Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Sayang Kamu Cemburu


__ADS_3

Sifana Pov.


“Mas Sadam. Jangan macam-macam,” ucapku padanya dengan mengerutkan kening ini.


“Sayang, Aku hanya bercanda,” ucapnya sembari ******* bibirku lembut.


“Mas, ini rumah sakit bagaimana jika nanti ada yang lihat,” ucapku sembari menjauhkan tubuhnya dariku.


“Sayang, kamu jangan takut mana ada yang berani mengganggu kita.” Aku hanya bisa mencebikkan bibir melihat wajah santai yang di tunjukkan oleh suamiku ini.


“Dasar, anak tidak punya sopan.”


Aku dan juga Mas Sadam langsung beralih menatap ke asal suara itu. Manik mata ini melihat Mama Elsa berdiri di tengah-tengah ruangan ini sembari mengelengkan kepalanya, Aku melirik kearah Mas Sadam yang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Aku sendiri mulai merasakan jika kedua pipiku memanas karena malu.


“Kenapa Mama bisa berada di sini?” tanya Mas Sadam pada Mama Elsa. Jika di lihat dari gelagatnya Ia juga pasti malu sama seperti diriku.


“Mama bertemu pada di depan rumah sakit,” sahut Mama Elsa sembari menatapku.


Dengan posisi yang masih berbaring, Aku menundukkan kepala tidak berani menatap manik matanya itu. Malu sekali ketahui berciuman oleh Mama mertua sendiri.


“Lalu siapa yang menjaga Anggun dan juga Liora?” tanya Mas Sadam.


“Mama menyuruh Satpam yang menjaganya tadi,” sahut Mama Elsa sembari menaruh tas jinjingnya di atas nakas kemudian duduk di kursi yang sempat Mas Sadam duduki tadi.


“Sadam, Kamu bawa Sifa ke hotel saja. Lukanya tidak parah jadi masih bisa di pantau oleh Dokter. Di sini banyak sekalian anak sekolah yang masih magang, Mama takut tingkah kamu itu menodai mata polos mereka.” Aku langsung menggigiti bibir bagian bawah ini merasa malu sekali.


Semua karena tingkah iseng suamiku itu, dia benar-benar manusia langkah yang bisa melakukan segala cara. Bahkan saat istri sakit juga bisa-bisanya di goda. Menyebalkan sekali.


“Ma, hanya begitu saja. Jangan di bahas terus lihat itu Istriku malu.” Ingin sekali Aku cubit pinggang suamiku agar tidak asal bicara seperti ini. Apakah urat malunya sudah putus.

__ADS_1


“Sifana, Kamu tidak usah malu. Mama bisa memahami sikap suami kamu yang menyebalkan ini,” ucap Mama Elsa sembari mengusap lembut punggung tanganku.


“Terserah Mama saja.”


“Sifana bagaimana kondisi kamu?” tanya Mama Elsa padaku.


“Ma, Sifa baik-baik saja,” sahutku sembari mengulas senyuman manis. Aku hendak mendudukkan tubuh ini akan tetapi Mama Elsa langsung melarang ku hingga membuat Aku kembali menyandarkan punggung ini di ranjang rumah sakit.


“Sifana, Kamu fokus saja sama pemulihan kamu biar Mama yang menjaga Anggun dan juga Liora,” ucap Mama Elsa.


“Ma, Anggun akan curiga jika tidak melihat Sifa selama beberapa hari,” ucapku dengan cemas.


“Mama akan mengatakan kalau kamu sedang ikut, Sadam keluar kota karena ada urusan yang penting. Mama percaya jika Anggun akan mengerti,” sahut Mama Elsa padaku.


“Ma, terima kasih karena selama ini selalu membantu Sifa dan juga menjaga Anggun,” ucapku padanya.


“Sayang, ini untuk kali terakhir kamu mengucapkan terima kasih karena Mama sudah menganggap kamu seperti anak kandung sendiri.” Mama Elsa berdiri dari posisi duduknya kemudian mengecup keningku.


“Sayang, selama menikah kita masih belum pernah berbulan madu maka sekaranglah saatnya,” ucap Mas Sadam ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil.


