
Aku melihat wajah Mama Elsa dan juga Papa Damar terlihat menegang waktu Mas Sadam menghentikan langkah Mbak Tasya. Seluruh ruangan ini terlihat sunyi bahkan aku sampai bisa merasakan detak jantungku berpacu semakin cepat, tenggorokanku terasa kering dan aku mulai dehidrasi ketika manik mata
tajam wanita itu menatapku dengan tajam, membunuh. Ya, itulah kata yang seakan terlontar dari bibir Mbak Tasya padaku melalui sorot mata itu.
“Aku tidak menghentikan kamu,” hembusan nafas kami bertiga lolos begitu saja bersama dengan kata-kata Mas Sadam. “jika kau berani membawa Liora maka aku akan menunjukkan bukti perselingkuhan kamu dengan lelaki kurang ajar itu pada pengacara dan kau pasti tahu apa yang akan terjadi.” Aku melihat seringai licik dan juga kejam tergambar jelas dari air mukanya bahkan sampai membuat wajah lelaki itu terlihat tegas dan ini sungguh menakutkan sekali.
Senyuman tipis bercampur lega yang tadi sempat memenuhi bibir Mbak Tasya mulai melebur bersama hembusan angin yang keluar masuk melalui jendela dapur ini, jarum jam seakan berdetak lambat dan air mata wanita itu kembali tumpah membasahi kedua pipinya. Mbak Tasya pasti tidak menduga jika Mas
Sadam menggunakan perselingkuhannya bersama lelaki lain untuk mempertahankan Liora.
“Sayang, kau tidak bisa melakukan ini padaku,” dia mencoba melangkah mendekati Mas Sadam.
“Keluar sendiri tanpa memancing keributan atau aku akan memanggil satpam,” pilihan yang sama, tapi jika sampai Mbak Tasya di seret oleh
satpam keluar rumah ini bukankah dia akan kehilangan wibawanya dan aku rasa Mbak Tasya cukup pintar. Pasti akan memilih keluar sendiri dari rumah ini.
“Sifana, kau pasti sangat bahagia sekali bisa merebut posisiku di dalam rumah ini! Tapi aku tidak akan pernah membiarkan hidup kamu
tenang setelah ini. Wanita itu mengalihkan pandangan menatap Mas Sadam. “Baiklah, tapi akan aku pastikan. Aku kembali lagi ke rumah
ini!” dengan air muka penuh percaya diri Mbak Tasya membalikkan tubuhnya.
“Nenek, Liora sudah lapar apa makan malamnya sudah siap,” aku mendengar suara Liora berada di belakang Mbak Tasya sebelum wanita itu sempat membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan ini.
Mas Sadam dan juga kedua mertuaku terkesiap melihat Liora berada dibelakang Mbak Tasya, aku sampai menahan nafas dalam karena takut anak kecil itu kembali mendapatkan kekerasan dari mamanya. Mbak Tasya langsung mengalihkan pandangannya dan berjongkok dihadapan Liora sedangkan Mas Sadam sendiri segera melangkah lebar mencoba melindungi anak kesayangannya itu jika ada sesuatu hal yang tidak di inginkan. Mbak Tasya memeluk Liora lalu menangkup
__ADS_1
kedua wajahnya.
“Liora, Papa mengusir, Mama dari rumah ini dan mulai sekarang Liora tidak akan bertemu dengan Mama lagi, Mama mohon Liora minta tolong pada Papa agar tidak mengusir Mama keluar dari rumah ini,” sungguh licik sekali wanita ini meminta bantuan pada bocah setelah ia tidak bisa mengancam Mas sadam.
Liora menengadahkan wajahnya menatap Mas Sadam lalu berkata,
“Pa, kenapa, Mama Tasya sampai di usir keluar dari rumah ini?” tanyanya dengan polos.
“Karena, Mama sering menyiksa Liora dan juga Mama Sifana,” aku melihat Mas Sadam mengusap puncak kepala Liora perlahan ketika berbicara tak lupa lelaki itu juga memberikan tatapan sendu pada putrinya. “apakah
Liora ingin melihat Mama Sifana di siksa oleh Mama Tasya? Dan apakah Liora tidak takut jika terus berada di dekat Mama Tasya.”
Jelas sekali aku melihat Mbak Tasya langsung membulatkan kedua matanya dengan tangan yang terkepal kuat seakan tidak menduga kalau Mas Sadam mengunakan cara ini untuk membuat Liora mengerti. Sebab Mas Sadam tidak mungkin mengatakan tentang perselingkuhan
karena itu tidak bagus untuk psikologis si kecil.
mengusir Mama pergi.” Anak kecil itu mundur dan bersembunyi dibelakang Mas sadam dengan air muka takut kalau sampai Mbak Tasya memukulnya lagi.
