
Kini jarak antara aku dan juga Mas Sadam mulai terkikis, aku tidak ingin kecewa jadi lebih memilih menundukkan kepala lalu ku dengar gadis kecil ini mulai bersuara.
“Papa, membelikan baju untuk siapa?” aku hanya bisa menarik salah satu senyuman getir seperti sudah bisa menebak apa yang akan Mas Sadam katakan pada si kecil Liora.
“Tantu saja, Papa membelikan baju untuk, Mama,” ya ternyata benar apa yang aku bayangkan tadi jika lelaki ini memang membelikan baju untuk Mbak Tasya.
Aku langsung mendongakkan kepala ketika melihat Mas Sadam menyodorkan paper bag itu padaku lalu dia berkata, “Ini untuk kamu,”
ucapnya dengan tidak terduga.
Aku langsung menjatuhkan rahang seakan tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar, mana mungkin Mas Sadam membelikan
baju ini untukku dan aku masih tidak menerima paper bag berwarna putih itu.
“Ambillah ini memang aku belikan untuk kamu, bukankah tadi kamu menyukainya,” ternyata benar apa yang aku dengar barusan, aku tidak sedang berkhayal saja ini sungguh tidak pernah terpikirkan olehku.
“Mas Sadam, ini baju apa?” tanyaku dengan gelagapan.
“Bukalah,” aku melihat senyuman manis terukir di bibir suamiku. Ya Tuhan jantungku langsung senam musik disko, senyumannya manis sekali bahkan menambah sempurna pahatan wajahnya ingin sekali aku
membalas senyuman itu akan tetapi bibir ini seakan kaku sekali mungkin karena aku terlalu shock jadi ya begini ehehe.
“Mama Sifana, ayo buka baju yang Papa belikan Liora mau melihatnya,” ujar gadis kecil itu sembari bergelayutan manja di pergelangan tanganku. Aku menatap Liora dan terlihat binar bahagia dimatanya
seakan gadis kecil itu begitu mendukung apa yang telah Mas Sadam lakukan.
Dengan tangan yang gemetar aku menerima paper bag yang Mas Sadam berikan. Aku membuka perlahan satu persatu paper bag itu
dan begitu terkejut dengan isinya, ini adalah baju yang aku inginkan tadi dan ada dua baju lain, apakah ini milik Mbak Tasya? Pertanyaan itu kembali memenuhi isi kepalaku.
__ADS_1
“Baju itu untuk kamu, aku memilihnya apakah kamu suka?” aku langsung mendongak melihat Mas Sadam usai lelaki itu berbicara.
“Su-suka,” entah kenapa suaraku menjadi gagu seperti ini setiap kali berada disampingnya.
“Kamu manis sekali jika sudah malu-malu seperti ini,” entah ini pujian atau hanya iseng saja tapi aku merasakan kedua pipi ini mulai di rambati rona merah.
“Papa, Mama. Ayo kita pergi ke toko boneka itu, Liora mau minta boneka lagi, suara Liora lagi dan lagi membuyarkan lamunan kami berdua. Aku sedikit menghela nafas lega usai mendengarkan ucapan Liora kalau
tidak begitu aku takut pingsan karena sangking bahagianya. Mungkin kalian akan menggangap jika aku ini berlebihan tapi andaikan kalian semua masih ingat bagaimana sikap Mas Sadam sebelumnya tentu saja kalian akan mengerti isi hatiku
sekarang.
Mas Sadam mengandeng tangan Liora dan begitu juga dengan aku. Kita berjalan bersama aku sungguh bahagia sekali memiliki keluarga seperti ini, ya walaupun Liora bukan anak kandungku sendiri. Kata-kata
Mas Sadam yang memujiku manis masih terngiang di kepala ini seakan berulang kali di ucapkan oleh lelaki itu. Ya Tuhan aku mohon buatlah sedikit saja Mas Sadam mencintai aku.
Mas Sadam menatapku dengan mengerutkan kening lalu bertanya, “Untuk apa?” tanyanya padaku.
“Tentu saja saya ingin mengabadikan foto, Liora lihatlah itu, Mas dia sangat lucu sekali,” ucapku sembari tersenyum manis padanya lalu aku mengambil posisi yang menurutku pas untuk memotretnya.
