Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kemarahan Sadam


__ADS_3

Aku melihat Gerry langsung menarik pandangannya ke arah Mas Sadam. Kedua lelaki itu saling menatap dengan tajam, Aku meneguk salivah ketika merasakan hawa mencekam mengelilingi lorong hotel ini.


"Sayang, jangan menyentuh orang asing seperti itu," ucap Mas Sadam padaku dengan penuh peringatan.


"Maaf, Pak saya bukan orang asing. Nama saya Gerry dan saya adalah teman dekat Sifa waktu masih duduk di bangku SMA." Aku dengar Gerry memperkenalkan dirinya tanpa di minta.


Aku melihat perubahan air muka masam bercampur emosi terpancar jelas dari mimik muka Mas Sadam. Suamiku pasti marah besar nih karena di panggil 'pak' oleh Gerry.


Mas Sadam kembali menatap Gerry sembari menaikan satu alisnya lalu berkata, "Aku adalah suaminya dan aku tidak bertanya tentang siapa dirimu." Sungguh menohok sekali kalimat yang barusan di ucapkan oleh suamiku ini.


"Sifa, benarkah kau menikahinya?" tanya Gerry padaku.


Aku melihat perubahan air muka kecewa nampak jelas dari redupnya binar matanya. Aku dah juga Gerry waktu SMA adalah teman baik dan kami selalu bersama kemanapun, bahkan banyak teman sekolah lainnya yang mengatakan jika Kami ini adalah sepasang kekasih. Aku sempat menyukai Gerry dan Gerry juga memiliki perasaan yang sama denganku. Namun, kami memilih tetap berteman karena takut jika sampai persahabatan ini hancur jika salah satu diantara kami memutuskan jalinan kasih.


"Ya," sahutku dengan tersenyum manis.


"Aish, padahal Aku berharap kita bisa bersama," ucap Gerry sembari melirik ke arah Mas Sadam. "Namun, tidak Aku sangka jika kamu sudah menikah dengan lelaki yang lebih dewasa dariku."


Aku bisa melihat jika Gerry sedang ingin menggoda Mas Sadam saja. Dan hal itu berhasil Ia lakukan dengan sempurna, jika di lihat dari tatapan nyalang yang sekarang sedang di tunjukkan oleh suamiku padanya.


Mas Sadam melepaskan genggaman tanganku lalu menaruh tangannya berganti di pundak sembari berkata, "Sekarang kau sudah tahu dia milikku, jadi jangan pernah berpikir macam-macam."

__ADS_1


Aku menahan senyuman melihat sikap kekanakan yang sekarang sedang di tunjukkan oleh suamiku ini. Mas Sadam benar-benar lucu sekali jika sedang cemburu. Aku beralih menatap kearah Gerry dan lelaki itu tersenyum samar tanda jika Ia puas telah menggoda suami ku.


"Baiklah jika begitu," ucap Gerry. "Sifa, Aku harap Kau hidup dengan bahagia meskipun lelaki itu bukanlah aku."


Gerry merentangkan kedua tangannya hendak memelukku, Mas Sadam melepaskan tangannya dari pundak ku dan yang tidak Aku sangka. Suamiku itu justru membalas pelukan Gerry.


"Hei! Apa yang Kau lakukan! Cepat lepaskan aku," ucap Gerry dengan lantang. Bahkan aku melihat wajahnya masam sekali, Dia hanya bercanda saja tadi tapi siapa sangka jika Mas Sadam malah menanggapinya serius.


Aku tertawa melihat kedua lelaki itu berpelukan. Aku benar-benar tidak pernah menyangka jika Mas Sadam bisa melakukan hal ini, bukankah sikapnya itu begitu mengemaskan sekali dalam ukuran orang dewasa yang penuh kharisma sepertinya.


Buk ... buk ... buk! Suara tangan Mas Sadam menepuk keras punggung Gerry. Dan Gerry yang malang hanya bisa pasrah.


"Aku mewakili istriku untuk membalas pelukan Kamu." Aku melihat Mas Sadam melepaskan pelukannya dari Gerry.


