
Selesai mandi Aku dan juga Mas Sadam turun ke lantai bawah. Di ruang tengah rumah ini Aku melihat Mama Elsa, Papa Damar, Liora dan juga Mbak Tasya duduk bersama. Aku sempat menghentikan langkah kaki ini sesaat akan tetapi Mas Sadam langsung mengandeng tanganku.
“Sayang, semua akan baik-baik saja,” sahut Mas Sadam seakan sedang memotivasi ku.
“Iya, Mas,” sahutku sembari memaksakan senyuman ini.
Aku melihat Mama Elsa tersenyum padaku seakan dari senyuman itu dia mencoba untuk mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Sedangkan Papa Damar yang kini m tengah duduk di samping Mama Elsa menatap tajam kearah Mbak Tasya.
“Tasya, apakah kamu sudah puas bertemu dengan Liora? Jika sudah puas maka kamu bisa pergi sekarang,” usir Mama Elsa dengan terang-terangan.
“Nenek, biarkan Mama Tasya tinggal di rumah ini lagi?” rengek Liora dengan polos. “Mama Tasya sudah tidak jahat lagi,” sambung si kecil Liora sembari bergelayutan manja di lengan Mama Elsa. Aku hanya bisa diam melihat apa yang terjadi.
“Liora, biarkan saja Mama Tasya keluar dari rumah ini tapi lain kali, Mama Tasya akan berjanji jika akan mengunjungi Liora lagi.” Aku melihat Mbak Tasya berbicara sembari mengusap puncak kepala Liora. Sikap Mbak Tasya begitu hangat sekali tidak kejam seperti biasanya pada gadis kecil itu.
Aku sangat senang sekali melihat Mbak Tasya sudah berubah akan tetapi dibalik perubahan sikapnya itu aku juga tahu jika Liora hanya sedang di manfaatkan saja agar Mbak Tasya bisa kembali ke rumah ini.
Aku melihat Mbak Tasya sudah berdiri dari posisi duduknya namun, Liora langsung memeluknya dengan menangis. Gadis kecil itu seakan tidak siap jika melihat wanita yang telah melahirkannya pergi begitu saja darinya.
“Sayang, Liora anak pintar tidak boleh menangis sekarang ada Mama Sifana yang akan menggantikan Mama Tasya untuk menjaga Liora,” ucap Mbak Tasya sembari menatapku sekilas lalu ia kembali melihat kearah Liora.
“Liora, juga ingin Mama Tasya kembali ke rumah ini,” rengek Liora dengan air mata yang sudah terburai dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Mama Elsa mulai berdiri dari posisi duduknya lalu ia menghampiri Liora dan juga Mbak Tasya dengan air muka merah padam. Binar mata penuh kebencian itu hanya terpancar ketika ia melihat Mbak Tasya namun, ketika manik mata Mama Elsa menatap Liora. Kobaran kebencian itu langsung padam secepat ia mengerdipkan matanya.
“Liora, apakah kamu masih ingat jika Mama Elsa selalu saja sibuk dengan urusannya di luar rumah?” aku melihat Liora menganggukkan kepalanya. “Sama seperti itu, kini Mama Tasya juga sedang sibuk dengan urusannya jadi tidak bisa menjaga Liora.” Aku merasa kagum sekali dengan Mama Elsa dengan sekejap mata wanita itu bisa mencari alasan yang tepat untuk bisa dipahami oleh Liora dengan sangat mudah.
Aku melihat Liora diam sesaat kemudian gadis kecil itu menatap kearah Mbak Tasya. “Mama Tasya, boleh pergi sekarang. Liora tahu Mama Tasya tidak akan suka jika mengajak Liora ikut sebab urusan Mama Tasya lebih penting dari Liora.”bAku menangkap wajahbkecewa gadis kecil itu. Miris sekali.
Aku menatap kedua tangan Mbak Tasya mulai terkepal ketika ia tahu jika kini dirinya tidak akan bisa tetap berada di dalam rumah ini lagi.
