Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 60


__ADS_3

Niat hati ingin menghilangkan rasa lelah, namun yang ada malah semakin lelah. Setelah mereka berdua menghabiskan waktu bermandikan peluh, Lukas dan Tamara malah tertidur pulas hingga larut malam.


Tamara yang bangun lebih dulu tentu saja terkejut melihat hari yang mulai gelap.


"Lukas..." Tamara mencoba membangunkan Lukas.


"Mmm..."


"Lukas, kita jadi pulang gak? Ini sudah malam loh," Tamara mengguncang-guncang tubuh Lukas.


Namun bukannya bangun, Lukas malah menarik tubuh Tamara ke dalam pelukannya.


"Lukas... Kamu bilang besok kamu udah mulai kerja," Tamara masih belum menyerah untuk membangunkan Lukas.


"Mmm... Aku masih ngantuk," jawab Lukas dengan suara berat.


"Tadi bilangnya biar energinya nambah, tapi kok malah energinya habis?" Gerutu Tamara.


Lukas tak menanggapi, ia masih diam dan kembali terlelap dalam tidurnya.


Tamara melihat wajah Lukas yang memang terlihat lelah, tentu saja merasa tak tega jika membiarkan Lukas harus mengemudi dimalam hari.


"Ya sudah, kalau gitu kita berangkat pagi-pagi sekali ya," gumam Tamara.


Tamara pun ikutan terlelap dalam pelukan Lukas.


Selama beberapa hari ini Tamara merasa sangat senang, karena ia selalu tertidur di dalam pelukan Lukas.


Pagi hari pun tiba, ponsel Lukas berdering sangat kencang.


Lukas meraba meja di samping tempat tidur, dan tak lama ia menemukan ponselnya ada di sana lalu mengangkat panggilan masuk yang entah dari siapa itu?


"Mmm..." Ucap Lukas saat ia sudah meletakkan ponselnya di samping telinga.


"Tuan muda, anda baru bangun?" Terdengar suara Olivia di seberang sana.


"Mmm..."


"Tuan muda, hari ini anda sudah mulai bekerja. Saya harus jemput tuan muda dimana?"


"Olivia, aku minta cuti sehari lagi. Badanku terasa kurang sehat," ucap Lukas dengan suara sedikit serak.


Mendengar suara Lukas yang tampaknya tidak baik-baik saja, tentu membuat Olivia merasa panik.


"Tuan muda, anda baik-baik saja?"


"Aku hanya butuh istirahat satu hari lagi, tolong handle pekerjaan hari ini ya," pinta Lukas.


"Baiklah tuan muda, apa perlu ku bawakan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak," jawab Lukas cepat.


"Lalu bagaimana dengan nona Tamara, apa nona baik-baik saja?"


"Mmm... Dia masih tidur, dia juga pasti lelah."


Olivia terdiam.


"Sudah ya, aku mau tidur lagi," Lukas pun mematikan teleponnya.


"Siapa?" Tanya Tamara yang ternyata sudah bangun saat mendengar ponsel Lukas berdering.


"Olivia, aku bilang aku ijin saru hari lagi," jawab Lukas.


"Apa kamu benar-benar sakit?" Tamara mengecek dahi Lukas dengan menempelkan punggung tangannya.


Dan memang badan Lukas terasa sedikit demam.


"Badan kamu panas," Tamara jadi semakin khawatir.


Lukas diam saja, ia menatap Tamara dengan tatapan yang sayu.


"Ya sudah, kamu tidur saja dulu ya. Aku mau cari sarapan dan beli obat buat kamu," Tamara segera turun dari tempat tidur. Ia berniat ingin mandi terlebih dahulu.


Lukas tak menjawab, ia hanya memperhatikan gerak-gerik Tamara dari atas tempat tidur.


Tamara mandi dengan cepat, ia tak mau Lukas menunggunya terlalu lama.


"Lukas, aku tak punya uang cash. Apa kamu punya?"


"Bawa saja dompetku," suara Lukas terdengar sangat lemah.


"Baiklah, tunggu sebentar ya. Aku tak akan lama," sebelum pergi Tamara sempatkan untuk mengecek tubuh Lukas lagi.


Namun ketika tangannya mendekat ke dahi Lukas, Lukas dengan cepat menarik tangan Tamara.


"Jangan lama-lama," bisik Lukas.


"Iya," jawab Tamara sambil tersenyum manis.


Lukas akhirnya melepaskan genggaman tangannya, ia pun memejamkan mata. Memilih untuk kembali tidur sambil menunggu Tamara.


