Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Tidak Ingin Pergi Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Aku melihat Liora mengerutkan keningnya sembari menatapku lalu berkata, “Saudara? Siapa itu kenapa Liora baru tahu.” Aku hanya tersenyum kecil mengetahui jawaban dari Liora barusan, Aku sudah bisa menebak apa yang akan bocah pintar ini katakan.


Aku terdiam karena aku tidak ingin menjawab pertanyaan Liora karena itu bukan kapasitas ku lebih lagi aku takut jika salah bicara. AKu melirik kearah Mas Sadam dan juga Mama Elsa secara bergantian meminta bantuan pada kedua orang itu untuk menjelaskan pada Liora.


Aku melihat Mas Sadam mulai berjongkok dihadapan Liora mensejajarkan tinggi mereka. “Liora, namanya adalah Bintang, dia tidak seberuntung kamu, Dia meninggal saat dilahirkan,” jelas Mas Sadam pada Liora.


Aku memutar kedua bola mataku agar tidak meneteskan air mata. Melihat manik mata Mas Sadam mulai berkaca-kaca hal itu membuatku ikut sedih dan hatiku merasa pilu seketika.


“Namanya Bintang, nama yang bagus,” sahut Liora. “Siapa ibu dari bintang?” tanya Liora lagi yang masih merasa penasaran. Aku tahu Liora anak pintar jadi Dia tidak akan berhenti bertanya sebelum mengetahui semuanya.


“Dia anak, Papa juga sama seperti kamu.” Aku mendengar suara Mas Sadam mulai serah sekarang.


Liora langsung memeluk Mas Sadam sembari berkata. “Papa jangan sedih, Liora ada disini, adek Bintang pasti sudah bersama Tuhan sekarang, dia akan bahagia.” Aku mengusap cairan bening yang lolos dari pelupuk mata ini tanpa bisa aku kendalikan.


“Ya, sudah sekarang ayo kita jenguk dia,” pinta Mama Elsa.


“Ayo, Nenek kika jenguk Adek, Liora.” Aku melihat Liora tersenyum manis. “Papa, Ayo,” ajak Liora.


“Ayo, sayang.”


***


Kini mobil kami sudah sampai di pemakaman umum, Aku dan juga yang lain berjalan melewati setiap batu nisan yang ada didalam pemakaman ini. Mas Sadam berjalan didepan sembari mengandeng Liora.


Langkah kami semua terhenti ketika Mas Sadam juga menghentikan langkahnya di satu Nisan yang bertuliskan nama Bintang. Aku melihat cat yang masih baru menempel di nisan itu. Oh Tuhan, apakah Mbak Tasya tidak memberikan nama pada bayinya sendiri, kenapa dia sangat kejam sekali walaupun bayi ini sudah meninggal akan tetapi itu adalah darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


Kami semua duduk di pinggir makan itu. Aku melihat Mama Elsa langsung menitihkan air matanya dalam diam, air mata.itu menetes keluar dari kaca mata hitam yang sedang Ia kenakan. Mas Sadam mengusap sudut matanya yang mulai berair. Aku melihat Papa Damar mulai mengusap batu nisan cucunya. Langit yang tadinya cerah kini mulai di tutupi oleh awan hitam dan hal itu membuat redup kecerahan di bumi. Semesta seakan ikut bersedih bersama dengan keluarga Erlanga.


“Bintang, Sayang itu nama yang Papa berikan untuk kamu, maafkan Papa jika sejak lahir Papa tidak pernah menyentuh kamu atau mungkin Papa tidak bisa melihat wajah cantik kamu, tapi percayalah Papa tidak pernah menginginkan semua itu, kamu tetap anak Papa yang cantik sekali,” ucap Mas Sadam sembari mengambil nafas dalam. Aku melihat satu tetes air mata lolos dari pipinya.


Bibirku langsung gemetar melihat akan hal itu, lelaki yang selama ini tidak pernah menitihkan air mata kini menangis di pusara anaknya. Aku mengusap pelan punggung Mas Sadam mencoba menguatkannya dan menyalurkan ketenangan untuknya.


Angin menghembuskan pelan membawa debu-debu terbang berseri dedaunan kering. Pohon-pohon yang menjulang tinggi bergerak kesana-kemari mengikuti nafas angin membawanya.


