
“Ma, jangan pernah memaksa, Mas Sadam seperti ini karena Sifana sudah sangat bahagia sekali melihat Mas Sadam mau mengakui Sifana sebagai istri dan bukan pelayan lagi,”
aku menatap Mama Elsa dengan tatapan memohon sesekali aku menghirup nafas pelan untuk mengatur degup jantung ini yang mulai meronta hendak keluar dari
kodratnya. Aku tidak siap jika harus tidur satu kamar dengan lelaki lain, ya
walaupun Mas Sadam adalah suamiku.
“Baiklah, Sadam akan menuruti permintaan, Mama,” aku langsung menoleh kasar menatap kearah Mas Sadam, kenapa lelaki itu justru ingin
satu kamar denganku, aku mulai merasakan kedua buku tangan ini diselimuti oleh keringat dingin karena kaget mendengar ucapan suamiku yang tidak pernah aku duga sebelumnya.
“Kamu masuk kedalam kamar terlebih dahulu, Mama ingin berbicara berdua dengan, Sifana,” aku melihat Mas Sadam langsung beranjak
bangkit dari posisi duduknya samar-samar terdengar dengusan kasar keluar dari bibirnya, lelaki itu pasti sedang menahan amarahnya sekarang.
Mama Elsa berdiri dari posisi duduknya lalu wanita paruh baya
itu berpindah di sampingku. Ia langsung memelukku dan mengatakan kata maaf berkali-kali kemudian melepaskan perlahan pelukannya. Mama Elsa meminta maaf karena tadi tidak ikut membantu aku waktu di permalukan oleh pelayan toko itu padahal dengan jelas ia bisa melihat apa yang terjadi di depan matanya. Aku langsung mengganggukkan kepala mengerti sebab Mama Elsa sedang bersama Liora dan gadis kecil tidak sebaiknya melihat penindasan terjadi pada orang terdekatnya sebab Liora sangat pintar jadi akan dengan mudah mencerna apa yang terjadi disekitarnya dengan sangat mudah. Tapi Mama Elsa mengatakan jika bukan itu masalahnya bahkan aku juga melihat air muka bersalah tergambar jelas dari tatapannya yang sendu, ternyata Mama Elsa sengaja tidak membantu aku karena ingin melihat apa yang putranya lakukan dan dari situ Mama Elsa mulai
mengetahui kalau Mas Sadam sudah mulai memiliki perasaan padaku.
Aku menceritakan tentang semua hal yang terjadi mengenai Mas Sadam yang menaruh pengawal untuk menjagaku ketika aku keluar dari rumah malam itu waktu anggun melakukan operasi. Tapi aku tidak menceritakan tentang sikap Mbak Tasya yang kejam padaku tapi baik dihadapan Mas Sadam, namun Mama Elsa sudah bisa menebak semuanya dengan sangat jelas, ya mama mertuaku ini terlalu pintar untuk dibohongi apa lagi aku tidak pandai berbohong.
“Ma, apakah tidak sebaiknya kita menghubungi, Mbak Tasya dan
menyuruhnya datang kemari?” aku ikut berdiri ketika melihat Mama Elsa sudah lebih dahulu beranjak berdiri dari posisi duduknya lalu aku menatap manik mata berwarna karamel itu penuh tanya.
“Kamu pergilah ke kamar biar, Mama yang mengurus sisanya,” aku langsung mengganggukkan kepala patuh dan tidak ingin banyak bicara.
Aku sudah tahu seluk-beluk rumah ini karena sudah pernah beberapa kali berkunjung kemari waktu masih menjadi pelayan dahulu. Kedua
__ADS_1
tanganku menggengam erat paper bag, setiap langkah ini semakin mengikis jarak antara aku dan juga pintu ruangan kamar Mas Sadam, aku merasakan jantungku berpacu semakin cepat dan semakin cepat seakan telinga ini bisa mendengarkan
debaran jantung sendiri. Aku hendak mengarahkan tangan ini untuk memutar handle pintu akan tetapi aku tidak berani dan akhirnya aku lebih memilih menyandarkan punggung di pintu ini tanpa berniat masuk kedalamnya.
“Ya Tuhan bagaimana ini, aku sangat gugup sekali bagaimana nanti jika Mas Sadam marah padaku karena Mama Elsa menyuruh kami tidur dalam satu kamar,” aku menundukkan kepala sibuk dengan pikiranku sendiri. “huaaa,” teriakku ketika merasakan tubuhku jatuh begitu saja kebelakang karena seseorang
membuka pintu kamar ini dan itu pasti Mas Sadam.
