
Mereka berdua segera menuju ruangan ICU, merasa lorong yang mereka lewati sepi, Mauren menahan langkah Laila.
"Ada apa?" Tanya Laila.
"Aku mendengar pembicaraan orang-orang di luar, sesungguhnya Bapakku di tabrak, tapi keadaan mungkin mereka putar."
"Berarti orang yang menabrak memiliki pangkat dan jabatan yang tinggi, kalau begitu biar aku yang mengaku sebagai anak Bapakmu," usul Laila.
Laila menjelaskan rencananya, kenapa dia mengaku sebagai anak Dasman. Keduanya setuju.
"Kita temui dulu Bapakmu," ucap Laila.
Saat hampir sampai di ruang ICU, Laila sengaja mengaku kalau dirinya anak pasien.
"Terus wanita yang bersama kamu, siapa?"
Laila dan Mauren langsung menoleh kearah sumber suara.
"Dia temanku," sahut Laila.
Mereka berdua dapat izin menemui Dasman. Melihat keadaan Ayahnya, Mauren hanya bisa menangis. Mereka hanya boleh sebentar melihat keadaan pasien.
Saat di luar ruangan, dokter menjelaskan keadaan Dasman, mendengar ayahnya mengalami geger otak, Mauren mematung, rasanya tidak ada air mata lagi yang bisa dia keluarkan.
__ADS_1
Belum hilang rasa sakitnya, tiba-tiba beberapa orang polisi menghampiri Laila, dan mereka menceritakan kronologi, kalau Dasman yang menabrakan diri ke mobil yang tengah melaju kencang.
Laila ingin protes, mengingat siapa saja yang sudah membela wanita itu, Mauren menahan Laila. Dia memberi isyarat pada Laila untuk diam.
"Tapi tenang saja, karena Nyonya kami baik hati, dia tidak akan melaporkan Pak Dasman, dia akan menanggung biaya pengobatan Pak Dasman," ucap laki-laki yang berdiri samping wanita cantik itu.
***
Setelah semua urusan dianggap selesai, Mauren terus menjaga Ayahnya, 3 hari setelah kecelakaan, keadaan Ayahnya terus memburuk. Sedang Laila, dia tidak tinggal diam, dia mencari informasi tentang kecelakaan itu, mendapatkan cukup saksi kalau itu memang penabrakan, Laila kembali ke Rumah Sakit.
"Aku punya cukup bukti, bagaimana kalau kita laporkan saja?" Usul Laila.
"Kalau menurutmu oke, aku setuju. Tapi aku ingin menjaga Bapakku di sini."
Melihat beberapa perawat berlari kedalam ruangan ICU, Mauren sangat panik, hingga dia mendengar kabar yang sangat menyakitkan, kalau Ayahnya telah pergi untuk selama-lamanya.
"Tentu, aku butuh tanda tanganmu.
Mauren menandatangani berkas laporannya, dia kembali fokus pada urusan Ayahnya, sedang Laila, dia kembali ke kantor polisi untuk mengadukan kasus kecelakaan itu.
***
ELF Fashion
__ADS_1
Sebuah majalah fashion ternama saat ini, di bawah kepemimpinan Marta. Wanita cantik itu terlihat sangat sibuk mengawasi model-modelnya.
"Nyonya, ada telepon dari pengacara Anda."
"Halo Pak Idham."
"Laki-laki yang Anda tabrak kemaren, menghembuskan napas terakhirnya."
"Apakah itu berdampak buruk untukku?"
"Sebelum ini menjadi kasus, aku telah mengatur semuanya, saat ini anak korban melaporkan kasus ini ke kepolisian."
"Aku harus bagaimana?"
"Tenang saja, Anda akan memenangkan kasus ini sepenuhnya."
***
Karena tidak punya keluarga jauh, jasad Pak Dasman pun segera di kebumikan, selama proses pemakaman Ayahnya, Mauren hanya diam.
Semua pelayat sudah pergi, tinggal Laila dan Mauren di pusara Pak Dasman. Mauren mengusap nisan Ayahnya.
"Semangat Mauren itu Bapak, kini Bapak sudah pergi meninggalkan Mauren, Mauren tidak tahu lagi harus apa." Akhirnya air mata itu tumpah.
__ADS_1
Laila membiarkan Mauren menumpahkan tangisnya. Bagaimana dia meminta Mauren berhenti menangis, sedang dirinya tidak bisa berhenti menangis.
Dua gadis itu menangis bersama di pusara Pak Dasman.