Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 91


__ADS_3

Lukas terkejut dengan apa yang baru saja Tamara katakan.


"Apa?"


"Kita bercerai saja, lagi pula yang om Richard incar itu aku. Jika aku bercerai darimu, maka dia tak akan pernah mengganggu mu lagi."


Lukas terdiam, ia mencoba mencerna kata-kata Tamara.


"Dan kamu juga tidak perlu kesal karena melihatku yang mau saja ditipu oleh orang lain. Kamu juga tidak perlu membatalkan semua janjimu dan menemaniku sepanjang waktu. Kamu juga tak perlu repot-repot menyewa pengawal hanya demi keselamatan diriku yang bodoh ini. Kamu bisa dengan leluasa melakukan apapun yang kamu mau tanpa perlu mengkhawatirkan aku."


"Tunggu... Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Ah, satu hal lagi. Kamu tidak perlu merasa tersinggung karena seseorang tak menganggap mu sebagai suami. Karena statusmu bukan lagi suami seseorang," Tamara bicara dengan penuh emosi.


Entah setan apa yang elah merasukinya hingga Tamara berpikir ingin bercerai dari Lukas.


"Sayang, tunggu... Duduklah dulu, tenangkan dulu emosimu. Kenapa kamu ingin bercerai?"


"Karena aku tak mau mengganggu kehidupanmu!" Jawab Tamara lantang dengan mata berkaca-kaca.


Lukas terdiam, ia bahkan selama ini tak pernah merasa terganggu. Bahkan dengan masalah yang tengah dihadapi Tamara saat ini.


"Kamu ingin pergi dariku?" Lukas tak percaya dengan permintaan Tamara.


"Iya, lebih baik kita berpisah. Aku tak mau membuat hidupmu semakin rumit dengan masalah yang kubawa," sambil menangis Tamara menjawab pertanyaan Lukas.


"Lalu bagaimana denganku? Apa setelah kamu pergi aku bisa dengan mudahnya melupakanmu? Apa setelah kamu pergi aku tak lagi mengkhawatirkan seseorang?" Lukas menggenggam tangan Tamara dengan erat.


"Setidaknya tak ada lagi yang akan membuat masalah dalam hidupmu!"


Lukas menggelengkan kepalanya.


"Tidak sayang, ini tidak benar. Kamu itu sudah menjadi bagian dari diriku. Tidak ada yang namanya masalahmu atau masalahku, yang ada hanyalah masalah kita. Entah datang dariku atau darimu, kita hadapi sama-sama," Lukas berusaha menenangkan Tamara.


Tamara menggelengkan kepalanya.


"Aku tak pernah sekalipun membantu masalahmu, tapi justru kamulah yang selalu membantuku."


"Siapa bilang? Dengan adanya kamu di sini saja sudah sangat membantu. Aku yang di kantor sibuk dengan pekerjaan, sibuk ke sana kemari, bertemu klien atau rekan bisnis yang mengharuskan aku berpura-pura untuk tersenyum dan terlihat baik-baik saja. Tapi di hadapanmu, aku bisa menjadi diriku sendiri. Dan itu membuatku nyaman."


"Jangan bohong, kamu bahkan memarahiku sampai seperti itu. Kamu pasti sangat membenciku kan?"


"Tidak sayang, aku minta maaf untuk yang tadi. Aku sungguh tidak bisa mengontrol emosiku, ku mohon, jangan tinggalkan aku," Lukas duduk bersimpuh di hadapan Tamara. Wajahnya memelas penuh harap.


Tentu saja tatapan Lukas itu berhasil membuat hati Tamara luluh. Meski begitu, Tamara tak mau langsung memaafkan Lukas.


"Tapi hatiku sakit diperlakukan seperti tadi, aku jadi merasa jika aku ini hanya beban bagimu."


"Tidak sayang, aku tadi hanya emosi sesaat saja. Sayang aku mohon, jangan tinggalkan aku."

__ADS_1


Lukas menatap dengan tatapan iba penuh harap, tentu saja Tamara semakin tak tega melihatnya. Hatinya bergetar hebat, air matanya kembali jatuh ke pipinya.


"Maafkan aku sayang, aku berjanji tidak akan membentak mu lagi," Lukas mencium tangan Tamara dengan lembut.


Melihat air mata Tamara yang mengalir di pipi, Lukas segera mengusapnya perlahan. Lukas duduk di samping Tamara dan membawa Tamara ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku..." Lukas terus mengulang ucapan maaf berkali-kali. Sebagai bukti bahwa dirinya telah menyesali perbuatannya, dan tak ingin mengulanginya lagi.


