
Lukas dan Tamara kini sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi. Tamara merasa sangat senang sekali, karena ia akan bertemu dengan pamannya. Sebelumnya saat diculik, Tamara belum sempat bertatap muka karena situasinya yang tak memungkinkan.
Kali ini mereka akan bertatap muka secara langsung setelah bertahun-tahun Tamara tak bertemu dengan Richard. Tamara masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Richard kala dulu saat Tamara masih kecil.
Tiba di kantor polisi, Lukas memilih lewat pintu belakang untuk bisa masuk ke dalam kantor polisi. Bebebrapa wartawan masih berjaga di depan pintu masuk.
Setelah turun dari mobil, Lukas selalu menggandeng tangan Tamara, Lukas masih saja merasa cemas, khawatir jika ada hal buruk yang akan menimpa Tamara lagi.
"Permisi, kami datang untuk bertemu dengan tersangka yang bernama Richard," Lukas hendak bertanya kepada salah satu petugas yang mereka temui.
"Oh, saat ini Richard masih berada di ruang interogasi," jawab petugas berseragam polisi tersebut.
"Apa interogasinya masih belum selesai?" Kali ini Tamara yang bertanya.
"Sepertinya begitu," jawab si petugas tak yakin.
"Oh begitu, lalu jika kami ingin pergi ke ruang interogasi, kami harus lewat mana?" Tanya Lukas.
Si petugas langsung memberitau jalan yang harus mereka lewati untuk sampai ke ruang interogasi.
"Tapi mohon maaf, kalau boleh tau anda berdua siapa ya?" Tanya petugas itu setelah memberikan arahan jalan untuk sampai ke ruang interogasi.
"Saya Tamara pak, dan ini Lukas suami saya," jawab Tamara.
"Tamara?" Petugas polisi nampak berpikir sejenak. "Ah, anda korbannya ya?"
"Iya pak," jawab Tamara lagi.
"Baiklah, kalau begitu mari saya antar."
__ADS_1
Pada akhirnya si petugas polisilah yang mengantar langsung Tamara ke ruangan dimana Richard berada.
Tiba di depan ruang interogasi, Lukas dan Tamara diminta untuk menunggu sejenak. Sementara si petugas yang mengantarnya tadi masuk ke dalam.
"Kau yakin mau menemui pamanmu itu?" Lukas bertanya sekali lagi.
Tamara hanya membalasnya dengan anggukan.
"Kau masih punya waktu jika mau berubah pikiran," Lukas memberi penawaran.
"Tidak sayang, aku tidak akan berubah pikiran." Tamara mengaitkan tangannya di lengan Lukas. "Tapi sayang, menurutku sebaiknya kamu pikirkan akan pergi kemana kita nanti. Dari pada kamu terus mengkhawatirkan diriku."
"Aku sudah menemukan tempat yang bagus."
"Oh ya? Dimana?"
"Rahasia." Lukas langsung membungkam mulutnya. Perjalanan kali ini memang sengaja ia yang mengaturnya langsung. Lukas ingin memberi kejutan pada Tamara, karena pada bulan madu pertama mereka, mereka lebih banyak berdiam diri tanpa bisa menikmati apapun.
"Kamu tidak merencanakan untuk terus tinggal di vila atau hotel kan?"
"Tentu saja tidak. Aku yakin kali ini kamu akan sangat menikmatinya."
Tak lama, petugas yang tadi mengantar mereka meminta mereka berdua untuk menunggu karena ternyata proses interogasi memang belum selesai.
"Baiklah, terima kasih pak," ucap Lukas dan Tamara kepada petugas tersebut. Tak lama, petugas itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa proses interogasi memang selama ini?" Tanya Tamara.
"Entahlah, aku tak tau. Aku juga belum pernah," Lukas asal menjawab membuatnya seketika mendapat cubitan kecil di perutnya.
__ADS_1
"Aw, aw, aw... Sakit sayang," Lukas meringis kesakitan.
"Rasakan, siapa suruh bicara seenaknya."
"Aku tak bicara seenaknya," Lukas tak mengerti dimana letak kesalahannya.
"Kamu bilang belum, itu artinya suatu saat bisa saja itu terjadi," jawab Tamara dengan nada kesal.
"Hahaha... Jadi maksudmu aku akan diinterogasi kelak?" Lukas mentertawakan jawaban Tamara.
"Makanya jangan bicara sembarangan," Tamara tak mau berdebat dengan Lukas.
"Aku tak bicara semabrangan, apa kamu mengharapkan aku untuk pppffhhh..." Tamara menutup mulut Lukas dengan tangannya. Lukas pun terdiam, dan Tamara menurunkan tangannya.
"Berani sekali kamu," ucap Lukas seketika.
"Sudahlah aku tak mau berdebat denganmu," Tamara menutup kedua telinganya.
"Kenapa? Aku malah akhir-akhir ini senang berdebat denganmu," lagi-lagi Lukas bicara asal.
"Oh, pantas saja akhir-akhir ini kamu suka meributkan masalah sepele," Tamara kini mengerti.
Lukas tersenyum menampakkan gigi-gigi putihnya yang berjejer rapih.
Sementara itu di dalam ruang interogasi, Richard memilih untuk terus diam. Sekalipun menjawab, ia hanya berkata bahwa ia lupa. Detektif yang menginterogasinya pun dibuat kesal oleh sikap Richard yang dianggap tidak kooperatif.
"Jadi kau masih tidak mau mengaku?" Tanya detektif itu.
Richard masih terdiam.
__ADS_1
"Baiklah, temuilah keponakanmu terlebih dahulu." Detektif pun menyerah, dan memilih untuk membiarkan Tamara bertemu dengan Richard terlebih dahulu.