Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Merasa Lapar Terus


__ADS_3

“Sayang, tumben sekali kamu manja seperti ini?” tanya Mas Sadam sembari membuka air mineral yang masih ada didalam kemasan.


“Aku tidak tahu, tapi hanya ingin di suapi saja sama kamu, Mas,” sahutku pada Mas Sadam sembari memberikan satu bungkus roti dengan rasa kedua. “Mas, aku masih lapar, suapi lagi,” pintaku dengan wajah memelas.


“Tentu saja, aku tidak mau istriku sakit jadi kamu harus makan yang banyak,” pinta Mas Sadam padaku sembari mengambil bungkusan roti yang ada di tanganku kemudian membuka bungkusan itu.


“Mas, nanti kalau Aku gendut gimana?” tanyaku padanya.


“Mau kamu gendut ataupun kurus Aku akan tetap mencintai kamu,” sahut Mas Sadam padaku dengan wajah bersungguh-sungguh.


“Semoga kamu tidak melirik wanita yang lebih seksi dari, Aku Mas,” ucapku jujur sembari menatap manik matanya.


“Tidak akan.” Aku langsung tersenyum manis ketika mendengarkan sahutan dari Mas Sadam barusan.


Setelah menghabiskan roti yang kedua aku baru merasa kenyang. Aku berbincang-bincang dengan Mas Sadam hingga kantuk mulai merayapi tubuhku dan membuat kedua pelupuk mata ini terasa berat. Aku menguap beberapa kali, masih kucoba untuk menahan kantuk ini hingga suara Mas Sadam membuatku langsung menarik padangan padanya.


“Sayang, tidurlah di sini,” pinta Mas Sadam padaku sembari menepuk pahanya.


“Tidak, Mas nanti kamu akan capek,” sahutku padanya.


“Tidak akan, ayo kamu tidurlah,” pinta Mas Sadam dengan tatapan memohon. Akhirnya Aku tidak tega dan segera menaruh kepalaku di pahanya. Aku melihat Mas Sadam tersenyum padaku. “Tidurlah, Aku akan menjaga kamu,” sahutnya padaku.


“Mas, aku mencintai kamu,” ucapku padanya.


“Aku lebih mencintai kamu. Dan sekarang tidurlah,” pinta Mas Sadam sembari mengusap pipiku lembut mengunakan punggung tangannya.


“Baiklah, selamat tidur Mas.” Setelah bicara Aku langsung memiringkan tubuhku dan tidak butuh waktu lama, aku mulai masuk kedalam alam mimpi.


***


Aku mengerjapkan mataku ketika merasakan gerakan Mas Sadam. Aku mengucek kedua mata ini lalu menatap kearah suamiku, aku melihat kening Mas Sadam mengeluarkan keringat dingin melihat akan hal itu sontak aku langsung bangkit dari posisi tidurku.

__ADS_1


“Mas, Ada apa?” tanyaku pada Mas Sadam dengan wajah cemas.


“Sayang, maafkan aku karena telah membangunkan kamu,” ucapnya seperti orang yang menahan sesuatu.


“Tidak masalah, tapi apakah kamu sakit, Mas?” tanyaku padanya lagi.


“Tidak, aku ingin ke kamar mandi.” Tanpa menunggu sahutan dariku Mas Sadam langsung berlari menuju ke kamar mandi yang ada di dalam rumah sakit ini.


Apakah dari tadi suamiku menahan ingin buang air kecil. Dia rela menahan buang air kecil hanya karena tidak ingin mengganggu tidurku sungguh baik sekali, tapi dia bisa sakit jika seperti itu. Aku kembali mengingat wajah Mas Sadam yang dibasahi oleh keringat dan telapak tangannya juga sampai berkeringat dingin karena menahan pipisnya. Ya Tuhan, lelaki itu mencintaiku sebesar ini sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya.


Selang beberapa waktu aku melihat Mas Sadam melangkah kembali menghampiriku. Ia duduk di sampingku dan aku menatapnya dalam diam. Tidak terlihat lagi keringat yang membasahi wajahnya, membuat itu hatiku merasa lega.


“Sayang, apakah kamu marah karena Aku tidak sengaja membangunkan kamu tadi?” tanya Mas Sadam padaku.


“Aku bukan marah karena hal itu, Mas,” sahutku padanya.


“Lalu karena apa?” tanya Mas Sadam padaku.


