Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kenapa Mas Sadam Melihatku


__ADS_3

Aku tidak langsung menjawab apa yang ditanyakan oleh Mas Sadam. Kedua tangan ini aku gengam erat


bingung harus menjawab apa. Kini aku mantap ingin mengatakan yang sebenarnya bibir ini hampir saja terbuka namun suara langkah kaki yang mengetuk-ngetuk lantai marmer rumah ini membuat aku menoleh dan melihat ke asal suara tersebut ternyata itu adalah Mbak Tasya. Aku menelan bulat-bulat ucapan yang sudah siap keluar dari tenggorokan ini.


“Kalian berdua berbicara apa? Sampai air mukanya terlihat tegang sekali,” tanya Mbak Tasya pada kami berdua dan aku hanya bisa diam sembari mengusap peluh di jidat ini.


“Apakah sudah selesai mencuci piring?” tanya Mas Sadam sembari menaruh tangannya di udara untuk menyambut Mbak Tasya yang semakin melangkah mendekatinya.


Aku melihat Mbak Tasya tersenyum manis sembari memegang tangan Mas Sadam kemudian duduk diantara kami berdua dan kini Mbak Tasya duduk di tengah-tengah kami mengantikan posisi Liora duduk tadi.


“Kami sedang berbicara mengenai apa yang kamu inginkan besok,” Aku langsung menghembuskan nafas lega ketika mengetahui jika Mas Sadam


tidak berbicara yang sebenarnya.


“Aku minta uang saja, Sayang,” aku melihat Mbak Tasya mulai menaruh kepalanya di bahu Mas Sadam dan lelaki itu sendiri menaruh salah satu


tangannya di pundak Mbak Tasya. Entah mengapa aku mulai merasakan jika lingkup oksigen dalam paru-paru ini mulai habis melihat keduanya bermesraan seperti ini.


"Untuk apa kamu minta uang, bukankah satu Minggu yang lalu aku sudah memberikan 50 juta untuk kamu," dengan posisi kepala yang masih tertunduk aku membulatkan kedua mata hampir tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan, uang sebanyak itu dihabiskan dalam satu Minggu, orang kaya memang suka menghamburkan uang. Itulah yang aku pikirkan saat ini.


"Sayang, aku ingin membeli tas dan juga sepatu baru, boleh ya," kulihat tangan Mbak Tasya mengusap pelan dada bidang Mas Sadam seakan sedang merayu untuk diberikan uang.


Entah mengapa aku menjadi obat nyamuk diantara keduanya, seperti aku harus segera pergi sebab aku bisa terbakar api cemburu jika terus berada disini.

__ADS_1


“Mas Sadam, Mbak Tasya. Saya mau pergi ke dapur terlebih dahulu,” pamitku pada keduanya dan aku langsung berdiri dari posisi duduk saat melihat Mas Sadam mengganggukkan kepala pelan tanda setuju.


Aku mengigit bibir bagian bawah menahan rasa sakit di dada. Ya Tuhan kenapa aku harus cemburu dan juga sakit hati melihat Mbak Tasya dan juga Mas Sadam bermesraan seperti ini apakah karena aku tahu jika sebenarnya Mbak Tasya tidak menyukai Mas Sadam dan wanita itu hanya menginginkan uangnya saja? Ku mohon pada hatiku sendiri untuk tetap tenang melihat adegan seperti ini setiap harinya.


Aku sudah berada di dapur dan mata ini seketika membola penuh saat melihat tumpukan piring kotor yang masih belum tersentuh di atas


wastafel. Aku hanya bisa mencebikkan bibirku ketika mendapati firasatku ternyata


benar mengenai Mbak Tasya yang tidak akan pernah mau menyentuh benda di dapur ini.


“Kenapa hanya di tatap saja piring kotor itu! Cepat cuci sana, dasar pelayan tidak tahu diri,” aku langsung tahu siapa pemilik suara ini barusan, siapa lagi jika bukan Mbak Tasya orangnya. Aku memutar tubuhku


menghadap kearah wanita itu, Mbak Tasya kini sedang menaruh kedua tangannya di dada sembari memberikan tatapan tajam penuh perintah padaku.