"Mas, kamu jangan bercanda untuk bernafas saja perutku masih sakit apalagi melakukan hal itu," keluhku sembari mengerucutkan bibir ketika menatapnya.


Mas Sadam mengusap perlahan puncak kepalaku sembari tersenyum, lalu dia berkata, "Sayang, Aku sedang bercanda. Kenapa wajah kamu sangat mengemaskan sekali dan itu membuat aku semakin ingin melakukannya sungguhan." Ingin Aku gigit pundaknya itu, Dia suka mempermainkan aku.


"Mas Sadam, berhentilah menggodaku," ucapku dengan suara memelas.


"Baiklah, kali ini kamu lolos tapi nanti jika sudah sembuh, Aku akan meminta jatah dobel." Aku hanya memasang wajah datar melihat ucapan suamiku itu.


Kini Mas Sadam sudah mulai fokus mengemudikan mobil ini. Aku menatap kearah jendela mobil dan melihat cuaca di sore ini cukup cerah sekali. Aku bergerak sedikit dan rasa nyeri bekas jahitan membuatku meringis kesakitan.

__ADS_1


"Auch," rintihku tanpa sadar.


Mas Sadam langsungnya menepikan mobilnya usai mendengarkan keluhan ku. "Sayang, apakah rasanya sangat sakit sekali?" tanya Mas Sadam padaku dengan wajah terlihat panik.


"Tidak masalah Mas, Aku tadi hanya terlalu lama bergerak," bohongku padanya.


"Aku akan mencari restoran, kamu minum obatnya sekarang saja biar tidak terasa nyeri lukanya." Usai bicara Mas Sadam kembali mengemudikan mobilnya.


"Mas Sadam, menyetir menggunakan dua tangan saja," pintaku padanya. Dia sangat mencemaskan Aku dan sekarang satu tangannya yang lain memegangi tanganku seakan Ia tidak mau jika Aku merasakan sakit ini sendirian.


Mas Sadam menarik pandangannya padaku sembari berkata, "Sayang, jika kamu masih merasa kesakitan, cakar saja tanganku." Aku melihat matanya berkilat penuh ketulusan.


Mbak Tasya sungguh bodoh sekali karena telah menyia-nyiakan lelaki sebaik Mas Sadam.


"Mas, Aku tidak mungkin menyakiti kamu. Sudah sana fokus mengemudikan mobil saja, takut jika nanti malah keluar jalur karena kami sibuk menatap aku," ucapku padanya. Mas Sadam terkekeh sembari mengganggukkan kepalanya.


Aku dan juga Mas Sadam sudah berada di restoran. Mas Sadam memilih restoran yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan. Dan restoran ini menjual makanan tradisional, Mas Sadam pasti tahu jika Aku suka makanan Jawa. Dia sangat romantis sekali apakah kalian setuju?


"Saya pesan, Dua porsi nasi goreng dan jangan lupa berikan irisan mentimun dan juga kubis mentah. Dan saya juga pesan 1 steak daging dengan kematangan medium." Mas Sadam tahu saja jika Aku ingin makan nasi goreng dan dia juga ingat kalau aku selalu suka kubis mentah sebagai pendamping nasi goreng itu. Aku tidak pernah menyangka jika diam-diam suamiku selalu memperhatikanku Dia memang yang terbaik.


"Minumannya apa, Pak?" tanya pelayan wanita itu. Entah mengapa aku merasa jika pelayan wanita itu sengaja ingin menggoda Mas Sadam hal itu terlihat dengan sangat jelas dari suaranya yang terdengar menggoda sampai membuat telingaku merasa gatal mendengarnya.


"Satu teh hangat dan satu jus alpukat." Mas Sadam menatap wanita itu sekilas kemudian menarik pandangannya padaku.


"Sudah saya catat pesanannya." Aku mencebikkan bibir melihat gelagat wanita itu.


"Sayang, kenapa kamu cemberut seperti ini?" tanya Mas Sadam padaku setelah pelayan itu pergi.


"Tidak apa-apa," sahutku jutek.

__ADS_1


"Apakah kamu kita, aku tidak tahu jika kamu sedang cemburu dengan pelayan restoran itu tadi." Tebakan Mas Sadam tepat sekali.


"Aku tidak cemburu," tangkis ku cepat tanpa berani menatapnya.


__ADS_2