Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Pertengkaran Tasya Dan Putra


__ADS_3

Aku masih belum selesai mengatur deru nafasku akhibat pergumulan barusan tapi lelaki ini sudah mengatakan jika ia menginginkannya lagi, aku menoleh kearah Mas Sadam yang kini sedang berbaring di sampingku dengan tangannya melingkar di pinggang ini. Lelaki itu juga masih mencoba mengatur nafasnya yang memburu.


“Mas, Aku masih lelah,” sahutku sembari menatap manik matanya yang berkilat menggoda.


“Sayang, Satu kali lagi,” pintanya padaku dengan wajah memelas. Dia sangat tampan sekali jika sudah seperti ini mana bisa Aku menolaknya, Aku terlalu lemah dihadapan cinta dan Dia.


“Satu kali saja.” Aku mencoba memperjelas nya.


“Terima kasih, Sayang.” Dia kembali melakukan hal itu tadi. Aku hanya pasrah mungkin sulit menahan gairah terlalu lama jika mengingat perkataan Mas Sadam yang pernah bicara kalau dia tidak pernah menyentuh Mbak Tasya dalam waktu yang lama.


Aku mengerjapkan mata rasanya lelah sekali bahkan pelupuk mata ini juga terasa berat tapi Aku harus tetap bangun untuk membuat sarapan pagi, setelah beberapa detik akhirnya aku bisa juga menyingkirkan rasa kantuk lalu membuka mata, setelah membuka mata seluruh pandanganku di penuhi oleh sosok pria tampan yang tidak lain adalah suamiku. Wajah bantal Mas Sadam terlihat begitu teduh tanpa mengurangi ketampanan dan juga kharisma yang lelaki itu miliki, Aku mulai merasakan kedua pipi ini merona merah ketika kilas balik kejadian kemarin langsung menyerbu seluruh kesadaran ku. Sebelum Dia bangun sebaiknya aku segera menghilang dari hadapannya.


Kini aku sudah berada di dapur, Aku membuka kulkas mencoba mencari bahan apa saja yang sedang Aku butuhkan, tapi di kulkas hanya ada dua butir telur saja. Aku langsung menepuk pelan jidatku ketika mengingat jika selama satu minggu rumah ini kosong jadi mana mungkin ada ikan ataupun bahan makanan lain yang tersisa. Aku membuka laci yang menempel di dapur dan melihat apa ada bahan yang bisa digunakan untuk pendamping telur ini.


“Sayang, Kamu sedang membuat apa ini?” tanya Mas Sadam sembari melingkarkan kedua tangannya di pundak ku.


“Mas, Kamu membuat Aku kaget saja,” sahutku sembari menaruh omlet-mie bercampur telur di atas piring. “Semua bahan dapur habis Mas jadi aku hanya membuat ini saja untuk sarapan pagi.”


“Kamu mau masak apapun, Aku pasti suka. Kalau begitu nanti siang kita akan berbelanja di supermarket untuk membeli banyak kebutuhan rumah.”


“Bukankah, Mas Sadam akan berangkat bekerja? Jadi biarkan saya berbelanja sendiri saja,” jawabku sembari menaruh kedua piring berisikan omlet di atas meja.

__ADS_1


“Aku akan bekerja dari rumah saja.” Mas Sadam sudah pendudukan tubuhnya di kursi lalu dia memasukkan omlet itu kedalam mulutnya.


“Mas, Sifa tidak ingin merepotkan Mas Sadam.” Aku tidak mau menjadi istri yang manja jadi memilih berangkat ke supermarket sendiri saja toh selama ini aku sudah terbiasa melakukan hal itu sendirian ketika masih berstatus pelayan.


“Aku akan mengerjakan tugas kantor di rumah.”


BG Junction Mall.


Aku dan juga Mas Sadam sudah memasuki Carrefour untuk membeli kebutuhan pokok. Lelaki ini masih tidak melepaskan tangannya dari genggamanku, kami hanya pergi berdua saja sebab Mama Elsa mengajak Liora jalan-jalan dan Aku percaya jika hal itu hanya dalih Mama Elsa saja agar si kecil Liora tidak mengganggu kebersamaan kami berdua.


“Sayang, kamu ambil saja apa yang sedang kamu butuhkan,” ucap Mas Sadam sembari memutar lehernya menatapku.


