
Seperti biasa jika ada Mama Elsa dan juga Papa damar di dalam rumah ini, aku akan duduk di meja makan bergabung dengan penghuni rumah
ini. Pagi hari ini Mbak Tasya yang menyiapkan sarapan pagi. Mbak Tasya membuat nasi goreng dengan telur ceplok, akan tetapi ada yang aneh dengan masakannya, telur ceplok ini berwarna hitam sekali dan kalian tahu itu jika di lihat dari
bentu telur ini pastilah gosong dan bukan hanya itu saja bahkan nasi gorengnya juga tidak jauh beda.
Kulihat, Mama Elsa dan juga Papa Damar saling menatap satu sama lain seakan keduanya ragu bercampur enggan untuk mencicipi masakan Mbak Tasya. Sedangkan, Mbak Tasya sendiri lebih terkesan cuek melihat hasil dari masakannya sebab wanita itu malah sibuk menatap kuku tangannya yang mungkin terlihat jelek sekarang bahkan terlihat dengan sangat jelas jika cat kuku yang
tadinya melekat sempurna di kuku tangan mbak Tasya mulai terkelupas dengan sendirinya.
“Mbak Sifana, kok masakannya gosong sih tidak seperti biasanya,” kudengar suara gadis kecil itu mulai mempertanyakan bentuk makanan
dihadapannya saat ini.
“Bukan, Mbak Sifana yang membuat sarapan di pagi hari ini, tapi Mama Liora sendiri yang membuatnya,” aku hanya bisa diam tidak berani
membuka suara. Dan Mama Elsa membantuku menjawab pertanyaan gadis kecil itu barusan.
Kulihat gadis kecil itu langsung menatap kearah Mbak Tasya. Liora hendak membuka mulutnya untuk mengeluarkan suara akan tetapi Mbak Tasya menatapnya tajam sehingga membuat gadis kecil ini bungkam.
“Tasya, tidak seharusnya kamu memelototi anak sekecil, Liora
seperti itu.” Mas Sadam dan juga Papa Damar langsung menatap kearah nama yang sempat disebutkan oleh Mama Elsa barusan. Aku melihat kedua lelaki itu menatap Mbak Tasya dengan mengerutkan keningnya.
“Sayang, kamu jangan keras begitu pada, Liora dia hanya anak kecil,” aku lihat Mas Sadam berbicara sembari mengusap pelan punggung tangan
Mbak Tasya.
***
Seperti biasa di siang hari ini, Papa Damar dan juga Mas Sadam sudah berangkat ke kantor. Hanya ada aku, Mama Elsa, Mbak Tasya dan juga Liora saja didalam rumah ini. Aku sedang duduk di dalam kamarku bersama dengan Mama Elsa
dan selang beberapa waktu, Liora masuk kedalam ruangan kamarku setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku dan juga Mama Elsa langsung menyuruh gadis kecil itu
__ADS_1
untuk masuk dan bergabung bersama kami.
“Mbak Sifana, apakah kepalanya masih sakit?” tanya Liora setelah ia duduk di sampingku.
Aku tersenyum manis padanya sembari mengelengkan kepala
pelan lalu berkata, “Mbak Sifana baik-baik saja,” sahutku sembari merentangkan kedua tangan lalu membiarkan Liora masuk kedalam dekapanku.
“Kalau, Mbak Sifana sudah baik-baik saja apa bisa menemani, Liora main,” gadis kecil ini menengadahkan wajahnya menatapku masih dengan
posisi memeluk erat tubuhku.
“Sayang, Kamu bisa main bersama dengan, Mama Tasya saja,” Mama Elsa menimpali kata-kata Liora barusan.
Liora melepaskan pelukanku lalu membenarkan posisi duduknya.
“Mama, sedang sibuk.”
aku melihat kerutan di keningnya menunjukkan jika wanita paruh bayah ini sedang merasa penasaran sekarang.
