Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Mengikis Jarak Kita


__ADS_3

Lelaki itu membantu aku membuka sabuk pengaman, kedua wajah kami saling berdekatan dan hal itu membuat aku kurang nyaman. Terdengar bunyi ‘klik’ tanda jika sabuk pengaman itu sudah berhasil di lepaskan. Mas Sadam membantu aku melepas sabuk pengaman itu tanpa melepaskan pandangannya dariku, kedua manik mata kami saling terkunci seakan tidak ada objek yang menarik lainnya untuk.dilihat kecuali wajah masing-masing. Aku merasakan hembusan nafas Mas Sadam membelai hangat wajahku entah mengapa aku spontan langsung menutup mata ketika Dia mulai mengikis jarak diantara kami.


Perlahan tapi pasti aku mulai merasakan nafasnya di dekat telingaku berhembus dengan teratur tapi mampu membangkitkan riak kecil di tubuh ini. Jantungku kembali berdetak cepat seperti genderang yang mau perang, entah mengapa tubuh ini selalu menegang saat berada di jarak sedekat ini dengannya. Jangan sampai Dia mendengarkan suara debaran jantungku yang bodoh ini. Umpatku dalam hati dalam hati.


“Sayang, bolehkan aku mencium kamu?” tanyanya padaku tepat di samping telinga ini dengan nafas yang teratur.


Kenapa dia masih bertanya membuat aku malu saja. “Ya,” sahutku singkat. Aku mulai merasakan jika terpaan hangat tubuhnya perlahan mulai merayapi tubuhku.


Mas Sadam tidak membuang waktu. Tangannya membelai rambutku


kemudian satu tangan yang lain ia ajak untuk memegang tengkukku lalu kemudian benda kenyal itu mendarat di bibir ini. Ia memberikan gerakan perlahan agar tidak menyakiti aku dengan perlahan aku mulai merasakan jika nafasnya memburu seakan lelaki ini menginginkan sesuatu yang lebih. Aku mulai merasa kehabisan oksigen di dalam lingkup paru-paru ini maklumlah aku tidak pandai berciuman sungguh aku


payah dalam hal ini. Mas Sadam melepaskan pelukannya tanpa mengalihkan tatapan memuja dan juga menginginkan dariku, Aku mengambil kesempatan itu untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Aku tidak berani menatapnya aku lebih memilih


menundukkan pandangan ku saja karena perasaan gugup yang nampak jelas di wajah ini akan membuat lelaki itu melihatnya.


“Apakah aku sangat jelek hingga kamu tidak mau menatapku? Ataukan karena kamu masih membenciku?” tanya Mas Sadam berturut-turut padaku bahkan dari nada bicaranya juga seakan lelaki itu sedang meminta penjelasan lebih dariku.


“Kamu tampan, Mas.” Belum selesai Aku berbicara lagi Mas Sadam kembali menyatuhkan kedua benda kenyal ini, tapi kali ini tanpa meminta ijin padaku.


Gerakannya semakin lama semakin menuntut bahkan kini aku mulai merasakan nafas beratnya memburu seakan dia ingin melepaskan sesuatu yang sudah lama tidak ia keluarkan. Aku tahu jika ciuman kali ini tidak akan selesai semudah itu. Aku mendorong dada bidangnya kebelakang dan kini kedua manik mata kami saling bertatapan entah mengapa setiap kali bertatapan seperti ini aku seakan terkunci di dalam pancaran manik matanya.


“Mas, nanti di lihat oleh satpam,” ucapku dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


“Kaca mobil ini gelap jika di lihat dari luar,” sahutnya sembari masih mencoba untuk mengatur deru nafasnya.


“Lalu sampai kapan kita akan berada disini?” tanyaku kembali.


Mas Sadam mengarahkan tangannya untuk menyentuh pipiku lalu.dia berkata, “Apakah kamu mau melanjutkannya di dalam rumah.” Kenapa Dia selalu bertanya membuat Aku malu saja.


Aku hanya diam tidak menjawab ucapannya tapi jelas sekali Aku melihat jika senyuman di bibir Mas Sadam mulai mengembang sempurna tanda jika lelaki itu tahu kalau aku sudah memberikan ijin padanya untuk menyentuhku.


Kejadian di malam itu masih tercekat jelas di dalam ingatanku, tapi ketika aku kembali mengingat semua kebaikan yang pernah mas Sadam lakukan pada Anggun, Aku tidak bisa lagi menolaknya karena yang sebenarnya Dia memang berhak mendapatkan ini semua dan sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan biologis suamiku.