Lukas sadar, ia tak bisa hidup tanpa Tamara. Ia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada Tamara.


"Aku mencintaimu," bisik Lukas.


Tamara tersipu malu mendengar ungkapan cinta Lukas. Ia lalu membenamkan wajahnya di dada Lukas.


"Aku mencintaimu," bisik Lukas lagi.


Tamara masih bersembunyi di balik dada Lukas. Wajahnya kini mungkin sedang merah merona karena malu mendengar ungkapan cinta dari suaminya sendiri.


"Aku mencintaimu," Lukas mengucapkannya lagi dengan suara yang lebih keras.


Tamara masih bersembunyi, tak berani menampakkan wajahnya.


"Aku mencintaimu Tamara," kali ini Lukas berkata hampir berteriak.


"Aku... Mmmppphhh..."


Belum sempat Lukas melanjutkan ucapannya yang lebih keras, Tamara sudah membungkam mulut Lukas dengan tangannya.


"Tau apa?"


"Sudah, jangan diteruskan. Aku malu," Tamara masih menundukkan wajahnya.


Lukas menggoda Tamara dengan melihat wajah Tamara yang terus tertunduk.


"Apa sih?" Tamara semakin tersipu dengan tingkah Lukas.


"Kok pernyataan cintaku gak dibalas? Kamu gak cinta sama aku?"


"Cinta."


"Masa?"


"Iya."


"Yakin?"


"Iya."


"Mana buktinya?"

__ADS_1


Tamara semakin menundukkan wajahnya, bukti seperti apa yang Lukas mau ia tak tau bagaimana harus menunjukkannya.


"Gak cinta ya?" Lukas pura-pura ngambek.


"Cinta kok," jawab Tamara dengan suara setengah berbisik.


"Cinta sama siapa?" Goda Lukas.


"Sama kamu," masih dengan suara setengah berbisik.


"Kamu siapa? Coba ngomong yang kenceng, aku gak denger."


Tamara mengambil nafas dalam-dalam dan hendak berteriak di telinga Lukas.


"A... Mmmmhhh..."


Baru saja Tamara membuka mulutnya, Lukas langsung melu mat habis bibir Tamara.


Nafas Tamara tersengal-sengal mendapat serangan mendadak dari Lukas. Ia memukul-mukul pundak Lukas, memintanya untuk berhenti.


Lukas pun melepaskan bibirnya. Ia tersenyum menatap Tamara yang kewalahan mengatur nafas akibat serangan dadakannya.


"Mau lagi?" Lukas menggoda Tamara.


Tamara langsung menggeleng dan menutup bibirnya dengan kedua tangan.


Lukas terkekeh geli.


"Tapi aku mau lagi," rengek Lukas.


"Pelan-pelan," Tamara juga tak mau kalah merengek.


"Iya," Lukas melepaskan kedua tangan Tamara. Perlahan Lukas merebahkan tubuh Tamara, dan mulai mencium Tamara mulai dari kening, pipi, dan terakhir di bibir Tamara.


"Kamu memaafkan aku kan?" Tanya Lukas saat ia menghentikan aksinya sejenak.


Tamara mengangguk perlahan.


"Lain kali, ceritakan saja apa yang kamu alami padaku. Semua yang kamu rasakan dan kamu pikirkan juga katakan saja padaku. Kita adalah suami istri, kita sudah menjadi satu bagian. Jangan pernah merasa kamu adalah beban bagiku, karena semua masalahmu adalah masalahku juga. Aku gak mau kamu sedih dan pusing sendiri. Berbagilah denganku, mengerti?"


Tamara kembali mengangguk.


"Jangan lagi ada yang kamu rahasiakan dariku ya," Lukas membelai rambut Tamara dengan lembut.


"Iya," jawab Tamara pelan.


"Dan satu hal lagi, jangan pernah minta bercerai dariku. Karena sampai kapanpun aku tak akan melepaskan kamu."


Tamara hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Lukas. Ia juga tak habis pikir, bisa-bisanya ia minta bercerai. Sementara di luar sana dia sudah tak punya siapa-siapa lagi.

__ADS_1


Tamara menyesali perbuatannya yang terlalu dangkal dalam berpikir. Ia juga berjanji dalam hati tak akan mengulanginya lagi, apalagi meminta cerai dari Lukas. Tak akan ia lakukan lagi.


__ADS_2