“Mama, sibuk telepon seseorang, ketika Liora ajak main malah
di suruh pergi,” aku melihat perubahan air muka di wajah gadis kecil ini. Liora bahkan berbicara dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca sekarang, sungguh
kasihan sekali Liora dan mungkin saja sekarang Mbak Sifana sedang telepon dengan orang yang tempo hari dia panggil, Sayang itu. Tapi aku hanya bisa diam dan tidak berani menceritakan apa yang aku lihat dan juga dengar kepada Mama Elsa.
Hari sudah menjelang sore, aku keluar dari ruangan kamar ini
setelah membersihkan tubuh. Sayup-sayup aku mendengar suara ribut di ruang tamu rumah ini. Perlahan tapi pasti aku mulai mengarahkan kaki ini menuju ke ruang tamu di sana Mama Elsa dan juga Mbak Tasya sedang berdebat hebat mereka berdua saling membentak satu sama lain, kini aku melihat sisi lain dari Mbak Tasya
pantas saja jika Mama Elsa tidak menyukai Mbak Tasya selama ini karena dia terlalu berani pada mertuanya sendiri akan tetapi aku tidak tahu pokok permasalahannya jadi mungkin saja pemikiranku tadi salah.
“Mama, kenapa selalu ikut campur urusan rumah tangga kami,” kudengar Mbak Tasya berteriak lantang pada Mama Elsa.
__ADS_1
“Kamu berselingkuh dan masih berani bertanya kenapa, Mama sampai ikut campur urusan kalian!” kudengar Mama Elsa berteriak balik pada Mbak Tasya.
“Mama, selalu menuduh aku seperti itu,” sanggah Mbak Tasya dengan cepat. Bahkan wanita itu langsung pergi begitu saja sekilas pandangan
kami saling bertemu satu sama lain dan wanita itu langsung membulatkan kedua matanya kemudian berlalu pergi begitu saja.
“Tasya, kamu mau kemana, Mama masih belum selesai berbicara,”
Mama Elsa berteriak lantang sampai air mukanya memerah seakan menandakan emosi yang sudah meledak di kepalanya saat ini.
Mama Elsa menitihkan air mata pasti dia merasa sesak nafas atau mungkin sudah tidak bisa membendung amarahnya lagi, biasanya Mama Elsa tidak terlihat seperti ini akan tetapi wanita paruh baya ini terlihat rapuh dan butuh bahu untuk bersandar akhirnya aku melangkah mendekat lalu mencoba
menenangkannya.
“Mama, sebaiknya kita duduk dahulu,” ajak ku sembari memegangi tangannya lalu membimbing wanita paruh baya ini untuk duduk di sofa.
“Kenapa, Sadam masih juga belum bisa melihat sikap asli istrinya ini, kenapa putraku itu bodoh sekali sampai dia tidak bisa melihat
siapa wanita yang ia nikahi,” aku hanya bisa duduk sembari mengusap punggung tangan Mama Elsa. Aku juga tidak berani memberikan komentar apapun karena takut salah bicara. Ya, walaupun Mbak Tasya selalu bersikap kasar padaku akan
tetapi sedikitpun aku tidak pernah bermaksud membalasnya dengan hal yang sama.
Sekitar 30 menit aku mendengarkan Mama Elsa berbicara meluapkan isi hatinya, aku hanya bisa memohon agar Mama Elsa lebih sabar pasti
ini semua cobaan didalam kehidupan Mas Sadam, ya, hanya itu saja yang bisa aku katakan dan selebihnya aku hanya diam menjadi pendengar setia. Aku melihat jam dinding dan sudah tiba waktunya untuk Mas Sadam dan juga Papa Damar pulang dari kantornya. Dengan nada suara lembut dan juga ucapan yang mudah di cerna
akhirnya Mama Elsa mau menuruti permintaanku untuk membersihkan riasan wajahnya agar kedua lelaki yang paling wanita paruh baya ini sayangi tidak merasa khawatir melihat kondisinya yang berantakan seperti ini.
Mbak Tasya, menatapku tajam dari lantai atas. Aku hanya bisa
menundukkan kepala lalu berpura-pura tidak melihatnya sebab aku tahu jika aku melihatnya wanita itu pasti akan memberikan tatapan intimidasi padaku.
'Hanya Bisa diam dan tidak berani bicara.'
__ADS_1