Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 36


__ADS_3

Lukas dan Tamara bergotong royong memasukkan belanjaan itu ke dalam dua koper besar.


Kedua koper sudah penuh, dan masih ada lagi beberapa barang di luar.


"Apa kita beli satu koper lagi?" Gumam Lukas.


"Yang ini biar aku bawa saja," ucap Tamara.


"Kau pikir kita ini mau naik angkot? Kita kan mau naik pesawat, mana bisa kau bawa seperti itu?" Protes Lukas yang melihat Tamara menjinjing beberapa kantong plastik.


"Memangnya tidak boleh ya?"


Lukas tak menjawab, ia berlalu pergi meninggalkan Tamara seorang diri bersama dengan dua koper besar berisi oleh-oleh itu.


"Lukas... Kau mau kemana?" Teriak Tamara.


"Membeli koper lagi," jawab Lukas tanpa menoleh ke arah Tamara.


"Koper lagi? Apa aku belanja terlalu banyak ya?" Gumam Tamara.


Ia jadi tak enak hati pada Lukas, karena dirinya Lukas jadi kerepotan begitu.


"Tapi kenapa dia tak mengomeli aku tadi? Kemarin saja saat aku belanja hanya menghabiskan uang dua juta dia protes. Tapi ini sampai habis sepuluh juta dia diam saja," Tamara jadi semakin bingung dengan sikap Lukas.


Tak lama, Lukas kembali dengan membawa satu koper kecil.


"Ini, masukan sisanya ke sini," pinta Lukas.


Tamara menurut, ia lalu memasukan sisa barang belanjaannya ke dalam koper kecil itu.


"Wah, pas sekali. Kau memang hebat Lukas," puji Tamara.


Lukas tersipu, karena Tamara memujinya.


"Apa kau segitu senangnya mendapat pujian dariku?" Tanya Tamara yang melihat wajah Lukas yang memerah.


"Mana ada? Aku biasa saja," Lukas mengelak.


"Sudahlah, akui saja. Lihat wajahmu itu sebelum kamu berbohong," Tamara mengarahkan wajah Lukas ke cermin di sekitar mereka.


Lukas terdiam, ia tak bisa mengelak lagi.


"Dasar bodoh! Begitu saja kau sudah senang," gerutu Lukas dalam hatinya.


"Lukas, aku lapar. Apa kau tidak lapar?" Tanya Tamara sambil memegang perutnya.


Tentu saja Tamara merasa lapar karena ia telah menguras seluruh tenaganya untuk berbelanja tadi.


"Kau mau makan?" Tanya Lukas.

__ADS_1


Tamara mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita makan di sana saja!" Lukas menunjuk satu warung makan tradisional yang tak jauh dari tempat mereka berada.


"Lalu barang-barang ini bagaimana?" Tanya Tamara.


Lukas mengirim pesan pada penjaga vila untuk datang ke tempat mereka, dan memintanya membawakan tiga koper berisi oleh-oleh itu.


"Sudah, tenang saja. Ayo kita makan!" Lukas menggandeng tangan Tamara, mereka menyebrangi jalan raya menuju rumah makan tradisional yang terlihat sederhana.


"Lukas, itu koper-koper kita kenapa ditinggal?"


"Tak usah khawatir, kau lihat penjaga vila mengambilnya untuk dibawa masuk ke dalam mobil," jawab Lukas sambil menunjuk si penjaga vila yang kini tengah kerepotan dengan barang belanjaan Tamara.


Tamara tersenyum lega, lalu ia mengikuti langkah kaki Lukas masuk ke dalam rumah makan.


"Aku tak menyangka kau juga bisa makan di tempat seperti ini," bisik Tamara.


"Kenapa? Makanan di sini enak," Lukas balas berbisik di telinga Tamara.


"Kamu pernah makan di sini?"


"Mmm..." Lukas mengangguk.


"Jangan lihat dari tampilannya, rumah makan ini sudah ada sejak aku lahir. Rumah makan ini juga salah satu tempat favorit nenek. Nanti kamu coba rasakan sendiri, bagaimana rasa masakan di tempat ini. Pasti kamu akan ketagihan," ucap Lukas.


Mendengar itu, Tamara jadi tak sabar ingin merasakan juga rasa masakan dari rumah makan itu.


"Siang bu, aku pesan menu seperti biasa ya," ucap Lukas.


"Baik, pacarnya mau pesen yang sama juga?"


"Dia istri saya bu, samakan saja pesanannya, aku ingin dia merasakan masakan istimewa dari rumah makan ini."


