Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Dia Hanya Pura-pura Baik


__ADS_3

Mbak Tasya menjelaskan pada si kecil Liora mengenai apa itu


istri kedua dan Liora adalah anak yang pintar jadi ia bisa mengerti beberapa saat kemudian. Mbak Tasya tersenyum padaku lalu meminta aku untuk bergabung bersama mereka. Jantungku seakan berdetak kencang saat jarak diantara kami mulai terkikis dan dengan tangan yang gemetar aku mulai menarik satu kursi yang tepat berada di depan Mbak Tasya kebelakang kemudian mendudukinya. Aku masih tidak berani mengangkat pandanganku hingga Mas Sadam meminta kami semua memakan bubur yang telah aku sajikan. Sarapan di pagi ini tidak banyak perbincangan yang terjadi Mbak Tasya sesekali menyuapi Liora dengan penuh kasih sayang sungguh


aku sangat bahagia sekali melihat akan hal ini.


Bahkan Liora juga sudah memanggil aku dengan sebutan, Mama Sifana ini sungguh membuat aku sangat bahagia dan tidak menyangka jika gadis yang aku sayang menjadi anak tiriku akan tetapi aku pasti memperlakukan dia seperti anak kandungku bahkan aku juga sudah membayangkan jika Anggun bertemu


dengan Liroa ia pasti akan sangat senang sekali sebab sejak dari dahulu Anggun ingin sekali memiliki adik dan kini ia sudah mendapatkannya, tapi aku masih membutuhkan waktu untuk memasukkan Anggun kedalam kehidupan ini.


Mas Sadam, Mbak Tasya dan juga Liora berdiri dari posisi duduknya dengan waktu yang hampir bersamaan dan aku juga ikut berdiri dari posisi duduk kemudian berniat untuk membersihkan meja makan ini dari piring kotor namun Mbak Tasya langsung melarangku dan meminta aku untuk ikut mengantarkan Mas sadam sampai ke halaman rumah, aku tentu tidak menolaknya dan


melangkah di samping Liora. Aku bahkan bisa menggengam tangan Liora dan bisa kulihat jika gadis kecil ini sangat bahagia sekali sekarang.


Jujur saja aku juga merasa sangat aneh sekali melihat perubahan sikap Mbak Tasya yang sangat cepat, tapi aku mencoba untuk sebisa mungkin menepis pemikiran buruk itu sebab semua orang berhak mendapatkan kepercayaan kita dan hanya, Tuhan saja yang sangat pandai membolak-balik hati makhluknya.


Mas Sadam mengecup kening Mbak Tasya dan aku langsung menundukkan kepala tidak ingin melihatnya, tapi yang tidak aku sangka lelaki itu justru berdiri dihadapanku lalu kedua tangannya memegang pipiku dan seketika


itu juga aku merasakan telapak tangan Mas Sadam hangat sekali ketika mendarat di pipi ini, manik mata kami saling menatap satu sama lain dan seketika itu juga aku merasakan waktu seakan berhenti, jarum jam berdetak lambat aku


tengelam didalam sorot sendu matanya dan aku langsung memejamkan mata ketika Mas Sadam mendekatkan bibirnya di keningku hingga beberapa saat kemudian aku meraskan bibirnya mendarat di kening ini.

__ADS_1


“Kalian berdua hiduplah dengan rukun mulai sekarang,” aku membuka mata ketika mendengarkan Mas Sadam berbicara dan sesaat kemudian lelaki


itu mundur beberapa langkah kebelakang lalu menatap aku dan juga Mbak Tasya secara bergantian.


“Sayang, kamu tidak perlu merasa khawatir, aku mungkin masih belum bisa menerima Sifana sepenuhnya akan tetapi aku akan berusaha menerimanya sebagai bagian dari keluarga kita mulai dari sekarang,” senyuman yang terukir dari bibir Mbak Tasya sungguh memancarkan ketulusan hingga keraguan yang sempat bertahtakan di hati ini mulai lebur bersama satu kali kerdipan mata.


