi," jawab petugas medis.
"Apa?" Sandra bagaikan tersambar petir kala itu. Baru saja hatinya terasa sedikit tenang karena Jake baru sadar, namun kini malah Richard harus dioperasi.
"Anda harus segera menandatangani ini nyonya, agar kami bisa segera menjalankan operasi sekarang," pinta petugas medis.
Sandra yang bingung pun segera menandatangani surat persetujuan operasi itu.
"Bagaimana ini?" Sandra *******-***** tangannya. Ia merasa kebingungan, seorang diri menghadapi musibah yang sedang menimpa anak dan suaminya.
"Tenanglah nyonya, sekarang yang bisa anda lakukan hanyalah berdoa," ucap pak Nuh menenangkan Sandra.
Sementara itu di IGD, Jake yang ditinggal sendirian pun kini dihampiri oleh Erik.
"Hei, kau ingat aku?" Tanya Erik.
"Tentu saja, kau itu pengawalnya Tamara," jawab Jake.
"Bagaimana kondisimu? Maaf aku meninggalkanmu di sana sendirian," Erik merasa tak enak pada Jake.
"Tak apa, kau hanya menjalankan perintah," Jake mengerti.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Apa aku terlihat baik-baik saja?"
Erik tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kau senang melihat kondisiku seperti ini?" Jake memicingkan kedua matanya.
"Ah, bukan begitu. Maaf, aku hanya menertawakan pertanyaan bodohku saja," jawab Erik.
__ADS_1
Jake mengangguk.
"Apa sebenarnya yang terjadi padamu? Bagaimana bisa kau babak belur begini?"
"Kau bisa menebaknya kan?"
"Ayahmu yang melakukannya?"
Jake mengangguk.
"Tega sekali dia," Erik merasa iba pada Jake.
Jake menyeringai. Ia pun tak percaya, hanya dalam hitungan bulan saja sikap ayahnya berubah drastis.
"Ini semua bermula karena berita meninggalnya kakek," ucap Jake.
"Padahal ayahmu sudah kaya, kenapa masih harus meminta jatah warisan dari kakekmu? Lagi pula, kakekmu bukannya sudah tak punya apa-apa lagi?" Erik tak paham dengan jalan pikir Richard.
Jangankan Erik, Jake yang anaknya pun tak paham.
"Entahlah, aku tak menyangka bahwa harta bisa mengubah semuanya. Bahkan ia tega menyakiti anaknya sendiri. Padahal, aku hanya ingin menyadarkan ayahku agar tidak berbuat terlalu jauh." Jake mengeluarkan keluh kesahnya pada Erik.
"Karena itukah kau ingin melaporkannya ke polisi?"
Jake mengangguk.
"Aku tak mau ayahku semakin menjadi-jadi hanya karena dendam masa lalu. Lagi pula, tak seharusnya yah melakukan hal itu kan?" Tanya Jake pada Erik. Seolah ia ingin mendapat dukungan atas apa yang dilakukannya adalah benar.
"Kau mau ku bantu?" Erik menawarkan diri.
"Kau ingin membantuku?" Jake malah balik bertanya.
Erik mengangguk yakin.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jake.
Erik membisikkan sesuatu di telinga Jake, dan Jake pun tampak sangat serius mendengarkan apa yang disampaikan oleh Erik. Sebuah rencana yang harus mereka kerjakan selagi Richard dan Sandra berada di rumah sakit.
"Apa kau bisa melakukannya dengan kondisi tubuh seperti ini?" Tanya Erik sambil memperhatikan tubuh Jake.
"Akan ku usahakan," jawab Jake.
"Haruskah aku ikut denganmu?" Erik nampak ragu.
Jake berpikir sejenak. Dan akhirnya ia pun mengangguk setuju.
"Lalu kapan kita akan melakukannya?" Jake berbisik.
"Subuh ini, aku akan meminta tuan muda untuk segera datang ke rumah sakit," Erik balas berbisik.
Keduanya pun sepakat untuk mulai menjalankan rencana mereka saat ini. Namun mereka harus menunggu kedatangan Lukas karena tak mungkin meninggalkan Tamara seorang diri.
__ADS_1