Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Istri Satu-satunya


__ADS_3

2 bulan kemudian.


Sudah sekitar 1 minggu yang lalu Mas Sadam dan juga Mbak Tasya resmi bercerai dan kini hanya aku satu-satunya Istri Mas Sadam. Aku sangat bahagia sekali akan tetapi di sisi lain Aku juga merasa sedih melihat kondisi Mbak Tasya yang kurus kering dengan tubuh tidak terawat. Semua kecantikan yang yang dulu sempat Aku lihat darinya tidak nampak lagi di persidangan perceraian. Mama Elsa mengatakan jika perpisahan itu bukan karena kesalahanku jadi Aku tidak perlu merasa bersalah dan Aku mengganggukkan kepala mengerti.


Kini Anggun sudah sembuh bahkan trauma yang sempat di alami oleh Liora juga sudah sembuh. Semuanya berjalan dengan baik dan Aku sangat bahagia sekali akhirnya keluarga bahagia yang dulu sempat menjadi angan-angan kini mulai menjelma ke dunia nyata.


“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Mas Sadam sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


Aku memegangi tangan Mas Sadam sembari masih menatap lurus ke depan. “Mas, Aku sangat bahagia sekali karena memilikimu,” ucapku sembari mulai membalikkan tubuh ini menghadapnya.


“Sayang, aku juga sangat bahagia dan aku juga sangat beruntung karena kamu menjadi istriku dan kau menyayangi putriku sama seperti menyayangi anak kandung kamu sendiri,” ucap Mas Sadam padaku.


Aku memeluk Mas Sadam dan lelaki itu mendekap ku erat. “Sudah Aku bilang dari awal jika sampai kapanpun Aku akan tetap menyayangi Liora dan menganggapnya sama seperti anakku sendiri.”


“Iya aku tahu itu, karena kamu sudah membuktikannya,” sahut Mas Sadam sembari mengecup puncak kepalaku.


“Mas, apakah kamu masih ingat jika kita memiliki janji pada Liora dan juga Anggun untuk menginap di hotel yang kita tempati dulu waktu aku baru keluar dari rumah sakit?” tanyaku pada Mas Sadam sembari menengadahkan kepala masih berada di dalam pelukannya.


Aku melihat Mas Sadam menepuk pelan jidatnya lalu berkata, “Sayang, Aku sungguh lupa sekali mengenai hal itu,” sahutnya dengan wajah penuh penyesalan. “Besok adalah hari libur jadi Aku akan mengajak mereka menginap di hotel itu.”


“Terima kasih, Mas Sadam,” sahutku sembari mengecup sekilas bibirnya.


“Kalau berterima kasih yang tulus,” ucapnya padaku.


“Maksudnya apa, Mas?” tanyaku tidak mengerti.


Mas Sadam melepaskan pelukannya lalu mengandeng tanganku masuk kedalam kamar. Aku hanya mengikutinya dan lelaki itu menjatuhkan tubuhku perlahan ke atas ranjang kemudian Ia mulai melucuti helai demi helai kain yang menempel di tubuhnya. Aku langsung menarik salah satu alis ini sudah paham betul dengan apa yang Ia inginkan.


“Sayang, kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya sembari mengungkung tubuhku di bawahnya.


“Mas, jangan bercanda tadi pagi kita sudah melakukannya,” ucapku padanya.

__ADS_1


“Aku tidak bercanda, Aku ingin memiliki anak darimu, Sayang dan karena sebab itu Aku harus berkerja ekstra menanam banyak benih di sini,” ucap Mas Sadam sembari menyentuh kulit perutku dari balik baju.


Aku tersenyum senang ketika mendengarkan jika Mas Sadam ingin memiliki keturunan dariku tapi di sini lain Aku juga merasa kesal sekali karena lelaki ini terus saja meminta jatah dan tidak lihat waktu. Dan malam yang panjang ini berakhir dengan pertukaran keringan diantara kami.


Senja yang indah sudah nampak menghiasi langit, Aku mulai mengucek kedua mata ini dan menyingkirkan selimut di tubuhku. Aku melirik kearah suamiku yang masih tertidur lelah Wajahnya sangat tampan sekali, Aku sungguh bangga memilikinya tapi kadang Aku juga merasa kesal ketika banyak wanita yang menatapnya dengan penuh damba.


Di dapur.


“Ma, masak apa pagi ini?” tanyaku pada Mama Elsa yang sudah lebih dulu berada di dapur.


“Liora dan juga Anggun ingin makan ayam goreng dan juga sup kaki ayam,” sahutnya sembari menoleh padaku sesaat kemudian kembali memotong kuku kaki ayam yang sudah ada di baskom.


“Kalau begitu Aku akan membersihkan sayurannya,” ujarku pada Mama Elsa dan wanita paruh baya itu langsung mengganggukkan kepalanya setuju.