“Iya, Mas.”


 Aku mengerutkan kening tidak mengerti dengan maksudnya tapi satu stik kemudian aku mengikuti arah padangan lelaki itu yang menatap kearah belakangku. Hampir saja Aku tersedak ludah sendiri ketika manik mata ini di penuhi dengan manekin yang sedang menggunakan baju lingerie transparan. Aku menyentak kepala ini melihat Mas Sadam, kini lelaki itu mengangkat kedua alisnya dengan genit seakan menyuruh aku membeli baju seronok itu untuk digunakan malam hari.


“Mas, Aku tidak mau menggunakan baju kekurangan bahan seperti itu,” jawabku menolak permintaannya.


“Sayang. Tapi Aku ingin kamu mengunakannya.” Entah mengapa aku melihat kini Mas Sadam mulai genit sekali tidak seperti sebelumnya.


“Jangankan menggunakannya bahkan melihatnya saja seluruh tubuhku sudah meremang, Mas Sadam jangan aneh-aneh deh.” Menyesal sekali kenapa aku harus naik ke lantai atas supermarket ini, tapi kebutuhan sabun mandi dan juga bahan lainnya ada di bagian atas supermarket ini yang mengharuskan aku untuk naik ke atas.

__ADS_1


“Sayang, beli satu saja, Ya.” Mas Sadam bahkan mengungkung tubuhku di dekat lingerie itu sekilas Aku melihat pegawai supermarket ini melintas kemudian ia kembali menengok untuk melihat kami. Aku sungguh malu sekali dan langsung mendorong tubuh Mas Sadam perlahan kebelakang.


“Iya … iya,” sahutku pasrah dengan tangan mengambil lingerie itu dengan asal.


Sesudah mencari apa yang kami butuhkan di lantai atas supermarket ini aku dan juga Mas Sadam turun ke lantai bawah untuk membeli ikan dan juga buah-buahan segar. Sekilas aku melihat seorang wanita yang tengah bertengkar dengan lelaki di sudut tempat ini dan secara kebetulan sekali aku dan juga Mas Sadam hendak melewatinya karena buah-buahan ada di dekat kedua pasangan yang sedang bertengkar itu. Aku menyipitkan mata ketika merasa tidak asing dengan kedua sosok tersebut.


“Mas Sadam bukankah itu Mbak Tasya dan juga kekasihnya?” tanyaku pada Mas Sadam. Tidak ada jawaban dari Mas Sadam lalu aku menoleh kearahnya, ternyata dia sedang sibuk membaca pesan di ponselnya. “Mas,” sambungku lagi sembari menyenggol lengan tangannya pelan.


Mas Sadam segera mengalihkan pandangannya dari ponselnya ketika mendengarkan panggilanku. “Ada apa, Sayang?” tanya Mas Sadam padaku.


“Mas, bukankah itu adalah Mbak Tasya dan juga kekasihnya.” Aku menunjuk kearah mereka mengunakan dagu.


Mas Sadam langsung menatap kearah mereka. Kini kedua mata lelaki itu memberikan tatapan tajam.


“Putra, kamu tega sekali berselingkuh dariku padahal kamu tahu jika selama ini aku selalu saja memenuhi kebutuhan kamu, aku bahkan rela menikah dengan Sadam hanya agar kamu bisa hidup mewah tanpa bekerja.” Aku melihat kedua tangan Mas Sadam langsung terkepal kuat ketika mendengarkan suara Mbak Tasya barusan.


“Sekarang kamu sudah tidak memiliki apapun lagi, jadi untuk apa aku masih bersama dengan wanita miskin yang bodoh seperti kamu.” Putra mendorong Mbak Tasya hingga wanita itu mundur beberapa langkah kebelakang.


Mbak Tasya tidak mau kalah dia balik mendorong putra sembari berkata, “Kamu berani mengatakan aku bodoh! Dasar lelaki tidak tahu diri.”


“Kamu bodoh karena mau aku manfaatkan, selama ini aku tidak benar-bear menyukai kamu. Andaikan bisa memilih aku lebih ingin bersama dengan Sifana-istri kedua suami kamu. Sifana cantik dan juga baik pantas sekali dijadikan pendamping.”

__ADS_1


Bukk!


Wah siapa itu yang di pukul, ya?


__ADS_2