“Awas jika kamu sampai berani bilang pada, Mas Sadam jika aku tidak benar-benar membersihkan piring kotor ini,” kudengar Mbak Tasya


mengancam ku, tapi aku tetap melangkah mendekati wastafel tanpa melihatnya. “kamu memang cocok sekali menjadi seorang pelayan,” sambungnya lagi masih belum puas


menghinaku.


***


Hari ini aku akan pergi ke Mall bersama dengan Liora dan juga Mas Sadam, aku melihat tumpukan baju di dalam lemariku, tidak ada baju

__ADS_1


yang bagus untuk aku pakai sedangkan tidak mungkin jika aku mengunakan baju yang sudah usang untuk pergi bersama dengan Mas Sadam, lalu apa yang akan di


ucapkan oleh orang lain nantinya. Aku langsung tersenyum miris saat mengetahui jika mungkin diluar sana tidak akan ada orang yang tahu jika aku adalah istri Mas Sadam, kenapa aku begitu bodoh sekali dan ini secara tidak langsung aku menertawakan diri sendiri yang terlalu berharap.


Aku mengambil celana jeans berwarna hitam dengan kaos oblong putih polos kemudian aku juga memakai sepatu berwarna senada dengan celanaku. Aku menyisir rambutku awalnya ingin aku kuncir kuda seperti biasanya, tapi sekarang aku akan membiarkan rambut panjang ini tergerak begitu saja dan tidak lupa aku juga memoles lipstik dengan warna merah jambu agar terlihat lebih natural, aku juga memakai bedak baby di wajahku, ya walaupun aku sudah bukan anak kecil lagi tapi aku lebih suka menggunakan bedak itu mungkin karena sudah terbiasa dan juga harganya yang murah ehehe.


Kudengar suara pintu kamarku di ketuk oleh seseorang. Aku segera melangkah untuk membuka pintu dan ku lihat Liora tersenyum manis padaku sembari berkata.


"Mama Sifana, cantik sekali," puji anak kecil itu dengan manik mata tampak mengamati wajahku.


Aku membungkukkan tubuh kemudian mencubit kedua pipinya sembari berkata, "Kamu pintar sekali jika memuji orang," lalu aku membenarkan poni Liora yang sedikit berantakan mungkin karena gadis kecil ini tadi berlari menuju ke kamarku.


"Liora, berkata jujur, Mama Sifana sangat cantik sekali," dia mengulangi ucapannya sebelumnya dengan air muka yang bersungguh-sungguh. "ayo kita berangkat sekarang, Papa sudah menunggu di dalam mobil."


"Apakah Mama Tasya ikut?" tanyaku memastikan.


Kulihat gadis kecil itu menggelengkan kepala pelan lalu berkata, "Mama Tasya, tidak ikut dia sakit kepala dan sekarang sedang tidur," sahutnya sembari mengandeng tanganku menuju ke pintu rumah ini.


Setelah me dengarkan jawaban Liora aku langsung diam tidak berkomentar sebab aku tahu jika Mbak Tasya hanya pura-pura saja.


Aku dan juga Liora melangkah keluar dari pintu rumah ini dan persis dengan apa yang dikatakan oleh Liora tadi jika Mas Sadam sudah menunggu di dalam mobil, jelas sekali terlihat dari luar jika lelaki itu kini sedang sibuk mengotak-atik ponselnya dari kaca mobil yang transparan. Aku membukakan pintu belakang untuk Liora karena gadis itu ingin duduk di belakang, sekilas aku merasa seperti ada orang yang sedang mengamati aku dari jendela atas tepat kamar Mbak Tasya, aku berlagak acuh lalu ikut masuk kedalam mobil dan duduk di samping Liora.


Mas Sadam yang mengetahui kami sudah berada didalam mobil segera memasukkan ponsel ke saku celananya lalu menatap kearah Liora, tapi satu detik kemudian lelaki itu menatap ke arahku, manik matanya seakan mengamati wajahku dan juga penampilanku hingga akhirnya mata gelap lelaki itu berhenti melihat bibirku dengan dahi yang sedikit berkerut.

__ADS_1


Kira-kira apa, ya yang kini sedang di pikirkan oleh Sadam? Komentar yuks dan jangan lupa follow aku IG Khairin_junior.


__ADS_2