Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kebahagiaan yang Nyata


__ADS_3

“Aku dan juga Liora mau memberikan surprise untuk Anggun, lihatlah itu si kecil masih berbicara dengan Anggun di dalam ruangan kamarnya,” jelasku pada Mas Sadam.


“Maaf Sayang, tadi Aku benar-benar tidak bermaksud mengagetkan kamu,” jelas Mas Sadam padaku dengan mengusap rambut panjang ini.


Aku melihat Mas Sadam ikut mengintip dan senyuman tipis lolos dari bibirnya, Liora mencoba membuat Anggun menebak surprise yang hendak Ia berikan, akan tetapi Anggun tidak bisa menebak dan malah meminta pada Liora untuk memberikan kejutan itu sekarang juga. Keduanya benar-benar sangat akur sekali.


“Lihatlah, ini surprise dari kami.” Aku mendengarkan Liora berbicara. Aku mengandeng tangan Mas Sadam lalu masuk ke dalam ruangan kamar ini.


“Mbak Sifa,” ucap Anggun dengan senyuman manisnya.


Anggun langsung merentangkan kedua tangannya. Aku melangkah cepat kemudian mendudukkan tubuh ini di atas ranjang lalu mengecup keningnya beberapa kali. Aku sungguh bahagia sekali melihat wajah cantiknya. Anggun terlihat gemuk dan pipinya mulai cabi mengemaskan sekali.


“Mama, Liora juga mau di peluk,” pinta Liora sembari duduk di samping Anggun.


“Ayo sini biar Mama peluk semuanya,” sahutku padanya.


“Mama, Liora juga mau di cium seperti Mbak Anggun tadi,” ucap Liora padaku dengan wajah polosnya.


Aku melirik kearah Mas Sadam dan lelaki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap manja putri kecilnya ini. “Akan mama berikan ciuman yang banyak sekali,” ucapku pada Liora. Lalu aku menciumnya dengan sesekali menggelitik perutnya, Liora berbaring di atas ranjang dengan tertawa suara tawa itu sampai menggema ke seluruh ruangan.


“Apakah cuman Mama saja yang Liora rindukan,” ucapan Mas Sadam menghentikan aktivitasku dan tawa Liora juga mulai memudar sekarang. “Apakah Liora dan juga Anggun tidak rindu pada, Papa,” sambung Mas Sadam lagi. Hahaha ternyata suamiku itu merasa cemburu karena Ia diabaikan begitu saja.


“Tentu saja Liora rindu pada Papa.” Aku melihat Liora merentangkan kedua tangannya menyambut Mas Sadam dalam dekapannya.


Mas Sadam melangkah menuju ke ranjang lalu memeluk Liora dan juga Anggun secara bergantian. Sedangkan Mama Elsa sendiri berdiri di tengah ruangan ini menatap kearah kami dengan senyuman terbit di bibirnya.

__ADS_1


“Kalian semua berpelukan, lalu siapa yang akan memeluk Nenek?” tanya Mama Elsa asal.


“Tentu saja, Kakek,” sahut Liora.


“Ya, itu benar.” Aku dan juga semua orang melihat ke asal suara tersebut dan ternyata Papa Damar sudah berdiri di depan pintu kamar ini melihat kami semua dengan wajah bahagianya.


“Pa, apa yang kamu lakukan.” Aku tersenyum ketika mengetahui Papa Damar memeluk Mama Elsa. Semburat merah di pipi Mama Elsa membuat Mas Sadam ikut tertawa.


“Ma, kenapa malu Liora saja tidak keberatan,” aku melihat Papa Damar mantap kearah Liora. “Benarkan, Sayang,” tanyanya meminta dukungan pada si kecil.


Liora tidak berbicara tapi anak itu hanya memberikan dua jempolnya tanda setuju. Anggun gemas sekali melihat tingkah si kecil Ia langsung mencium pipi Liora sedangkan Liora sendiri memeluk Anggun dengan erat.


***


Aku merasa bahagia sekali karena sudah kembali ke rumah ini. Liora dan juga Anggun makan dengan sangat lahap bahkan sesekali Aku melihat Anggun menyuapi Liora dan begitu juga sebaliknya. Mas Sadam memegangi tanganku dengan senyuman manisnya.


