Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kamu Tidak Sendirian


__ADS_3

Selama di dalam perjalanan aku hanya menatap kearah jendela mobil. Aku melihat beberapa pejalan kaki berbicara dengan temannya dan ada juga lelaki yang sedang duduk di pinggir jalan sembari meneguk air dalam botol kemasan untuk menghilangkan rasa lelah usai olah raga menggunakan sepedah dan aku


juga melihat seorang anak kecil yang sedang bersalaman dengan ibunya sebelum masuk ke sekolah. Jantungku berdetak kencang sekali dan entah kenapa setiap berada di samping Mas Sadam jarum jam seakan berdetak perlahan. Mentari bersinar dengan sangat cerah seakan ia juga ikut bahagia melihat kami bersama.


“Sifana,” aku langsung mengalihkan padangan ketika namaku di panggil dengan nada lembut sekali olehnya.


“Ya,” sahutku singkat.


“Apa yang, Anggun sukai?” aku melihat lelaki itu menatapku dengan penuh tanya hingga akhirnya dia kembali memusatkan perhatian kearah jalanan.


“Anggun suka lari pagi sebelum dia sakit, dia juga suka minum es jeruk dan juga jus alpukat, Anggun anak yang sangat pintar, dia selalu juara kelas sebelum dia sakit. Dia adikku yang sangat tegar dan juga tidak suka


merepotkan aku,” ucapku tanpa mengatakan yang lebih jelas lagi. Aku sudah berbicara dengan perlahan agar bibirku tidak bergetar saat menceritakan tentang kebiasaan adik yang sangat aku sayangi itu, tapi ternyata aku gagal melakukanya bahkan kini air mata bodoh ini menetes begitu saja tanpa bisa aku


hentikan. Aku langsung mengalihkan pandangan kearah jendela sembari mengusap cepat cairan bening itu agar Mas Sadam tidak melihatnya. Ya, Tuhan kenapa aku sangat cengeng sekali jika sudah menyangkut tentang anggun.


Aku tersentak kaget ketika tangan hangat Mas Sadam menggenggam


tanganku kemudian mengusapnya perlahan, aku menatapnya hendak menjauhkan tangan tapi aku urungkan ketika melihat binar hangat dari pancaran matanya. “Aku adalah suami kamu, jadi jangan pernah bersikap tegar di hadapanku seperti ini, aku juga ingin mengusap air mata kamu ketika kamu bersedih,” lelaki itu

__ADS_1


tersenyum manis padaku seakan sedang memberikan motifasi jika kita akan melewatinya bersama.


Aku menghembuskan nafas lega ketika mengetahui mobil ini sudah sampai di tempat parkir rumah sakit tempat anggun berada. Aku melangkah mendahului Mas Sadam akan tetapi lelaki itu menarik ku dan mensejajarkan posisi kami berjalan. Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi Mas Sadam memohon padaku supaya mengijinkan dirinya menggenggam tanganku dan lelaki itu juga berjanji tidak akan pernah melakukan hal lebih dari ini. Mau tidak mau aku


memberikannya menggenggam tanganku, jantungku semakin berdetak kencang entah mengapa rasa benci di hatiku padanya mulai kalah dengan perasan cinta ini, sungguh menyebalkan sekali kenapa aku tidak bisa membencinya lebih dari ini apa lagi jika Mas Sadam memperlakukan aku dengan penuh kelembutan seperti sekarang.


“Apakah menurut kamu, Anggun akan menyukai semua baju ini?” aku tahu jika sekarang dia mencoba untuk membuka perbincangan diantara kami dan aku menghargai niatnya untuk meluluhkan hatiku.


“Tentu saja, Mas. Aku adalah Kakak yang buruk karena tidak pernah bisa memberikan yang terbaik untuk adik kesayanganku itu, bahkan aku juga tidak bisa memberikan baju yang bagus untuknya ataupun mainan yang pernah dia inginkan sejak kedua orangtua kami meninggal, aku membiayai kebutuhan Anggun, waktu itu aku masih menyekolahkan Anggun tapi ketika dia sakit aku tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya karena tidak memiliki biaya,” aku terdiam sesaat sembari memutar kedua bola mataku agar tidak sampai meneteskan air mata memilukan. “sudah lupakan saja, tidak seharusnya aku mengatakan ini semua.”


Aku langsung terkejut ketika Mas Sadam menarik ku kedalam dekapannya, “Mas Lepaskan,” ucapku padanya.