“Papa, kenapa hanya Mama Tasya, dan juga Mama Sifana saja yang di cium,” gerutu Sifana sembari menengadahkan wajahnya menatap Mas Sadam. Aku tersenyum kecil melihat sikap gadis kecil nan


mengemaskan itu dan lihatlah


wajah Liora yang cemberut sungguh lucu sekali.


Mas Sadam langsung mensejajarkan tingginya dengan Liora lalu berkata, “Papa, tentu saja akan memberikan banyak ciuman khusus untuk, Liora.”


Setelah Mas Sadam merasa jika Liora sudah tidak marah lagi baru dia menghentikan aktifitasnya itu dan melangkah masuk kedalam mobilnya,


perlahan tapi pasti mobil berwarna hitam itu mulai meninggalkan gerbang utama, aku masih menatap kearah mobil Mas Sadam dengan senyuman tipis, kebahagian ini


sungguh tidak pernah aku bayangkan dan tidak hentinya aku mengucapkan rasa syukur pada Tuhan atas segala kebahagiaan ini.


“Liora, Sayang. Mama ingin berbicara berdua dengan, Mama Sifana apakah Liora bisa main sepedah sendirian?” kudengar Mbak Tasya berbicara

__ADS_1


dengan nada lembut dan juga senyuman manis pada Liora.


“Ok, Ma,” Liora langsung menjawab dengan jari jempol disatukan dengan jari telunjuk membentuk huruf o lalu gadis kecil itu berlari kecil menuju sepedanya yang ada di dekat taman bunga tepat di tidak jauh dari rumah ini.


“Ikut, saya.” Usai bicara Mbak Tasya langsung berbalik arah dan masuk kedalam rumah, sekilas aku bisa melihat tatapan tajam wanita itu


padaku.


“Apa ini yang terjadi, kenapa aku merasa jika Mbak Tasya marah


padaku, kilatan api di manik matanya membuat jantungku berdentam hebat,” gumamku dalam hati sembari mengikuti langkah kaki wanita itu masuk kedalam rumah.


Langkahku terhenti ketika Mbak Tasya berhenti tepat di ruangan tengah rumah ini, wanita itu berbalik arah dan kini menatapku. Aku menatapnya dengan kening yang berkerut dalam, kemana perginya senyuman manis dan juga tatapan ramah yang tadi sempat wanita itu tunjukkan, kenapa sekarang manik mata wanita itu kembali menajam dan juga membunuh seperti sebelumnya? Apakah tadi dugaanku itu benar jika Mbak Tasya hanya sedang berpura-pura baik padaku dan dia juga berpura-pura bisa menerima kehadiranku di dalam keluarga ini?


Aku sungguh bingung mengartikan semuanya, dari pada aku terus menebak hal yang mungkin saja hanya ada di khayalanku saja lebih baik aku membuka suara dan langsung bertanya.


"Mbak Tasya, mau berbicara apa?" aku mulai merasakan seluruh bulu kuduk di tubuh ini meremang sempurna ketika wanita itu melangkah ke arahku tanpa mengerdipkan matanya, bahkan aku juga mulai merasakan jika atmosfir di dalam ruangan ini ikut pengap hingga membuat rongga di dada ini mulai menyempit dan sukses membuat aku kesulitan bernafas.


Plak!


Wanita itu menamparku beberapa kali dan aku yang tidak siap dengan apa yang Mbak Tasya lakukan hanya bisa pasrah.

__ADS_1


"Apakah sekarang kamu sudah merasa hebat karena telah bisa merebut suamiku! Apakah kamu tahu jika aku begitu muak dan juga sangat jijik melihat apa yang kamu lakukan tadi," wanita itu menjambak rambutku dengan kasar sampai aku terpaksa menengadahkan wajah melihatnya. Rasa panah dan juga nyeri di pipi ini seakan tidak bisa aku rasakan lagi sebab hatiku lebih sakit di permainkan dan juga di bohongi oleh kebaikan Mbak Tasya di depan Mas Sadam tadi.


'Ternyata semua itu hanya semu. Andaikan saja kamu tahu, Mas Sadam.'


__ADS_2