Aku teringat akan perbincangan dengan Mas Sadam tadi malam jika akan membawa Anggun dan juga Liora menginap di hotel siang hari ini. Aku menaruh sayuran di baskom merah kemudian berdiri di dekat Mama Elsa yang masih sibuk membersihkan kaki ayam di wastafel.


“Ma, nanti siang Aku dan juga Mas Sadam akan menginap di hotel bersama dengan Liora dan juga Anggun,” ucapku padanya.


“Iya, Ma.” Aku menatap kearah kentang yang masih Aku bersihkan kulitnya.


“Rencana berapa hari kalian akan menginap di sana?” tanya Mama Elsa.


“Hari senin pagi kami sudah kembali ke rumah karena Mas Sadam juga harus pergi ke kantor,” jawabku sembari menatapnya sekilas kemudian lanjut memotong kubis menjadi potongan sedang.


“Kamu siapkan saja baju-baju mereka biar Mama saja yang membuat sarapan pagi,” ucap Mama Elsa padaku.


“Baiklah Ma,” sahutku patuh.


Aku melangkah menaiki anak tangga rumah ini kemudian menuju kamar Liora. Aku melihat Anggun baru saja selesai mandi dan adik kesayanganku itu kini sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.


“Mbak Sifa, tumben sepagi ini sudah kemari?” tanya Anggun sembari menatapku dari cermin yang ada di meja rias.

__ADS_1


“Apakah tidak boleh jika Mbak Sifa kemari pagi-pagi?” tanyaku padanya. Aku mengambil sisir yang di pegang oleh Anggun dan membatu adikku itu menyisir rambutnya.


“Tentu saja tidak masalah,” sahut Anggun padaku.


Anggun sudah terlihat rapi dan aku langsung mengecup puncak kepalanya. “Sayang, kamu sangat cantik sekali,” pujiku sembari menatap pantulan wajahnya di cermin.


“Anggun cantik karena mirip seperti Ibu dan juga Mbak Sifa,” ucapnya padaku. Aku melihat Kristal bening mulai berkumpul di pelupuk matanya dan aku tahu Anggun pasti sedang merindukan wanita yang telah melahirkan kami.


“Jangan sedih, kedua orangtua kita sudah bahagia di sana. Mereka juga ikut bahagia melihat kita hidup dengan layak tanpa kekurangan suatu apapun.” Anggun membalikkan tubuhnya padaku lalu aku memeluknya dengan hangat. “Jangan sedih, ada Mbak Sifa di sini,” sambung ku pada Anggun.


“Anggun, tidak sedih Anggun sangat bahagia sekali karena memiliki Mbak yang sangat menyayangiku dan siap melakukan apapun untuk kebahagiaanku.” Aku tersenyum pada Anggun sembari menggangukkan kepalanya.


“Mbak Anggun dan juga Mas Sadam akan mengajak kamu dan juga Liora menginap di hotel. Apakah kamu masih ingat suasana di lantai atas hotel itu?” tanyaku pada Anggun. Dan gadis kecilku itu mengganggukkan kepalanya. “Kita akan kesana nanti siang setelah sarapan pagi.


“Yeee.” Aku melihat Anggun tersenyum kegirangan.


“Sekarang ayo kita bangunkan Dedek kamu,” ucapku pada Anggun sembari melirik kearah Liora yang masih memejamkan mata indahnya. Gadis kecil itu masih betah tinggal di dalam alam mimpi.


Aku dan juga Anggun berdiri di samping ranjang Liora. Aku sedikit menundukkan tubuh dan mengarahkan bibir ini di dekat telinganya kemudian membisikkan, “Liora, kita akan pergi berlibur, apakah kamu mau?” tanyaku padanya. Gadis kecil itu mulai mengerjapkan matanya seakan apa yang Aku katakan barusan sudah berhasil menariknya dari alam mimpi.


“Apakah kamu masih ingat suasana indah di puncak hotel waktu itu, ketika Mama dan juga Papa menginap di hotel beberapa bulan yang lalu,” bisik ku lagi padanya.


Liora yang masih memejamkan mata langsung mendudukkan tubuhnya kemudian mulai berdiri dari posisi duduknya itu tanpa membuka matanya. Aku dan juga Anggun menatap bingung kearah Liora.


“Sayang, kamu mau kemana?” tanyaku.


“Liora, mau ke kamar mandi,” sahutnya masih dengan memejamkan mata.


“Kamu mau apa?” tanyaku lagi.


“Ma, Liora mau mandi terus dandan yang cantik, kan kita mau berangkat,” sahutnya dengan polos.

__ADS_1


Aku mengigit bibir bagian bawahku gemas sekali melihat tingkahnya. Dia merespon ucapanku tanpa membuka matanya. Anggun hanya mengelengkan kepala melihat sikap Dedek kesayangannya ini.


__ADS_2