“Mama Tasya, akan kembali lagi untuk menjenguk Liora.” Ya, hanya kata itu saja yang keluar dari bibir Mbak Tasya dengan pasrah.
“Lihatlah sayang, Mama sangat menyayangi kamu dan dia tidak akan pernah membiarkan Tasya masuk kedalam hidup kita,” ucap Mas Sadam sembari mengusap punggung tanganku yang masih Ia pegang sejak tadi.
“Lalu bagaimana dengan kamu, Mas?” tanyaku padanya.
“Mas Sadam.” Aku menarik pandangan melihat kearah Mbak Tasya yang kini tengah berdiri diantara kami berdua.
“Hem,” sahut Mas Sadam. “Ma, tolong bawa Liora menuju meja makan lebih dulu. Ada yang perlu Sadam bicarakan dengan Tasya.”
Dengan tahu diri aku melepaskan tanganku yang masih di genggam oleh Mas Sadam. Aku hendak melangkah menjauh mengikuti Mama Elsa, Papa Damar dan juga Liora yang tengah berjalan lebih dahulu. Sekilas Aku melihat Mbak Tasya tersenyum menang usai mendengarkan ucapan Mas Sadam.
“Sayang kamu mau kemana,” aku langsung menghentikan langkah kaki ini ketika Mas Sadam kembali meraih tanganku.
__ADS_1
“Mas, aku tidak ingin mengganggu kalian jadi sebaiknya aku menunggu di meja makan saja,” sahutku dengan tak enak hati.
“Siapa yang bilang kamu akan mengganggu kami.” Mas Sadam menarik pinggangku sampai jarak diantara kami berdua telah lenyap sudah.
“Tapi Mas,” sahutku masih tidak enak hati.
“Sayang, kamu tetap di sini bersama denganku.” Aku melirik kearah Mbak Tasya yang kini sedang memasang wajah masam karena apa yang ia pikirkan ternyata salah. Mas Sadam tidak ingin Aku pergi mungkin karena lelaki itu tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita.
"Sayang, tidak bisakah kita bicara berdua saja?" tanya Mbak Tasya dengan wajah memelas. Aku hanya diam menatapnya sebab suamiku tidak ingin jika aku pergi jadi aku lebih memilih tetap berada di sini bersamanya.
"Sifana, Adah istriku. Jadi kau bisa bicara sekarang!" perintah Mas Sadam dengan wajah datar.
"Sayang, maafkan Aku. Aku percaya jika kamu masih mencintaiku, Sayang ingatkan kamu dengan banyaknya waktu yang kita lalui berdua." Aku kasihan sekali melihat air mata yang berderai di kedua pipi Mbak Tasya tapi sebisa mungkin aku menunjukkan wajah tak acuh padanya.
"Tentu saja aku mengingat semua waktu yang kita lalui," aku menatap Mas Sadam sekilas. "Kamu selalu menganggap aku tidak pernah ada hingga, Kau sedangkan leluasa selalu menghubungi kekasih kamu saat tengah malam," sambung Mas Sadam .
Mbak Tasya terduduk lemas di atas lantai. Air matanya tumpah membasahi lantai marmer ruangan ini, dia memegangi kaki Mas Sadam sembari mendongakkan kepala menatap Mas Sadam dengan wajah memelasnya.
"Sayang, Aku mohon lupakan semuanya dan kita mulai semua dari awal lagi. Aku berjanji akan menerima Sifana dan juga Anggun menjadi bagian dari kelurahan kita, dan aku juga berjanji akan menjaga Liora dengan baik. Tapi Aku mohon berika baku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Aku akan berubah menjadi wanita baik."
Aku mintap Mas Sadam yang kini melihat Mbak Tasya dengan tatapan yang tidak bisa di baca. Apakah dia akan memaafkan Mbak Tasya dengan sangat mudah setelah apa yang wanita itu lakukan padanya-pada kami.
__ADS_1
Wah-wah Sadam akan menjawab apa, ya?