
Setelah Lukas pergi meninggalkan Tamara seorang diri, tentu saja Tamara tak bisa tidur kembali. Ia dihantui rasa penyesalan karena tak melihat saat Lukas berganti pakaian di hadapannya tadi.
"Dasar bodoh! Seharusnya aku mengintip sedikit tadi," kesal Tamara.
Tak mau berlarut-larut dalam penyesalan, Tamara memutuskan untuk bangun saja. Ia memulai hari ini dengan merapihkan kamar Lukas.
Tamara mengambil pakaian kotor yang ada di kamar Lukas dan membawanya ke tempat cuci di belakang. Di sana juga sudah menumpuk cucian sejak mereka pulang berbulan madu.
Tamara memilah-milah pakaian untuk dimasukkan ke dalam mesin cuci. Setelah itu ia mengambil perlengkapan kebersihan dan membersihkan seluruh rumah itu mulai dari depan hingga belakang.
Butuh waktu satu jam untuk Tamara menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, Lukas masih belum juga kembali dari aktivitas olahraganya.
"Baiklah, aku akan buatkan sarapan terlebih dahulu. Setelah itu baru aku kan melanjutkan urusan cucian di belakang," ucap Tamara menyemangati dirinya sendiri.
Setelah membuat berbagai menu untuk sarapan, Tamara pun menghidangkannya di meja makan. Tak lupa ia menutupinya agar tidak ada serangga yang hinggap di sana.
"Baiklah, ayo kita lanjut mencuci," Tamara dengan semangat membara melanjutkan pekerjaan rumahnya.
Hingga tanpa sadar Lukas sudah kembali dan melihat tudung saji di meja makan.
"Wah, dia sudah selesai masak rupanya," Lukas pun berjalan menuju meja makan.
Karena di rasa perutnya sudah sangat lapar sehabis berolahraga, tanpa pikir panjang Lukas membuka tudung saji dan segera menyantap menu sarapan yang nampak sangat menggiurkan itu.
Ada dua piring tersaji dengan menu yang sama. Tentu saja untuk ukuran Lukas yang terbiasa makan banyak, satu porsi tak akan cukup.
Lukas juga menghabiskan satu piring di sebelahnya, yang sudah pasti itu milik Tamara.
"Ahh... kenyang nya," Lukas mengusap-usap perutnya. Tak diragukan lagi, masakan Tamara memang selalu berhasil membuat Lukas makan dalam porsi yang banyak.
Baru saja Lukas selesai dengan sarapannya, Tamara muncul dari arah belakang rumah dan mendapati dua piring kosong yang tergeletak di meja makan. Sosok Lukas yang tengah kekenyangan pun masih ada di sana.
"Kamu makan bagian ku juga?" Tanya Tamara dengan nada kesal.
"Oh, itu punyamu? Ku pikir dua-duanya punyaku," jawab Lukas tanpa rasa bersalah.
"Aaahhhh... Kenapa kau habiskan? Aku kan juga lapar, baru mau makan," gerutu Tamara.
"Kamu kan tinggal buat lagi saja," sungguh ide yang cemerlang dari Lukas.
"Aaahhh... Tapi aku sudah lapar sekali, tubuhku lemas karena belum sarapan sejak pagi, mana aku habis membersihkan rumah dari ujung ke ujung," keluh Tamara sambil berjalan menghampiri Lukas.
"Siapa suruh kamu tidak makan dari tadi?" Benar-benar tidak pengertian.
"Aku kan menunggumu! Ku pikir kita akan sarapan sama-sama!" Bentak Tamara.
__ADS_1
Lukas yang terkejut karena dibentak oleh Tamara, segera bangkit dari duduknya.
"Kau marah hanya karena perkara kecil? Mana ku tau kalau itu punyamu, di situ tidak ada tulisannya milik siapa? Lagi pula aku tidak memintamu untuk makan bersama denganku," Lukas tak terima dirinya dibentak oleh Tamara.
Tamara mendesah kesal, ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar lalu berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
Brak...
Pintu dibanting dengan kerasnya.
"Kenapa dia sampai segitunya marah? Kan dia tinggal buat lagi sarapan yang baru," Lukas sama sekali tak menyadari kesalahannya.
Di dalam kamar, Tamara menangis tersedu-sedu. Ia memang tadi sudah merasa lapar, namun karena ingin makan bersama dengan Lukas, Tamara menahan rasa laparnya itu dan memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya itu.
Sambil terus menahan rasa lapar, Tamara mencuci dan menjemur pakaian yang banyak sekali jumlahnya.