Kini Mas Sadam turun lebih dahulu dari dalam mobil, Dia membukakan pintu untukku dan aku segera menjejakkan kaki ini di tanah, Mas


Sadam menutup pintu lalu satu detik kemudian lelaki itu membawa tubuhku dalam gendongannya Aku meronta meminta di lepaskan tapi Mas Sadam tidak mau menggubrisnya dan masih membawaku dalam gendongannya entah ini karena bahagia atau karena apa tapi yang pasti kedua pipiku merona karena sikap spontan nya ini. Dia berdiri di depan pintu dan aku hanya diam masih sibuk menundukkan kepala mencoba meredakan detak jantungku yang sudah melakukan senam ekstra didalam tubuh ini.


menatapku.


“Mas, Aku tidak membawa kuncinya. Mana mungkin Aku bisa membuka pintu,” jawabku sembari memberanikan diri untuk menatapnya.


“Ambillah kuncinya di saku bagian kiri depan celanaku.”


Deg!


Kedua mataku langsung membola penuh, aku bahkan meneguk saliva dengan susah payah karena tiba-tiba merasakan tenggorokan ini mengering ketika mendengarkan pintanya. Aku mana mungkin melakukannya ini sungguh memalukan sekali. Mas Sadam kembali menyuruhku untuk mengambil benda itu dari saku

__ADS_1


celananya karena jika Aku tidak mau mengambilnya maka dia tidak akan mau menurunkan Aku dari gendongan, dan dengan terpaksa aku menuruti permintaanya. Tangan ini gemetar sekali ketika merogoh saku celananya dan aku menahan nafas


ketika memasukkan tangan untuk mengambil kunci dari saku ini-sungguh waktu seakan berdetak melambat seakan aku bisa mendengarkan bunyi jantungku sendiri karena panik bercampur gugup. Bahkan aku juga bisa merasakan jika tubuh Mas Sadam ikut menegang, sekilas aku melihat wajah merah malu yang terpancar jelas dari muka suamiku. Apakah dia sedang malu sekarang? Oh ... Tuhan, Dia sangat tampan sekali jika malu-malu seperti ini.


Aku segera menarik balik tanganku ketika sudah mendapat benda yang aku cari, aku mengatakan tangan ini untuk memasukkan kunci pada lubang di pintu.


Ceklek … ceklek!


Pintu sudah terbuka dan Mas Sadam mengendong aku menuju ke ruang –kamarku berada. Setelah berada di dalam kamar Mas Sadam menjatuhkan aku perlahan di atas ranjang lalu lelaki itu mengecup ku kembali dia sudah berada di atas ku mencoba untuk mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan dariku, binar matanya seakan mengajak aku untuk bersenang-senang dan tatapan penuh damba dan juga memuja bisa Aku lihat dengan sangat jelas dari manik matanya yang tidak henti


menatap setiap inci wajah ini. Nafasnya yang memburu membuat aku tahu dia sedang membutuhkan kehangatan dan aku akan memberikannya meskipun harus menekan rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuh ini.


Mas Sadam baru saja pulang bekerja dan Dia juga belum mandi, tapi entah mengapa yang tercium dari aroma tubuhnya hanya bau parfum mint yang sangat aku sukai, aku benar-benar menyukai bau parfumnya. Mas Sadam mematikan


lampu kamar ini tanpa melepaskan pungutannya padaku. Kini tangannya mulai bergerilya kemana-mana mencari apa yang ia inginkan. Dia mengecupku dan Aku hanya diam tidak membalasnya seperti sebelumnya hingga akhirnya lelaki ini menyadari jika aku sedang ketakutan sekarang.


"Sayang, kau takut?" tanya Mas Sadam padaku sembari menyibakkan beberapa sulur rambutku di belakang telinga. Kini aku bisa dengan leluasa menatap wajahnya yang tampan dari cahaya lampu taman yang menerobos masuk melalui kaca transparan yang tidak terhalang tirai.


"Ya," sahutku dengan nada suara terdengar gugup.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati percayalah." Aku mengganggukkan kepala percaya dengan ucapannya dan lelaki itu kembali mengecup bibirku dengan gerakan lembut dan malam yang panjang ini berakhir dengan pertukaran keringat diantara kami.


Mas Sadam ambruk di atas tubuhku dengan nafas yang tersengal-sengal, tubuhku basah oleh keringat yang berjatuhan dari tubuhnya, Lelaki itu menatap mataku intens kemudian mengecup bibirku dan kini dia mulai merambat ke daun telingaku sembari berkata.

__ADS_1


"Sayang, bolehkah aku minta lagi."


__ADS_2