Melihat Lukas yang kembali tidur, Tamara bergegas untuk pergi. Meski ia tak tau harus kemana, karena memang tempat itu sangat asing baginya.


Tamara bertanya kepada penjaga penginapan tempat ia bisa membeli bubur ayam dan juga obat-obatan.


Setelah mendapat petunjuk dari penjaga penginapan, Tamara bergegas menuju tempat yang dimaksud.


Untung saja letak tukang bubur dan apotik tidak begitu jauh dari penginapan. Sehingga Tamara tak membutuhkan waktu lama untuk membeli semua yang ia butuhkan.

__ADS_1


Kembali ke penginapan, Tamara melihat Lukas yang masih tertidur lelap. Ia pun meminta teh hangat kepada pelayan untuk dibawa ke kamarnya.


Sambil menunggu, Tamara menyiapkan sarapan untuk Lukas terlebih dahulu. Setelah semuanya siap, barulah Tamara membangunkan Lukas.


"Lukas... Ayo sarapan dulu," Tamara membangunkan Lukas dengan suara yang lembut.


Lukas mulai membuka matanya, ia merasa badannya semakin panas.


"Makan dulu ya, habis itu minum obat," bujuk Tamara.


Lukas pun menurut, ia terduduk masih di atas ranjang. Sementara Tamara duduk di sampingnya. Perlahan Tamara menyuapi Lukas sedikit demi sedikit bubur yang sudah mulai dingin.


Lukas makan perlahan tanpa bicara apapun, ia terus menatap Tamara yang memperlakukannya dengan sangat baik. Lukas jadi teringat Vanesa, ibunya juga akan memperlakukan ia seperti ini jika ia sedang sakit.


Namun bedanya, Vanesa akan mengoceh sepanjang waktu. Meminta Lukas istirahatlah, meminta Lukas minum obat lah, melarang ini dan itu selama sakit. Membuat Lukas semakin pusing dibuatnya.


Oleh karena itu, jika ia merasa sakit Lukas tak akan bilang-bilang kepada siapapun. Ia lebih memilih menahannya, atau jika sudah tidak kuat Lukas akan berkata pada Olivia. Itupun hanya agar ia bisa istirahat sejenak dari setumpuk pekerjaan yang menantinya.


Namun berbeda kali ini, Tamara tak mengoceh seperti Vanesa. Dari wajahnya sudah terlihat jika Tamara memang khawatir. Namun Tamara tak mengatakan apapun, ia hanya menyuapi Lukas dengan sabar dan telaten.


Hingga tak terasa, bubur sudah habis tak bersisa. Tamara mengambil teh hangat yang tadi diberikan oleh pelayan.


"Tunggu beberapa menit, baru minum obat ya," ucap Tamara.


Lukas mengangguk, ia masih terus menatap Tamara yang masih setia duduk di sampingnya.


"Kamu gak makan?"


"Nanti saja kalau kamu sudah minum obat," jawab Tamara.


"Makanlah dulu, aku takut malah nanti kamu yang sakit," ucap Lukas dengan suara yang lemah.


Tamara tersenyum, ia pun beranjak mengambil sarapannya yang tadi sudah ia beli. Satu porsi bubur ayam, sama seperti sarapan Lukas.


Tamara makan di kursi yang bersebrangan dengan tempat tidur dimana Lukas berada. Tamara makan dengan cepat agar Lukas bisa segera meminum obatnya.


"Pelan-pelan saja makannya," Lukas masih terus memperhatikan Tamara.


Tamara tak menjawab, ia menuruti perkataan Lukas dan memperlambat makannya.


Lukas tersenyum melihat Tamara yang menurut padanya.


"Maaf ya, aku jadi merepotkan kamu," ucap Lukas.


"Tak apa, kamu pasti kelelahan. Kemarin habis dari taman hiburan, langsung mengemudi ke sini, terus bermain arung jeram juga kan menghabiskan banyak tenaga. Belum lagi kamu juga gak cukup satu ronde kemarin sore. Aku tau kamu pasti capek," Tamara mencoba mengerti.


"Kalau yang beronde-ronde itu gak ada hubungannya. Sekarang pun kalau kamu mau aku masih sanggup kok," Lukas berkelit.


Tamara tersenyum manis, membuat jantung Lukas berdebar dengan cepat.

__ADS_1


"Iya aku tau kok, tapi aku udah puas kok kemarin," Tamara menolak. Bagaimana pun Lukas masih sakit, nanti yang ada malah semakin parah sakitnya.


__ADS_2