Kulihat Tasya menarik salah satu bibirnya merasa kecewa karena anak kecil ini tidak mau membantunya dan malah mengiyakan apa yang
Papanya katakan. Wanita itu mengusap wajahnya kasar seakan menyesali kebodohannya sendiri andaikan dulu dia baik dengan Liora pasti kini anak itu akan menangis meminta dirinya untuk tetap tinggal sebab kelemahan terbesar Mas Sadam memang ada pada Liora.
Mbak Tasya mengedarkan padangan kearah semua orang seakan ia sudang mencoba untuk mengabadikan air muka kebencian semua orang yang ada didalam ruangan ini. Aku menatapnya dengan wajah datar rasa kasihan yang tadi
sempat menyelimuti seluruh tubuhku kini melebur hancur menjari partikel debu. Aku bahkan ingin ia segera keluar dari rumah ini jika mengingat kekejamannya saat mengintimidasi Liora terlintas di benak ini. Selang beberapa menit suara langkah kaki yang sangat lantang menghentak-hentak didalam ruangan ini dan tubuh Mbak Tasya menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Mas Sadam langsung memeluk Liora untuk meluapkan kebahagiaanya karena gadis kecil yang sangat ia sayangi tidak di bawah oleh Mbak Tasya. Mama Elsa memelukku entah sejak kapan dia ganti berdiri sampingku lalu wanita itu berkata jika dari awal dia sudah pernah bilang hanya aku saja yang pantas bersama Mas Sadam. Tapi entah mengapa aku merasa semua ini masih belum
berakhir bahkan aku mulai menelan salivah getir ketika perkataan Mbak Tasya yang mengancam ku tadi terus menyeruak di telinga ini seakan wanita itu mengucapkannya berulang kali tanpa henti.
Akhirnya kami tidak jadi membuat makan malam sendiri, Papa Damar memutuskan untuk memesan makanan dari luar sana dan Liora sangat senang sekali. Kepergian Mbak Tasya seakan tidak berdampak besar di keluarga ini, bahkan Liora saja sampai tidak merasa kehilangan gadis kecil ini justru semakin menempel padaku dan dia terus menggandeng tanganku dengan senyuman mengembang di kedua bibirnya. Mungkin Liora senang karena kini dia bisa dekat denganku tanpa takut terkena ocehan Mbak Tasya. Papa Damar memeluk Mas Sadam lalu mengatakan jika ini
memang harusnya sudah lama terjadi dan Mas Sadam hanya bisa mengganggukkan kepalanya saja. Sekilas aku melihat kesedihan di balik manik matanya, dia mungkin merasa kehilangan sosok Mbak Tasya yang selama ini menemani hidupnya. Begitulah pikiranku setelah melihat air mukanya.
***
Aku baru saja berganti piyama tidur, entah mengapa aku suka sekali memakai baju tipis jika sudah berada didalam kamar sendiri lebih lagi
aku yakin jika malam ini Mas sadam tidak akan datang ke kamarku karena lelaki itu pasti sedang bersedih dengan kepergian Mbak Tasya, mungkin memang benar jika wanita itu telah menyakiti hatinya akan tetapi mereka sudah hidup bertahun lamanya jelas saja ada rasa kehilangan dihatinya itu sangat wajar. Aku menyisir rambutku di depan cermin, ya itulah kebiasaanya ku sebelum tidur harus bersih-bersih tubuh terlebih dahulu agar merasa nyaman ketika tidur malam. Kini
aku sudah berbaring di atas ranjang empuk ini lalu aku menarik selimut sampai menutupi dada kemudian memejamkan mata entah, aku kembali teringat dengan cincin di jari manis ku lalu aku mengangkat tangan dan melihat cincin ini masih melingkar di sana membuat senyumanku mengembang ketika membayangkan tatapan mata tajam suamiku pada lelaki yang ada di mall tadi, sungguh mas Sadam terlihat tampan sekali jika sedang merasa cemburu.
Ceklek!
Manik mataku langsung tertuju pada pintu yang terbuka, aku lupa mengunci pintunya dan sosok Mas Sadam langsung memenuhi pandanganku membuat aku kaget dan dengan spontan aku langsung meraih selimut kemudian aku gunakan untuk menutup piyama tidur tipis yang kini sedang aku kenakan dan sialnya lagi aku tidak mengenakan Bra, karena memang seharusnya begitu supaya benda penyanggah gunung kembar itu tidak menghambat jalannya sirkulasi darah.
“Ma-mas Sadam kenapa berada di sini?” tanyaku padanya dengan
gagap.
“Memangnya aku harus berada dimana?” tanya lelaki itu dengan menutup pintu kamar ini lalu tidak lupa menguncinya. Bagus sekali ini semakin membuat aku panik.
__ADS_1
“Te-tentu saja di dalam kamar Mas Sadam sendiri,” sahutku tergagap lagi.
“Ini adalah kamarku.”