“Dengarkan aku, Sifana mulai sekarang apa yang akan anggun


berapapun. Dia akan sembuh biarkan Tuhan saja yang memegang hasil akhirnya yang terpenting kita berdua sudah berusaha yang terbaik,” aku menangis dalam pelukan Mas Sadam entah mengapa aku terharu, sekaligus merasa bahagia karena kini aku tidak sendirian.


Lelaki itu mengusap kedua cairan bening yang sudah menetes di kedua pipi ini, aku melihat beberapa orang yang berada di lorong rumah sakit


memperhatikan kearah kami sekilas tapi Mas Sadam seakan tidak perduli dan masih berfokus padaku, seluruh manik matanya hanya penuh akan sosok diriku dan aku merasa tenang melihat tatapan mata sendu itu sungguh menghangatkan hati.

__ADS_1


Usai mengetuk pintu ruangan Anggun berada aku dan juga Mas Sadam langsung masuk kedalam ruangan itu. Anggun sedang menonton televisi dengan posisi yang berbaring. Anggun menatapku lalu segera mendudukkan tubuhnya aku hendak membantunya tapi Mas Sadam melakukannya lebih dahulu, aku melihat Anggun mengerutkan keningnya seakan penasaran dengan Mas Sadam.


Anggun menatapku dan aku langsung mengganggukkan kepala menyuruhnya menurut ketika dibantuin oleh Mas Sadam.


"Mbak Sifa, ini siapa?" aku hendak membuka mulut untuk menjawab tapi lagi-lagi Mas Sadam mendahului aku.


"Perkenalkan, Kakak adalah suami mbak Sifana," aku melihat Mas Sadam mengulurkan tangannya pada Anggun tapi adik kecilku itu masih diam tidak membalas ukuran tangannya begitu saja.


"Mbak Sifa, apakah itu benar?" aku melihat sorot mata penuh tanya itu menatapku dalam seakan ia curiga akan suatu hal dan aku berharap Anggun tidak mengetahuinya-aku berharap dia tidak mengetahui aku menikah dengan lelaki ini untuk membayar biaya pengobatannya.


Aku hanya bisa menarik nafas dalam lalu menghembuskan dari mulut, sebenarnya aku tidak mau Anggun mengetahui tentang pernikahanku tidak sebelum dia sembuh.


"Anggun, perkenalkan lelaki ini namanya Mas Sadam dan apa yang dikatakan olehnya benar adanya, Mbak Sifa telah menikah dengannya dan selama ini yang membayar biaya pengobatan Anggun adalah, Mas Sadam." Aku melihat cairan bening sudah mulai menganak sungai di manik mata Anggun menunjukkan jika gadis kecil itu kecewa padaku-kecewa karena aku menyembunyikan semua ini darinya.


"Sejak dari awal, Anggun sudah mulai curiga dari mana Mbak Sifa mendapatkan banyak uang untuk membayar biaya pengobatan ini. Apakah Mbak Tasya menikah karena cinta atau karena terpaksa hanya agar bisa membuat Anggun tetap hidup di dunia ini?" aku tidak pernah melihat manik mata Anggun rapuh dan juga sedih seperti sekarang. Gadis kecilku yang kuat selalu menunjukkan sikap tegar seperti orang dewasa tapi kini semua ketegaran dan kekuatan itu melebur bersama kenyataan bahwa aku sudah menikah.


Aku memeluknya dan dia menangis di dadaku, aku membelai perlahan rambutnya yang panjang kemudian mencium kedua pipinya, aku mengusap satu tetes air mata yang jatuh di salah satu pipi pucat nya itu sembari berkata. "Mbak Tasya, menikah karena cinta bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu dan nenek yang selalu datang adalah Mama dari Mas Sadam, dia sangat menyayat Mbak Sifa dan begitu juga dengan Liora."


"Jika kenyataannya seperti itu, lalu kenapa Mbak Sifa menyembunyikan pernikahan ini."

__ADS_1


"Karena Mbak Sifa ingin mengatakannya jika Anggun sudah sembuh tapi Mas Sadam tidak bisa menunggu akan hal itu sebab ingin dekat dengan Anggun juga," aku menatap kearah Mas Sadam yang kini berdiri di sisi lain Liora. "Mas Sadam, memaksa Mbak Sifa untuk bertemu dengan Anggun, jika Anggun merasakan keberatan maka, Mas Sadam akan keluar saja."


Mas Sadam langsung berbalik arah tanpa menunggu jawaban dari Anggun.


__ADS_2