“Mama Sifana, apakah boneka ini bagus?” tanya Liora sembari memeluk boneka beruang itu dengan senyuman manisnya. Aku langsung
mengabadikan gambar itu di kamera ponsel.
“Mama Sifana, kenapa memotret Liora dari tadi? Mama Tasya saja tidak pernah mau memotret Liora walaupun hanya sekali,” sekarang aku baru tahu arti kening Mas Sadam berkerut ketika melihat aku memotret Liora. Mbak Tasya sungguh keterlaluan karena tidak perduli pada gadis kecil itu sampai seperti ini, bukankah biasanya seorang ibu selalu ingin mengabadikan hal sekecil apapun yang anak-anak mereka lakukan? Tapi sepertinya Mbak Tasya berbeda.
“Liora, tidak boleh membandingkan Mama Tasya dengan Mama Sifana karena kita berdua adalah orang yang berbeda,” aku berbicara sembari mengusap pelan puncak kepala gadis kecil itu setelah aku berjongkok
dihadapannya.
__ADS_1
“Apa yang dikatakan oleh, Mama Sifana itu benar sekali. Kita tidak boleh membandingkan orang lain sebab Mama Tasya pasti memiliki alasan lain tidak melakukan hal itu,” aku melihat Mas Sadam yang kini
ikut berjongkok di sampingku menghadap kearah Liora.
“Baik, Ma, Pa. Liora tidak akan melakukannya lagi,” Liora gadis yang pintar sekali jadi ia bisa mencerna apa yang kami katakan dengan cepat dan juga tepat.
“Anak, Papa emang pintar sekali. Apakah Liora ingin boneka ini?" aku melihat gadis kecil itu langsung mengganggukkan kepala dengan cepat.
Aku dan juga mas Sadam keluar dari toko boneka untuk kembali berjalan-jalan. Mas Sadam membawa boneka yang tadi di beli oleh Liora sedangkan dia menawarkan diri untuk membawa paket bag ku juga tapi aku menolaknya dan lebih memilih membawanya sendiri karena tidak ingin merepotkan Mas Sadam.
Sekitar 30 menit kami berjalan-jalan dengan sesekali mampir ke satu toko lain. Aku mulai merasakan ingin buang air kecil tapi aku menahannya, tapi beberapa saat kemudian mataku mulai berbinar bahagia saat melihat tulisan toilet memenuhi seluruh pasanganku.
"Mas Sadam, saya ingin ke toilet lebih dahulu," ucapku dengan mengigit bibir bagian bawah. Aku sungguh malu sekali sebenarnya mengatakan hal ini tapi mau gimana lagi, aku tidak mungkin menahannya lebih lama lagi karena sekarang saja kedua tanganku mulai mengeluarkan keringat dingin karena menahan keluarga cairan urin dari dalam tubuh.
Mas Sadam menatapku seperti menyelidiki air muka ini lalu ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara, "Lain kali jangan sampai menahan hal seperti ini karena aku tidak mau kamu sakit," ucapnya dan langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"Liora, apa mau ikut ke toilet?" gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
Aku langsung melangkah masuk ke toilet dan membuang racun di tubuh ini. Aku kini sedang membersihkan tangan mengunakan sabun di wastafel, lalu aku melihat wajahku di cermin. Salah satu pintu toilet ikut terbuka dan mataku menatap siapa sosok dari pantulan kaca cermin tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mama Elsa.
"Mama," panggilku pada wanita paruh baya itu yang masih belum menyadari keberadaan ku.
"Sifana, kenapa kamu bisa berada di sini!" tanya Mama Elsa padaku.
"Sifana, sedang berjalan-jalan dengan Mas Sadam dan juga Liora, Ma."
"Pantas saja tadi, Mama seperti melihat Tasya di mall ini, dimana mereka sekarang?" aku langsung mengerutkan kening ketika mengetahui jika Mbak Tasya ada di mall ini? Bukankah tadi wanita itu mengatakan jika sedang pusing kepala.
Jangan lupa berikan komentar dan juga vote untuk mendukung novel ini dan ikuti juga akun Mangatoon saya, ya. Terima kasih
__ADS_1