“Mas, kamu berlebihan sekali. Bukankah dulu waktu masih ada Mbak Tasya juga selalu seperti ini,” ucapku padanya dengan menekankan kata ‘mbak tasya’ agar tidak di dengar oleh Anggun dan juga Liora yang sedang fokus menghabiskan makanan di piringnya.


“Kebahagian yang kamu lihat itu fana, tapi kebahagian yang kamu lihat sekarang itu adalah nyata.” Jelas Mas Sadam padaku.


“Mama, Papa.” Aku dan juga Mbak Anggun sudah selesai makan, kami akan nonton upin-ipin di ruangan tengah.” Aku mengganggukkan kepala setuju. Dan Liora membawa Anggun pergi bersamanya.


“Sifana, apa yang Sadam barusan katakan itu adalah benar sekali. Ketika ada Tasya di atas meja makan ini tidak ada ketenangan tapi hanya ada pertengkaran.” Mama Tasya membenarkan ucapan putranya. Aku melihat Papa Damar mengganggukkan kepalanya setuju.


Aku langsung teringat jika besok akan menjenguk Mbak Tasya di tahanan. “Mas Sadam, besok Aku dan juga Mama Elsa hendak menjenguk Mbak Tasya,” pamit ku padanya. Aku bisa melihat Mas Sadam dan juga Papa Damar langsung mengertukan keningnya seakan tidak setuju dengan permintaanku barusan.

__ADS_1


“Untuk apa, Sayang kamu menjenguknya. Aku tidak ingin Dia melukai kamu, biarkan saja dia di sana menikmati hukuman atas perilakunya sendiri,” ucap Mas Sadam padaku.


“Sifana, benar apa yang dikatakan oleh suami kamu barusan.” Aku melihat kearah Papa Damar dengan wajah memelas.


“Pa, Sifa hanya ingin meminta maaf padanya dan membawakan makanan untuk Mbak Tasya, karena dari yang Sifa dengar makanan di tahanan itu tidak enak,” ucapku pada Papa Damar dengan wajah memohon.


"Kamu tidak bersalah. Kamu ke sana hanya untuk menjenguk Tasya dan membawakan makanan." Aku mengganggukkan kepala setuju ketika mendengarkan Mama Elsa membenarkan ucapanku.


Aku menatap kembali ke arah Papa Damar dan Aku bisa melihat Papa Damar menghembuskan nafasnya pelan ke udara seakan sedang membuang kegelisahan di dalam hatinya. “Baiklah, kamu boleh menjenguknya tapi nanti Papa akan meminta beberapa pengawal menemani kamu." Aku langsung mengganggukkan kepala setuju dengan apa yang di katakan oleh Papa Damar barusan.


“Pa.” Aku melihat Mas Sadam hendak protes dengan ucapan Papa Damar.


“Kamu tenang saja, nanti ada pengawal yang menjaga istri kamu dan Mama juga ikut bersamanya.” Aku menatap kearah Mas Sadam dengan wajah memohon.


“Kalau begitu, besok Aku akan ikut,” ucap Mas Sadam yang masih merasa jika Aku akan tidak aman dengan para pengawal.


“Sadam, besok Mama akan ikut dengan Sifana dan kamu membawa Anggun dan juga Liora ke kantor. Nanti setelah kami kembali dari kantor polisi kami berdua langsung menuju kantor kamu,” jelas Mama Elsa pada Mas Sadam.


“Biar, Papa saja yang menjaga Anggun dan juga Liora. Sadam tetap akan ikut.” Aku memijat pelipis yang terasa pusing jika sudah seperti ini, Mas Sadam mirip seperti anak kecil yang merajuk.


“Papa besok akan pergi ke luar kota dan sore baru balik lagi ke Surabaya, jadi harus kamu yang menjaga mereka.” Papa Damar bicara sembari menyandarkan punggungnya di kursi.


“Aish, terserah kalian saja.” Mas Sadam berdiri dari posisi duduknya dengan wajah yang masam. Aku terkekeh melihat sikap suamiku itu begitu lucu sekali. Bahkan mirip seperti Liora yang sedang merajuk.


“Pa, lihatlah putra kamu merajuk. Sana cepat rayu dan berikan coklat,” ucap Mama Elsa ikut terkekeh melihat sikap putranya.

__ADS_1


“Ma, memangnya kamu pikir Sadam itu Liora.” Papa Damar hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya.


__ADS_2