Tamara terkejut mendengar Lukas memperkenalkan dirinya kepada si ibu tua itu bahwa ia adalah istri Lukas, sedikit merasa tersipu malu namun Tamara berusaha untuk nampak biasa saja.


"Oh, istrinya toh? Ternyata tuan muda sudah menikah ya? Selamat ya tuan muda dan nona cantik. Kalau begitu akan saya siapkan hidangan spesial untuk pengantin baru ini," ibu tua itu lalu pergi meninggalkan Tamara dan Lukas berdua.


"Hari ini kamu kenapa?" Tanya Tamara sambil menatap wajah Lukas.


"Aku kenapa?" Lukas malah balik bertanya.


"Hari ini aku melihat, banyak sisi lain dari dirimu," ucap Tamara sambil menatap lembut mata Lukas.


"Kenapa memangnya? Kau jadi semakin jatuh cinta ya?" Lukas menggoda Tamara.


Tamara diam saja, ia masih menatap Lukas dengan tatapan yang sama. Tatapan lembut penuh cinta.


Rasanya Tamara tak perlu lagi menjawab pertanyaan Lukas, seharusnya Lukas sudah tau dari cara Tamara menatapnya. Membuat jantung Lukas berdegup dengan kencang.

__ADS_1


Tak lama, dua paket komplit yang berisi nasi, lauk, sayur, dan juga sambal telah terhidang di depan meja mereka. Tak lupa dia gelas teh hangat ikut hadir melengkapi santap siang mereka.


"Silahkan tuan muda dan nona, semoga suka dengan masakan kami," ibu tua itu kembali pergi setelah menaruh semua pesanan Lukas di meja makan.


"Makanlah, nanti keburu dingin," pinta Lukas.


Tamara menurut, ia mencicipi sayurnya terlebih dahulu.


"Mmm... Enak," ucap Tamara dengan mata berbinar.


"Ini, cobalah lauknya juga," Lukas memberikan sepotong kecil daging ayam goreng miliknya untuk Tamara.


Tamara mengambil potongan kecil itu dan mencicipinya.


"Mmm... Enak!"


"Benar kan? Sudah ku bilang, makanan di sini enak sekali," ucap Lukas.


Keduanya kini tengah sibuk menyantap makan siang mereka, menu yang terlihat sederhana namun sangatlah nikmat.


"Ku pikir, kamu tidak bisa makan makanan seperti ini," ucap Tamara.


"Bisa, hanya saja saat di kantor aku tak ada waktu untuk pilah pilih makanan. Jadi ku makan saja yang ada," balas Lukas.


"Kalau begitu, kamu tak perlu khawatir lagi. Aku berjanji akan memasakkan makanan untukmu, tiga kali sehari," Tamara berjanji ingin memperbaiki pola makan Lukas yang seringkali telat dan kebanyakan makan junk food.


"Terserah kau saja," Lukas tak menolak ataupun mengiyakan. Ia sendiri tak keberatan, karena setidaknya ia bisa menghemat waktu untuk mencari makan siang yang baginya selalu membosankan karena menunya selalu itu-itu saja.


Tamara tersenyum bahagia saat Lukas memberikan lampu hijau untuknya berkreasi dengan masakan.


Selama ini, Tamara memang sangat senang memasak. Hanya saja keterbatasan dana yang membuatnya tidak bisa bereksperimen ini dan itu.


Namun kini, Tamara tak perlu khawatir lagi soal dana. Karena suaminya telah memberikan kartu hitam ajaib yang bisa membuatnya membeli segalanya.


"Lukas, tadi kenapa waktu belanja oleh-oleh tidak pakai kartu yang ada padaku saja?" Tanya Tamara.


"Kenapa memangnya? Itu kan sama saja uang-uangku juga," jawab Lukas tak acuh.


"Iya sih, tapi aku kan jadi gak enak."


"Gak enak apanya? Kamu belanja segitu banyak buat orang lain tanpa dosa begitu," protes Lukas.


"Iya, karena tadi kupikir akan membayarnya dengan kartu yang kamu berikan padaku."


"Memang apa bedanya? Mau kartu yang ada padaku atau padamu itu kan tetap aku yang bayar," Lukas kembali mengingatkan.


"Iya aku tau... Hanya saja..."


"Sudah cukup Tamara, kita nikmati saja makan siang kita ini dengan tenang ya? Tak perlu kamu permasalahkan lagi mengenai kartu mana yang dipakai untuk membayar tadi."

__ADS_1


Tamara menurut, ia kembali diam dan menyantap makanannya.


__ADS_2