Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Apakah Kamu Ingin Punya Anak Dariku


__ADS_3

Aku menyuruh Liora untuk menutup matanya dan dengan gerakan lembut Aku memijat kepalanya, Liora diam dan aku tahu jika kini gadis itu mulai merasakan nyaman dengan pijatan ku. Anggun melangkah keluar dari kamar mandi dan Ia langsung tersenyum manis melihat Liora baik-baik saja.


“Sini, biar Mas Sadam bantu menyisir rambut kamu.” Aku menoleh kearah Mas Sadam yang sudah membawa sisir berwarna pink di tangannya.


“Biar, Anggun menyisir rambut sendiri saja,” sahut Anggun dengan tersenyum manis. Aku menganggukkan kepala kearah Mas Sadam meminta agar lelaki itu mengiyakan ucapan adikku.


“Sifana, biar Papa saja yang mengantikan kamu memijit Liora,.kamu terlihat sangat lelah sekali Nak sebaiknya lekas beristirahat,” pinta Papa Damar padaku.


“Tidak, Pa. Mana mungkin Sifa bisa tidur ketika melihat Liora sakit seperti ini,” sahutku tanpa mengurangi kesopanan ini sedikitpun.


“Kamu memang anak yang baik.” Papa Damar mengusap pelan kepalaku.


“Ma, sudah jangan di pijat lagi, Liora sudah baik-baik saja,” ucap Liora sembari membuka matanya. Aku tahu Liora pasti tidak tega melihat Aku kelelahan.


“Jangan berbohong, Mama tahu kepala kamu masih pusing,” sahutku sembari mengusap wajahnya. Dan Aku tersenyum manis seakan sedang menunjukkan padanya jika Aku baik-baik saja.


“Sifana, kamu beristirahat saja biar Mama Elsa yang menyuapi Liora.” Mama Elsa melangkah mendekati kami dengan tangan yang membawa nampan berisikan dua mangkuk bubur dan dua gelas air putih.


Aku mengerutkan kening melihatnya. “Ma, kenapa membawa dua mangkuk?” tanyaku padanya.


“Apakah kamu lupa jika Anggun juga pasti lapar, dan dia juga harus minum obat.” Aku hanya bisa tersenyum tipis ketika mengetahui jika Mama Elsa begitu perhatian pada Anggun.


“Ma, biarkan Sifa saja yang suapi Liora.” Melihat wajahku yang memohon Mama Elsa tidak tega untuk menolaknya akhirnya wanita paruh baya itu membiarkan Aku menyuapi Liora.


“Mama Sifana, terima kasih karena sudah mau menyayangi Liora.” Aku melihat Kristal bening yang sekarang mulai menyelimuti manik matanya. Liora tersenyum padaku dengan bibir yang gemetar. Aku tahun gadis kecilku ini pasti sedang menahan rasa sakit di dadanya ketika Ia mengingat semua perlakuan Mbak Tasya padanya.


“Sayang, kamu bicara apa. Memang sudah menjadi kewajiban Mama Sifa untuk menyayangi Liora, kelak Mama tidak ingin jika Liora mengatakan kata itu lagi,” ucapku pada Liora sembari mencolek hidungnya.

__ADS_1


Liora langsung menarik ku kedalam pelukannya. “Liora sayang banget sama Mama.” Liora mengecup kedua pipiku bergantian.


“Kalau Liora sayang sama Mama, sekarang harus mau makan bubur ini biar lekas sembuh dan kita bisa bermain bersama,” pintaku padanya dengan senyuman manis.


Aku melihat Liora buru-buru menutup mulutnya dengan.menggunakan tangan lalu berkata, “Ma, lidah Liora terasa pahit sekali jadi.tidak ingin memakan apapun,” rengeknya dengan manja.


Aku menatapnya dengan tersenyum manis. “Liora, dengarkan Mama bicara, waktu Mbak Anggun sakit Mama Sifana selalu mengusahakan banyak hal agar Mbak Anggun bisa makan dan lekas sembuh.”


“Dedek, apa yang dikatakan oleh Mbak Sifa itu benar adanya. Mbak Anggun memang sakit waktu itu, tapi ketika mengingat Mbak Sifa selalu mencari makan sampai berkerja kesana-kemari tidak kenal lelah. Walaupun lidah Mbak Anggun terasa pahit, Mbak Anggun tetap memakan apapun yang diberikan oleh Mbak Sifa.” Anggun ikut angkat bicara dan kini Dia sedang duduk di dekat Liora.


