Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Suami Siaga


__ADS_3

Setelah dijelaskan panjang lebar oleh Mama Elsa akhirnya Liora mengerti juga. Kami semua masuk kedalam rumah begitu juga dengan Mas Sadam.


“Mas, kamu tidak kembali ke kantor?” tanyaku pada Mas Sadam yang kini sedang berjalan di sampingku.


“Tidak, aku bekerja dari rumah saja lagi pula sebentar lagi akan tiba waktunya makan siang,” sahut Mas Sadam padaku. Dan aku hanya bisa mengganggukkan kepala saja.


“Mas kamu langsung naik ke kamar saja biar aku bantu Mama Elsa membuat makan siang,” pintaku padanya.


Mama Elsa yang mendengarkan ucapannku barusan langsung menghentikan langkahnya dan ia kini menatap kearahku sembari berkata, “Sifana, kamu pasti lelah habis dari rumah sakit jadi sebaiknya kamu istirahat lebih dahulu nanti saat semua makanan telah matang akan Mama Elsa panggil,” ucap Mama Elsa padaku sembari mengusap lengan tangan ini.


“Ma, Sifana nggak merasa lelah, jadi biar Sifana bantu Mama saja,” sahutku padanya. Aku merasa tidak enak hati saja jika melihat Mama mertuaku menyiapkan makan siang untuk kami semua sedangkan aku sendiri rebahan didalam kamar.


“Sayang, apa yang barusan dikatakan oleh Mama itu benar. Kamu istirahat saja biar aku yang bantu Mama di dapur,” sambung Mas Sadam. Ia pasti tahu jika sekarang aku merasa kurang nyaman.


“Mas, yang perlu istirahat itu kamu karena tadi kamu sempat muntah-munta di pinggir jalan.” Aku mencoba untuk mengingtakan apa yang terjadi pada suamiku tadi.


“Sadam muntah lagi?” tanya Mama Elsa.


“Iya, Ma,” sahutku cepat.


“Kalian berdua lekas istirahat. Mama akan membuat makan siang sendiri.” Melihat tatapan memohon yang Mama Elsa tunjukkan itu membuat aku dan juga Mas Sadam tidak bisa menolaknya.


“Ma, maaf,” ucapku lagi.


“Kamu tidak bersalah kenapa harus minta maaf. Kamu sedang mengandung dan membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat jadi tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting.” Mama Elsa bicara dengan bersungguh-sungguh.

__ADS_1


“Baiklah, ma,” sahutku. Aku melihat Mama Elsa berjalan dibelakang Anggun dan juga Liora.


“Sayang, ayo aku bantu kamu untuk menaiki anak tangga rumah ini.” Aku membalas ucapan Mas Sadam dengan senyuman manis. Dan kami berdua melangkah perlahan menaiki anak tangga rumah ini.


Setelah di dalam kamar aku langsung berganti baju rumahan dan membersihkan tubuhku. Setelah aku keluar dari kamar mandi Mas Sadam bergantian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Aku merasakan lelah sekali kemudian aku putuskan untuk merebahkan tubuhku di atas ranjang, aku mulai merasakan kepala ini berat dan tanpa sadar aku langsung masuk kedalam alam mimpi.


Aku mengerjapkan mataku dan mengucek kedua mataku mengunakan tangan secara bersamaan aku melihat Mas Sadam melangkah masuk kedalam ruangan kamar ini dengan tangan membawa nampan berisikan satu piring nasi tapi dengan isian lebih banyak dari biasanya. Aku menatap kearah jam dinding dan ini sudah waktunya makan siang.


“Mas, maaf jika aku ketiduran,” ucapku padanya malu.


“Tidak masalah, Sayang. Mama tadi meminta padaku untuk tidak membangunkan kamu karena ia tahu kamu pasti lelah,” jelas Mas Sadam.


“Mas, aku malu sekali masak aku menantunya enak-enakan tidur sedangkan Mama Elsa sendiri sibuk memuatkan makan siang untuk kita semua,” aku menundukkan kepalaku . merasa bersalah sekali.


