Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 57


__ADS_3

Lukas kembali ke kamar dan melihat Tamara ternyata sudah selesai mandi.


"Sudah selesai? Ini, pakailah. Ini bukan punya mamah, mamah bilang kalau mamah memang sengaja membelikan ini untukmu tapi belum sempat memberikannya padamu," ucap Lukas.


"Oh ya? Terima kasih," Tamara merasa senang. Ternyata ia mendapatkan ibu mertua yang sangat baik dan perhatian padanya.


"Sekarang giliran aku yang mandi, kamu jangan pergi kemana-mana dulu ya. Tunggu sampai aku selesai mandi," pinta Lukas.


"Iya," jawab Tamara singkat.


Setelah menitip pesan pada Tamara, Lukas pun bergegas mandi. Hari ini ia berniat mengajak Tamara untuk berjalan-jalan ke taman hiburan.


Entah mengapa, rasanya Lukas ingin sekali mengajak Tamara ke taman hiburan yang biasa ia datangi saat remaja dulu.


Selesai mandi, Lukas dikejutkan dengan pemandangan di hadapannya. Ternyata pakaian yang diberikan Vanesa itu adalah pakaian yang sangat seksi.


"Ini baju yang mamah kasih?" Tanya Lukas. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya, terlalu transparan ya?" Tamara sendiri merasa tidak begitu nyaman memakai baju pemberian Vanesa.


Pakaian yang diberikan bukanlah pakaian minim, hanya saja warnanya putih dan sedikit menerawang. Sehingga pakaian dalam Tamara yang berwarna merah bisa terlihat dengan jelas.


Bagian bawahnya, adalah rok yang panjangnya selutut. Tidak terlalu pendek dan Lukas pun masih bisa mentoleransi nya.


Namun bagian atasnya terlalu menerawang, kemeja putih pendek dengan kancing bagian atas juga yang terlalu rendah. Sehingga membuat belahan dada Tamara terlihat jelas.


"Tunggu, dari pada pakai kemeja ini. Lebih baik pakai kaos ku saja, mau?"


Tamara mengangguk.


Lukas pun mencari kaos yang di rasa muat untuk Tamara. Setelah menemukannya, ia pun memberikannya pada Tamara.


"Ini, warnanya hitam jadi pakaian dalam mu tak akan terlihat," ucap Lukas.


"Terima kasih," Tamara pun segera mengganti bajunya dengan kaos yang diberikan Lukas.


"Kamu gak suka kalau aku pakai baju seksi?"


"Kalau cuma di rumah saja ya tidak apa-apa, kalau keluar..."


"Memangnya kita mau keluar?"


"Iya, ayo kita taman hiburan," ajak Lukas.


"Taman hiburan?"

__ADS_1


"Iya, aku sudah lama tak ke sana. Terakhir saat kelulusan SMA, kamu mau kan aku ajak ke sana? Soalnya lusa aku sudah harus bekerja."


"Tentu saja mau, aku belum pernah ke taman hiburan," Tamara sangat senang karena memang belum pernah pergi ke taman hiburan.


Melihat Tamara yang kegirangan karena akan di ajak ke taman hiburan, Lukas jadi semakin bersemangat.


"Kalau gitu, ayo kita berangkat sekarang."


"Tapi..."


"Kenapa? Kamu masih sakit?"


"Aku mau ketemu mamah dulu, ini oleh-oleh buat mamah dan papah kan belum di kasih," ucap Tamara.


"Ya sudah, kita sekalian pamit saja."


Tamara pun mengeluarkan oleh-oleh yang sudah ia siapkan untuk mertuanya.


"Lalu ini yang untuk kak Oliv?"


"Taruh situ saja, nanti biar ku suruh Olivia ambil sendiri."


"Oke," Tamara menurut.


"Mamah..." Lukas langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada apa sayang? Loh kok kalian sudah rapih, mau kemana? Tapi... Ini kok Tamara gak pakai baju dari mamah?"


"Terlalu seksi mah, lain kali jangan beli yang kaya gitu lagi ya," pinta Lukas.


"Hmmm... Kalau kamu bilang begitu, mamah malah mau beliin yang lebih seksi," goda Vanesa.


"Kalau begitu, Tamara gak akan aku bolehin keluar rumah," balas Lukas dengan kesal.