Aku melihat kearah semua orang yang hanya bisa mengganggukkan kepala mendengar ucapanku. Aku menarik padangan melihat kearah Liora yang terdiam dan Aku tahu anak pintar ini pasti mencoba mencerna ucapanku dan juga Anggun barusan.


“Baiklah, Liora mau makan tapi sedikit saja,” ucapnya kemudian.


Aku langsung bersemangat meniup bubur hangat ini untuknya, “Sedikit juga tidak masalah,” sahutku kemudian.


Mama Elsa mengusap pundak ku perlahan dengan senyuman manisnya. Liora makan dengan perlahan tapi Aku sudah sangat senang sekali karena Ia sudah menghabiskan setengah isi dalam mangkuk ini. Anggun juga makan dengan lahap dan dia menghabiskan semua bubur di mangkuknya. Setelah selesai membantu Liora untuk meminum obatnya Aku segera berpamitan pergi ke kamarku untuk membersihkan tubuh ini agar tidak terasa lengket. Mama Elsa ganti yang menjaga Liora.


Aku mulai terjingkat kaget ketika sepasang tangan memelukku dari arah belakang. Aku tahu ini adalah suamiku dan aku pun segera membalikkan tubuh ini menatapnya. “Mas, kamu suka sekali membuat aku terkejut,” ucapku padanya.


“Sayang, Aku tidak berniat seperti itu,” sahutnya sembari mengecup keningku.


“Ya, Aku tahu,” balasku dengan mengecup keningnya.


“Sayang, kamu pasti lelah bagaimana jika Aku bantu kamu untuk mengeringkan rambut.” Aku melihat Mas Sadam menatapku dengan tulus.


“Baiklah, tapi harus cepat karena Aku ingin bertemu dengan Liora,” ujarku padanya.

__ADS_1


Mas Sadam tiba-tiba memelukku. “Sayang, terima kasih karena kamu telah menyayangi Liora seperti anak kandung kamu sendiri,” ujar Mas Sadam padaku sembari menaruh dagunya di pundak ku.


Aku membalas pelukannya dengan senang hati. “Mas, Aku juga berterima kasih pada kamu karena telah menganggap Anggun seperti adik kamu sendiri,” sahutku padanya.


Mas Sadam melepaskan pelukanku lalu menatap manik mataku lekat. “Sayang apakah kamu ingin punya anak dariku?” tanya Mas Sadam secara tiba-tiba.


Aku mulai merasakan jika pipi ini memanas karena ucapannya. “Mas, kamu ini mengatakan apa, jelas saja jika Aku ingin memiliki anak dari kamu,” sahutku padanya.


“Kalau begitu, kita buat saja sekarang.” Aku langsung membulatkan kedua mataku menatapnya tajam, Liora sedang sakit dan bisa-bisanya dia mengatakan itu sungguh menyebalkan sekali apakah isi otaknya itu hanya melakukan hal mesum saja.


Mas Sadam menyentil jidatku perlahan lalu berkata, “Sayang, aku sedang bercanda kenapa kamu menatapku serius seperti itu,” jelasnya padaku dan hal itu membuatku malu sekali.


Aku langsung mengalihkan pandangan kearah lain, “Oh …” ucapku padanya menutupi rasa malu.


“Ayo sekarang aku bantu kamu untuk mengeringkan rambut.” Mas Sadam mengandeng tanganku dan dengan senang hati aku mengikutinya.


***


Aku membuat sarapan pagi untuk semua orang, Liora kembali tertidur setelah Aku selesai menyeka tubuhnya menggunakan air hanya. Obat yang Liora konsumsi mengandung obat tidur jadi tidak heran jika Ia kembali masuk kedalam alam mimpi. Anggun, Mas Sadam dan juga Papa Damar menunggu Liora tidur sedangkan Aku dan juga Mama Elsa membuat sarapan pagi bersama seperti biasanya.


Aku menguap beberapa kali, entah mengapa mataku terasa berat sekali dan aku benar-benar ingin tidur. Tapi aku menahan rasa kantuk ini dengan berniat membuat kopi. Aku baru saja memasuki satu sendok bubuk berwarna hitam ini ke dalam gelas dan Mama Elsa langsung memegangi tanganku.


"Sayang, lekas istirahat," pinta Mama Elsa padaku.


"Sifana tidak mengantuk," bohongku padanya.


"Jangan berbohong, kamu itu tidak punya bakat itu, jadi lekas istirahat dan biarkan Mama yang menyelesaikan semuanya," pinta Mama Elsa padaku

__ADS_1


Aku hendak menolak permintaannya akan tetapi wanita paruh baya itu menatapku dengan wajah memohon.


"Baiklah Ma," sahutku padanya pasrah.


__ADS_2