"Gerry, sampai jumpa lagi." Aku melambaikan tangan pada sahabat lamaku itu sedangkan Gerry sendiri balas melambaikannya tangannya tanpa memutar tubuhnya.


"Sayang, ayo kita masuk ke kamar." Aku merasakan Mas Sadam menyambar tanganku. Bahkan Dia kembali melingkarkan tangannya padaku dengan posisi.


Apakah Aku salah tadi membiarkan Gerry menggodanya?


***

__ADS_1


"Lain kali, kamu jangan dekat dengan lelaki lain seperti itu, lihatlah cara Dia menatap kamu tadi sudah menunjukkan jika lelaki itu memiliki perasaan terhadap mu. Dan Aku tidak suka melihatnya," ucap Mas Sadam setelah Ia menutup pintu kamar ini.


"Mas, Gerry hanya teman lamaku saja." Aku duduk di samping Mas Sadam. Lelaki itu menatap lurus ke depan dengan mata tajamnya.


"Aku tetap tidak suka, dan kenapa tadi kamu tidak menghindar Sayang ketika lelaki itu hendak memelukmu?" tanya Mas Sadam padaku. Karena cemburu kini lelaki itu sampai mengguncang kedua pundak ku sedikit kasar sampai aku terjingkat kaget.


"Mas, Sadam tadi Aku tidak menghindar karena Aku tahu, Gerry tidak Akan memelukku," sahutku padanya.


"Dia pasti memeluk kamu Sayang andaikan tadi tidak Aku cegah." Aku melihat mata Mas Sadam mulai gelap dan Aku sadar jika ekspresi ini dan juga tatapan tajam ini pernah Ia tunjukkan padaku ketika awal kami menikah dulu.


"Mas Sadam, kenapa kamu jadi marah berlebihan seperti ini bukankah wajar jika teman lama bertemu dan saling sapa. Kenapa kamu harus marah padaku sampai seperti ini hanya karena masalah sempele seperti itu," ucapku padanya sembari beranjak berdiri dari sofa.


Aku benar-benar tidak menyangka jika Mas Sadam menganggap masalah ini seserius ini.


Perasaan nyeri seketika langsung merambat ke dada ini seakan membuat lingkup oksigen di dalam paru-paruku mulai mengering. Aku menarik nafas dalam tapi rasa panas itu tidak bisa Aku redam malah semakin naik ke hidung lalu menjalar ke mata. Aku memutar kedua bola mata ini karena tidak ingin jika sampai kristal bening itu menetas ke pipi.


"Sayang, aku tetap tidak suka kamu bertemu dengan teman lama kamu itu terutama laki-laki." Mas Sadam beranjak berdiri dari posisi duduknya lalu dia menarik pundak ku perlahan sampai aku menatap kearahnya. Aku menatap mata tajamnya berkilat penuh intimidasi padaku.


"Mas, kamu sudah keterlaluan. Mana bisa kamu membatasi gerakan ku seperti ini. Semua orang punya masa lalu dan disaat aku susah Gerry selalu ada di sampingku," aku menarik nafas dalam. "Apakah setelah semua kebaikan yang Gerry lakukan padaku, Aku harus membalasnya dengan kejam berpura-pura tidak mengenalnya dan mengabaikan dirinya saat menyapaku." Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pemikiran suamiku ini, Dia sedang cemburu buta sekarang dan hal ini sangat-sangat tidak masuk akan sekali.


"Jangan melawan ucapanku. Aku tidak mau mendengarkan semua omongan kamu itu." Mas Sadam membentak Aku untuk kali kedua."

__ADS_1


Aku merasakan dada ini semakin sesak hingga Aku tidak sanggup lagi menahan kristal bening ini agar tidak jatuh dari singgah sananya. Aku menatap Mas Sadam dengan perasaan yang kecewa, secara tidak langsung lelaki itu menuduhku akan berbuat macam-macam dengan teman lamaku itu.


wah kasihan sekali Sifana. Apa sih sebenarnya maksud Sadam sampai marah seperti itu pada istrinya? yok komen dan follow Ig Khairin_junior


__ADS_2