Mas Sadam langsung memelukku dan mengusap punggungku perlahan sembari berkata, “Sayang, jangan menangis lagi aku akan berjanji tidak mengulangi hal yang sama.” Mas Sadam melepaskan pelukannya kemudian mengusap air mataku.


“janji,” ucapku sembari mengangkat jadi kelingkingku dihadapannya.


Aku melihat Mas Sadam tersenyum lalu menautkan jari kelingkingnya padaku. “Sayang, kamu lucu sekali,” ucapnya padaku. Dan aKu tidak tahu ini dinamakan pujian atau hinaan.


Selang beberapa waktu Dokter Heru melangkah menghampiri kami berdua. Dia mengatakan jika sekarang kami bisa menunggu di dalam kamar Liora. Aku dan juga Mas Sadam mengucapkan terima kasih setelah itu kami langsung melangkah masuk kedalam ruangan Liora.


“Sayang,” panggilku ketika sudah masuk kedalam ruangan vvip rumah sakit ini.


“Aku melihat Liora tersenyum padaku,” wajahnya sudah tidak pucat seperti kemarin dan Ia juga bisa tersenyum lagi pasti karena pengaruh obat jadi rasa sakitnya tidak terasa.


“Mama, Papa.” Sahut Liora.

__ADS_1


“Apakah kamu sudah baik kondisinya?” tanya Mas Sadam sembari mengusap pipi putrinya.


“Sudah, Pa. Dimana Mbak Anggun, Nenek dan juga Kakek?” tanya Liora pada kami sembari menyisir ruangan ini dengan mengunakan pandangannya.


“Kami di sini.” Aku mendengarkan jika itu suara Mama Elsa. Dan benar saja Papa Damar dan juga Anggun melangkah masuk kedalam ruangan ini setelah Mama Elsa, aku melihat tangan Mama Elsa membawa rantang yang pasti berisikan makanan sedangkan Papa Damar sendiri membawa dua paper bag di tangannya.


“Dedek, kamu sudah bangun?” tanya Anggun sembari mendekati Liora. Aku dan juga Mas Sadam minggir agar Anggun bisa berdiri dekat dengan Liora.


“Mbak Anggun, Dedek kangen,” sahut Liora sembari memegang tangan Anggun.


“Sayang, kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu,” pinta Mama Elsa setelah Ia menaruh rantang yang Ia bawah di atas meja.


“Iya, Nek,” sahut Liora patuh.


“Sadam, Sifa. Makanlah itu, Mama Elsa sendiri yang membuatnya dan paper bag itu berisikan baju kalian,” ucap Papa Damar sembari menatap kearah Aku dan juga Mas Sadam.


“Nanti saja, Pa kami masih belum lapar,” sahut Mas Sadam.


Aku hanya bisa meneguk saliva saja sembari melihat kearah rantang makanan itu. Entah mengapa Aku kembali lapar tidak biasanya Aku antusias dalam makan tapi sejak semalam aku terus saja merasa lapar bahkan pagi ini juga padahal masih terlalu awal untuk melakukan sarapan pagi.


“Anggun, apakah kamu sudah sarapan pagi?” tanyaku pada Anggun.


“Sudah, tadi Anggun sarapan pagi bersama Nenek dan juga Kakek sebelum berangkat ke rumah sakit ini,” sahut Anggun dengan senyuman manisnya.


30 menit kemudian.


Aku dan juga Mas Sadam sudah membersihkan tubuh kamu di kamar mandi yang ada didalam ruangan ini. Aku mulai merasakan jika empedu ku mulai naik ke tenggorokan dan membuat lidahku mencecap rasa pahit. Aku memegangi perutku yang seakan seperti di aduk-aduk bahkan kini tanganku mulai berkeringat dingin dan peluh itu merambat sampai membuat jidatku ikut berair.


“Mbak Sifa,” ucapan Anggun berhenti ketika Ia merasakan jika tanganku dingin seperti es. “Apakah Mbak Sifa sakit? Kenapa tangannya terasa dingin seperti es batu,” ucap Anggun dengan polos.


Mendengarkan ucapan Anggun semua orang yang ada didalam ruangan ini langsung menatapku dengan penuh tanya. Mas Sadam segera meraih tanganku dan Ia membulatkan matanya ketika merasakan jika apa yang Anggun katakan tadi memang benar, tanganku dingin mirip seperti es batu.

__ADS_1


__ADS_2