Dan setelah menyelesaikan pekerjaannya, Tamara tentu merasa sangat lemas. Karena ia tak tau jika Lukas sudah datang, Tamara berniat untuk sarapan lebih dulu.
Namun betapa terkejutnya ia, ketika tau bahwa sarapannya sudah habis oleh Lukas. Itulah mengapa Tamara merasa sangat marah.
"Jahat! Kenapa dia memperlakukan aku seperti ini? Huhuhu...."
Tamara menangis di balik selimut, ia tak mau Lukas mendengar ia sedang menangis saat ini. Bisa-bisa Lukas akan meledeknya nanti jika waktu sudah berlalu.
"Aku tak masalah dia menghabiskan sarapanku, tapi setidaknya apa dia tidak bisa minta maaf? Kenapa malah dengan teganya menyuruhku membuat yang baru? Apa dia tidak tau aku ini sudah kelaparan?"
Cukup lama Tamara menangis, hingga terdengar suara pintu kamarnya diketuk.
Tok... Tok... Tok...
Tamara mengusap air matanya, ia menoleh ke arah pintu.
"Siapa?" Teriak Tamara dengan suara yang sedikit serak karena habis menangis.
Tak ada jawaban, Tamara pun mengabaikannya dan kembali menutup dirinya dengan selimut.
Lalu tak lama, pintu kamar Tamara pun terbuka.
"Kau menangis?" Terdengar suara Lukas dari arah pintu.
Tamara yang terkejut tentu saja tak berani membuka selimutnya. Namun jantungnya berdebar hebat ketika ia mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat.
"Stop!!!" Teriak Tamara dari dalam selimut.
"Kamu kenapa?"
"Jangan mendekat, aku sedang tak memakai apapun!" Tamara berbohong.
__ADS_1
"Hah... Kau begitu saja menangis, ini ku belikan sarapan untukmu!"
"Siapa yang menangis?" Tamara masih tak mau mengaku.
"Sudahlah, tak usah berbohong. Aku bisa dengar suaramu itu suara seseorang yang habis menangis."
Tamara terdiam, lalu terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"Stop!!! Ku bilang jangan mendekat!" Tamara tak mau menunjukkan wajahnya yang sembab karena menangis.
Lukas tak menggubris, ia tetap berjalan mendekat dan akhirnya Lukas pun membuka selimut yang menutupi tubuh Tamara.
"Aaaaa..." Jerit Tamara.
"Sebenarnya kau sedang apa sih?" Tanya Lukas kesal.
Tamara tak menjawab, ia hanya menatap tajam Lukas dengan matanya yang sembab.
Lukas menghela nafas panjang, ia pun duduk di tepi ranjang dan mengusap sisa-sisa air mata yang mengalir di pipi Tamara.
"Jangan menangis, maaf aku tak tau kalau kamu habis kerja bakti sendirian. Aku tadi melihat jemuran di halaman belakang, kamu pasti lelah sekali kan habis mencuci sebanyak itu. Lain kali, pakai jasa Laundry saja supaya kamu tidak lelah. Ini, ku belikan bubur ayam yang tadi lewat di depan rumah," ucap Lukas dengan suara lembutnya.
Lukas menaruh mangkuk berisi bubur ayam di meja samping tempat tidur Tamara.
Raut wajah Tamara sudah mulai mereda, ia sudah terlihat tak lagi marah pada Lukas.
"Mau ku suapi?" Lukas menawarkan diri.
Tamara menggeleng, ia lalu mengambil mangkok berisi bubur itu dan perlahan memakannya.
Tak butuh waktu lama, Tamara sudah menghabiskan bubur di mangkok. Tamara kembali menaruh mangkoknya di atas tempat tidur.
"Bagaimana? Masih lapar?"
Tamara menggeleng.
"Masih marah padaku?"
Tamara terdiam.
Lukas meraih dagu Tamara dan menghadapkan wajah Tamara ke hadapan wajahnya.
"Jangan menangis lagi ya, aku gak mau lihat kamu sedih seperti ini," ucapan Lukas membuat hati Tamara berdebar hebat.
Belum lagi jarak mereka yang sangat dekat, membuat Tamara ingin kembali mengecup bibir Lukas.
Cup...
__ADS_1
Tamara memberanikan diri mengecup bibir Lukas. Lukas hanya terdiam, ia menatap mata Tamara yang seperti ketakutan akan dimarahi olehnya karena lagi-lagi mencium tanpa seizin Lukas.