“Kenapa kamu bersandar di pintu?” ya, aku langsung membuka mata dan cepat-cepat beranjak bangkit dari dekapan suamiku. Lelaki ini selalu saja sigap memegangi aku ketika hendak terjatuh.
“Ma-maaf, Mas Sadam,” ucapku padanya tanpa berani mengangkat
pandangan.
“Kenapa kamu selalu meminta maaf, memangnya apa salah kamu?”
aku memainkan kuku jadi ini karena merasa gugup dengan bibir bawah yang aku gigit keras.
Aku terkejut melihat Mas Sadam mengangkat daguku mengunakan
jari telunjuknya. “Kamu tidak bersalah karena aku sendiri yang menyetujuinya,” aku menatap manik mata gelap itu dengan intens dan aku juga bisa melihat bakal janggut yang semakin mempertegas pahatan wajah suamiku, saat aku bersamanya
waktu seakan berjalan lambat bahkan setiap detik saja terasa lama sekali.
“Tetap saja karena saya, Mas Sadam jadi menikahi saya,” ucapku sembari memutuskan pandangan itu kearah lain. Aku bisa pingsan jika terus bertatapan mata dengannya.
“Sudah jangan banyak berpikir, cepatlah mandi dan gunakan
baju yang kamu beli tadi dan ingat satu hal, aku tidak mau melihat kamu memakai baju yang sudah usang karena kau sekarang adalah istriku dan aku tidak bisa melihat wanitaku di hina oleh orang lain siapapun itu,” apakah karena ikatan ini juga Mas Sadam tidak mau sampai ada orang lain sampai menghina Mbak Tasya
termasuk kedua orangtuanya sendiri.
__ADS_1
“Kamu menunggu apa lagi, lekas lah masuk dan bersihkan tubuh kamu,” aku menjatuhkan rahang melihat lelaki itu tersenyum padaku, ya Tuhan dia tampan sekali andaikan bisa aku ingin berlama-lama menatap wajah tampannya itu.
***
Kini aku baru saja selesai mandi dan sudah mengunakan baju pilihan Mas Sadam, lelaki itu memilihkan baju berwarna merah dengan desain
simpel baju ini memiliki lengan panjang dan bagian bawah hanya sampai lutut saja, tidak terlalu terbuka tapi terlihat sangat indah dan juga pantas sekali ketika aku gunakan. Aku sedang duduk di meja rias lalu memakai lipstik merah
jambu di bibirku, ini adalah lipstik yang di pilih oleh Mama Elsa tadi. Aku
tidak mengunakan make up karena merasa tidak nyaman saja mengunakannya.
Aku mulai berdiri dari posisi dudukku lalu menatap pantulan wajahku di cermin, aku terlihat cantik sekali ketika mengunakan baju merah ini
bahkan kulitku yang putih terlihat kontras dengan warna baju ini dengan
senyuman yang mengembang sempurna di bibir ini aku memutar tubuhku kesana-kemari tanpa mengalihkan tatapan mataku dari cermin di meja rias ini. Aku
berputar perlahan dan tanpa sengaja melihat sosok yang tidak asing sedang bersandar di pintu kamar ini sembari menaruh kedua tangannya di dada dan satu kakinya tersilang kedepan.
“Ma-mas Sadam, sejak kapan berada di sini?” kenapa telingaku menjadi tidak bisa mendengar ketika pintu ruangan kamar ini terbuka. Tadi saat
keluar dari kamar mandi aku sudah memastikan jika Mas Sadam tidak sedang berada di dalam ruangan ini.
Aku langsung menundukkan kepala dengan kedua tangan saling
memegang satu sama lain, kini jarak antara aku dan juga Mas Sadam mulai terkikis. Kini lelaki itu sudah berdiri di hadapanku lalu tangannya mengangkat dagu ini perlahan aku menatap manik matanya yang tidak bergerak saat menatapku. Ini tidak benar kenapa jarak diantara wajah kami semakin dekat sampai aku bisa
merasakan hembusan hangat nafas Mas Sadam di wajah ini.
Ayo komentar dan juga Vote yang banyak biar di kasih crazy up dan jangan lupa berikan favorit novel ini ya.
__ADS_1