“Sayang, Nenek juga minta maaf karena tidak bisa mengendong atau mencium kamu, kami semua sangat menyayangi kamu dan berharap kamu mengerti akan semua kondisi ini,” Mama Elsa bicara sembari menitihkan air mata. Dan aku hanya bisa menahan isak tangis ini.


“Kami semua sangat-sangat menyayangi kamu, Bintang. Jika ada kehidupan setelah ini kami semua berharap kalau kamu akan hadir didalam keluarga kami.” Aku melihat Papa Damar mulai menaburkan bunga ke atas gundukan makam ini.


“Adek, Bintang. Mbak Liora sangat sayang-sayang sekali pada kamu.” Liora bicara dengan tangan ikut menaburkan bunga mawar ke atas makam adeknya itu.


Aku mengusap air mataku dengan tissue. Entah mengapa aku mulai merasakan jika perutku seperti sedang diaduk-aduk aku mulai merasakan jika empedu ku naik ke tenggorokan dan lidahnya mencecap pahit padahal tadi pagi aku sudah makan. Aku yang semula berdiri langsung berjongkok sembari memegangi kepalaku yang terasa pusing sekali.


“Mas, kenapa pusing sekali, aku merasa tidak nyaman,” ucapku sembari memegangi tangannya.


Mama Elsa dan juga yang lain ikut panik melihat wajahku yang pucat pasih. Dan mereka memutuskan segera membawaku pulang kembali ke rumah. Di dalam mobil, aku menyandarkan kepalaku di dada bidang suamiku, entah mengapa aku menyukai wangi parfum maskulin yang menyeruak masuk kedalam indra penciumanku.


“Kita pergi ke rumah sakit saja sekarang.” Aku mendengarkan suara Papa Damar berbicara. Kini Papa Damar yang bergantian menyetir mobil.


“Tidak, Pa. Aku pasti hanya masuk angin saja atau mungkin asam lambungku naik dan hal itu membuat kepalaku pusing,” sahutku padanya.


“Sifana, kita harus tetap ke rumah sakit sekarang. Mama tidak ingin melihat kamu sakit,” tegas Mama Elsa.

__ADS_1


“Ma, jika sampai besok Sifa masih sakit maka besok Sifa sendiri yang akan mengajak Mama ke rumah sakit,” rengekku padanya. Aku merasa tidak sakit bahkan wangi Mas Sadam saja sudah bisa membuatku nyaman.


“Baiklah kalau begitu.” Mas Sadam Ikut menimpali perbincangan kami bertiga.


“Mama, sekarang manja sekali sama Papa.” Aku langsung menoleh kearah Liora yang sedang menatapku dengan wajah marah.


“Liora, Mama sifa sedang sakit jadi tidak boleh bicara seperti itu,” ucap Anggun dari arah belakang kami.


“Mbak Anggun, lihatlah itu. Papa malah memeluk Mama Sifa bukannya Liora,” keluh gadis kecil itu dan kami semua terkekeh setelah mengetahui alasan dia marah padaku.


Ya, benar Liora sedang merasa cemburu karena akhir-akhir ini Mas Sadam selalu bersikap baik padaku bahkan lelaki itu selalu menyuapi aku ketika makan. Aku bukannya marah malah gemas sekali melihat tingkah si kecil Liora.


“Nanti setelah sampai rumah, Papa akan mengendong Liora supaya kamu tidak marah lagi pada Mama Sifana.” Aku melirik kearah Liora yang langsung tersenyum manis. Dia lucu sekali wajahnya langsung berubah menjadi sumringah ketika mengetahui jika Mas Sama akan menggendongnya.


“Awas saja kalau sampai Papa bohong.” Ancam Liora dengan wajahnya yang dibuat garang.


“Memangnya kalau Papa bohong, Liora mau apa?” tanya Mas Sadam.


“Liora tidak akan mau dekat lagi dengan, Papa dan Liora tidak akan mau di cium oleh Papa.” Ancaman itu membuat Mas Sadam mengigit bibir bagian bawahnya. Siapa yang tidak gemas mendengarkan ancaman polos itu.


“Papa pasti kalah, karena Papa tidak akan bisa jauh dari Liora.” Mas Sadam langsung mengusap kepala Liora.


“Ma, apakah masih merasa pusing?” tanya Liora padaku. Tadi dia merasa cemburu padaku dan lihatlah itu sekarang, Liora mulai khawatir padaku.


“Tidak, Mama sudah membaik,” sahutku padanya.

__ADS_1


Berikan Gif untuk author jika berkenan ehehehe.


__ADS_2