"Duh, iya deh yang pengantin baru. Jangan over protect, nanti Tamara jadi jenuh sama kamu," nasihat Vanesa.


"Aku malah seneng kok mah, itu artinya Lukas sayang sama aku," Tamara tersipu malu, ia tak menyangka Lukas segitu perhatian pada dirinya.


Awalnya ia kira Lukas tak akan peduli sekalipun Tamara memakai baju yang sangat seksi. Namun melihatnya jelas-jelas menentang dan tidak menyukai pakaian seksi yang akan dibelikan Vanesa untuknya, tentu saja itu adalah bukti bahwa Lukas peduli padanya.


Lukas hanya terdiam mendengar perkataan Tamara. Ia sendiri juga tak tau kenapa dirinya merasa kesal saat tau Vanesa akan membelikan pakaian yang lebih seksi lagi. Lukas takut, akan ada banyak pria yang menatap tubuh putih mulus milik Tamara.


"Jadi, kalian mau kemana? Belum juga ngobrol sama mamah udah mau pergi aja," gerutu Vanesa.


"Lusa akan aku sudah kerja mah, sekarang aku mau ajak Tamara ke taman hiburan. Tamara bilang kalau dia belum pernah ke sana, mamah ngobrolnya lain kali aja ya," jawab Lukas.

__ADS_1


"Oh gitu, ya sudahlah. Kalian hati-hati ya," pesan Vanesa.


"Iya mah," jawab keduanya kompak.


"Oh iya mah, ini aku bawakan sedikit oleh-oleh untuk mamah dan papah," ucap Tamara seraya memberikan oleh-oleh untuk Vanesa dan Leonard.


"Ya ampun, terima kasih sayang. Menantu mamah ini bukan cuma cantik, tapi juga baik. Tuh kan Lukas, mamah bilang apa. Tamara ini sudah pasti akan jadi menantu idaman, tentu saja mamah menyetujui perjodohan kamu sama dia waktu itu. Mamah gak rela, kalau sampai menantu idaman ini jatuh ke tangan mertua yang salah."


"Iya mah iya, mamah memang benar," Lukas tersenyum sambil menatap Tamara.


Yang Tamara lihat, tatapan mata Lukas ini bukan akting. Tapi tulus dari dalam hatinya.


Meski begitu, Tamara tak mau terlalu berharap lebih. Ia takut hatinya akan terluka suatu saat nanti.


"Kalau begitu kita pergi dulu ya mah," Lukas dan Tamara pamit pada Vanesa.


"Iya sayang, kalian hati-hati ya. Makasih loh buat oleh-olehnya," Vanesa memeluk Lukas dan Tamara secara bergantian.


Setelah berpamitan dengan Vanesa, Lukas dan Tamara pun pergi ke halaman belakang tempat Dominic biasa menghabiskan waktu sambil membaca buku.


"Kek, kami pergi dulu ya," ucap Lukas.


"Kalian sudah mau pulang saja, padahal di sini juga cuma diam di kamar saja. Kalian pikir ini hotel?" Sindir Dominic.


"Hehe, maaf kek. Lain kali kita pasti akan ngobrol bareng lagi," Tamara merasa bersalah karena kedatangannya ke rumah keluarga Lukas hanya ia habiskan di dalam kamar saja.


"Janji ya," Dominic ingin Tamara berjanji padanya.


"Iya kek, janji!"


Lukas dan Tamara pun akhirnya pergi meninggalkan rumah masa kecil Lukas yang sangat megah itu.


"Kamu sudah siap?" Tanya Lukas.


"Siap dong," Tamara benar-benar tak sabar ingin segera menikmati permainan di taman hiburan.


"Ayo berangkat!"


"Ayo!"


Lukas melajukan mobilnya dengan cepat. Ia juga tak sabar ingin segera sampai, karena Lukas sendiri sudah lama tak bermain di taman hiburan.


Beruntungnya mereka karena hari itu taman hiburan sedang tidak terlalu banyak pengunjung, sehingga mereka bisa bermain dengan leluasa.


Setelah membeli tiket, Lukas menggandeng tangan Tamara. Keduanya berjalan dengan hati yang riang saat memasuki kawasan taman hiburan.

__ADS_1


__ADS_2