Mas Sadam memelukku lalu berkata, “Jika kamu tidak hamil bukankah biasaya kamu juga akan memasak bersama Mama di dapur,” ucap Mas Sadam padaku. Lelaki ini tahu sekali cara menenagkan hatiku dan mujarab sekali kata yang barusan keluar dari bibirnya sungguh membuat aku tenang.


“Aku tahu kamu pasti lapar jadi ayo kita makan sekarang.”


Seperti biasa aku dan juga Mas Sadam makan bergantian saling menyuapi satu sama lain. Tidak ada yang menyangka jika awal menikah Mas Sadam sangat membenciku bahkan menatap wajahku saja ia tidak sudi tapi lihatlah sekarang lelaki ini sangat menyayangi dan juga menjagaku. Terkadang aku masih mengira jika ini semua seperti mimpi tapi aku bagiku sadar semuanya nyata dan kebahagiaan ini semua langeng selamanya seperti hubunganku dengan Mas Sadam semoga hanya maut saja yang bisa memisahkan kita.


***


Sore hari ini langit nampak indah sekali. Aku sedang berdiri di depan balkon kamar ini menatap kearah teras rumah dimana Liora dan juga Anggun sedang bermain sepeda. Keduanya bernyanyi dan juga sesekali tertawa ketika merasa ada candaan yang menurut mereka lucu. Aish, melihat tingkah keduanya aku kembali teringat akan masa kecilku dan aku juga baru ingat satu hal. Ketika aku masih kecil, aku juga terus meminta pada almarhumah ibu, aku meminta adik agar jika didalam rumah ada saudara yang bisa aku ajak bermain dan akhirnya datanglah Anggun. Aku baru sadar jika tingkahku sewaktu kecil tidak beda jauh dengan Liora.


“Sayang, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanya Mas Sadam sembari berdiri di sampingku.

__ADS_1


“Eh, Mas Sadam.” Ucapku kaku sekaligus malu karena ketahuan senyum-senyum sendiri. “Aku melihat tingkah Liora dan juga Anggun yang sangat mengemaskan sekali, jadi ingat masa kecilkubdulu Mas,” jelasku padanya.


“Iya, kamu benar sekali Sayang,” sahut Mas Sadam sembari mengandeng tanganku.


“Mau kemana?” tanyaku padanya.


“Apakah kamu tidak merasa bosan jika terus berada di dalam kamar saja seharian?” tanya Mas Sadam padaku.


“Tentu saja aku merasa bosan, Mas tadi aku mau turun tapi tidka diperbolehkan,” keluhku padanya. Dan inilah alasannya kenapa aku hanya melihat Liora dan juga Anggun dari balkon kamar.


“Ini semua demi kebaikan kamu, Sayang,” sahut Mas Sadam.


“Iya, Mas aku tahu.”


Kami berdua melangkah menuruni anak tangga rumah ini. Kebetulan sekali Mama Elsa baru saja keluar kamarnya dan aku lihat wanita paruh baya itu baru saja selesai mandi. Mama Elsa tersenyum padaku kemudian berjalan menghampiriku.


“Sifana, bagaimana kondisinya apakah sudah baikan?” tanya Mama Elsa.


“Sudah, Ma bahkan kau malah bosan karena dikurung seharian didalam kamar,” ucapku sembari melirik kearah Mas Sadam yang pahamndengan sindiranku barusan.


“Ma, aku hanya tidak ingin dia lelah lebih lagi takut jika Sifa sampai jatuh jika tiba-tiba pusing kepalanya kambuh,” ucap Mas Sadam. Aku baru tahu jika inilah alasan kenapa tadi suamiku tidak membiarkan aku menuruni anak tangga rumah ini. Mas Sadam sudah memperhitungkan semuanya.


“Maaf Mas, aku tidak berpikir sejauh itu,” sahutku padanya dengan wajah penuh penyesalan.


“Kamu cukup jaga pola makan dan waktu istirahat saja, sisanya biar aku yang urus,” ucap Mas Sadam sembari mengengam tanganku.

__ADS_1


Aku melihat kearah Mama Elsa yang langsung mengusap lengan tangan putranya merasa bangga dengan sikap sang putra yang kini telah menjadi suami siaga.


__ADS_2