Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Malunya Sampai Ke Tulang


__ADS_3

Usai mendengarkan ucapan Mas Sadam langkahku langsung terhenti, Aku tidak langsung membalikkan tubuh ini, tapi mengigit bibirku terlebih dahulu karena kebodohan ini. Kenapa juga tadi Aku melangkah lebih dahulu padahal belum tahu nomor kamar kami.


“Sudahlah terima nasib saja, malu-maluin saja,” batinku merasa jengkel sendiri.


“Sayang, jangan cemberut begitu dong,” goda Mas Sadam padaku.


“Mas, kapan kita masuk kedalam,” tanyaku dengan sarkas. Malunya sampai ke tulang, benar-benar hari yang menyebalkan sekali sama seperti Mas Sadam yang begitu menyebalkan hari ini.


“Ayo masuklah Tuan putriku,” ucap Mas Sadam sembari menaruh satu tangannya di belakang punggung dan satu tangan lainnya mengarahkan Aku untuk masuk kedalam. Mirip seperti seorang pengawal yang sedang mempersilahkan majikannya.


“Huh!” keluhku yang tidak tahan marah lebih lama lagi ketika mengetahui sikapnya ini. Jika kalian jadi Aku pasti emosinya langsung melebur bersama partikel debu saat melihat sikap kepalang romantis yang sedang suami kita tunjukkan.


Mas Sadam yang dulu selalu menatapku dengan tajam dan juga dingin, kini sudah tidak nampak lagi Dia bahkan memperlakukan Aku dengan penuh kasih sayang dan juga perhatian. Manik mataku menyapu ke sekitar ruangan kamar ini. Perasaan takjub akan desain interior yang nampak mewah langsung memenuhi seluruh pandanganku


“Mas, kamarnya besar sekali,” ucapku sembari menatapnya. Sungguh ini baru kali pertama Aku menginap di hotel dan ini adalah salah satu hotel bintang lima di kota Surabaya.


“Sayang, apakah kamu suka?” tanya Mas Sadam sembari menaruh kedua tangannya di pundak ku.


“Mas, Aku sangat suka sekali,” ucapku sembari melepaskan tangannya dari pundak ini. Aku keluar dari balkon kamar dan melihat permandangan malam ini.

__ADS_1


Aku melihat rumah-rumah penduduk terlihat kecil sekali dari atas sini, lampu kota nampak indah jika dilihat dari atas hotel, sungguh pemandangan yang begitu memanjakan mata. Dahulu Aku selalu takjub sekali melihat pemandangan seperti ini dari film yang Aku lihat, tapi tidak disangka sekarang Aku bisa melihatnya secara langsung, ini sungguh keberuntungan sekali buatku.


“Mas, Sadam Aku sangat suka sekali permandangan seperti ini,” ucapku padanya ketika mengetahui suamiku sudah berdiri di hadapanku.


“Sayang, sepertinya Aku kurang membahagiakan kamu, sampai melihat hal yang seperti ini saja kamu sudah bahagia sekali.” Aku melihat Mas Sadam menatapku sendu.


“Mas, kebahagiaan itu tidak bisa di ukur dengan uang,” jelasku padanya.


“Tapi, Tasya berbeda. Dia selalu bahagia jika Aku memberikan banyak uang padanya, bahkan jika di ajak liburan ke tempat mewah dia selalu mengeluh dan ingin lebih.” Aku melihat Mas Sadam menatap lurus ke depan seakan Ia sedang memutar kejadian dimasa lalu. Aku juga bisa menangkap percikan kesedihan yang terpancar jelas dari manik matanya itu. Aku bisa memahami apa yang Mas Sadam rasakan saat ini.


“Mas, Sadam jangan samakan Aku dengannya. Hidup sederhana sekalipun asalkan bersama Mas sadam dan juga bersama keluarga kita yang lain itu sudah membuat aku bahagia sekali,” ucapku padanya. “Mas Sadam, mungkin tidak tahu kehidupanku sebelum menjadi pelayan di rumah Erlanga dahulu. Sejak kedua orangtua kami meninggal, Aku menjaga Anggun sendirian kami tidak memiliki kerabat lain, Aku bekerja sebagai tukang sapu jalan sembari membawa Anggun bersamaku, itu sangat memilukan sekali waktu itu Anggun masih sangat kecil, Dia tidak mengeluh malah membantu Aku mengambil sampah di jalanan. Hal itu sudah lama berlalu, sekarang semua kesabaran ku tetap menjaga kehormatan ini terbayar sudah ketika Kamu memutuskan untuk mencintaiku, Mas.” Aku memeluk Mas Sadam dengan erat-Dia adalah anugrah yang dikirimkan tuhan untukku.


“Sayang, andaikan Aku bisa memutar waktu. Aku akan menolong kamu waktu itu tapi berhubung Suami kamu ini adalah manusia biasa jadi yang bisa Aku lakukan hanya satu, yaitu membuat kamu bahagia hingga Kau melupakan kejadian menyedihkan itu.” Mas Sadam mengecup keningku, Dia sekarang tidak memelukku karena takut menyakitiku.


Plap!


Aku mencoba mengusir rasa kantuk yang kini masih menggelayuti kedua pelupuk matanya, Ia mengarahkan manik matanya kearah jam dinding yang letaknya lurus dengan ranjang ini. “Pukul 05.00, pagi.”


Aku ingin melihat semburat senja dari balkon ruangan kamar ini. Aku berdiri perlahan dari atas ranjang ini karena takut luka jahitan di perut ini terasa nyeri jika langsung di buat bergerak dengan aktif. Hembusan nafas lirih lolos dari bibirku ketika Aku sudah bisa berdiri dengan tegap lagi. Setelah selesai mencuci wajah ini, Aku langsung keluar dari balkon kamar lalu melihat permandangan langit yang masih gelap namun, aku dengan sabar akan menunggu pergantian warnanya hingga semburat senja muncul di langit.

__ADS_1


“Sayang, kenapa kamu di sini?” tanya Mas Sadam.


Aku menoleh kearah Mas Sadam. “Mas, apakah Aku membangunkan kamu?” tanyaku padanya. Mas Sadam membawa selimut lalu segera menutupi tubuhku mengunakan selimut itu, dia benar-benar romantis sekali.


“Tidak, Aku melihat ke sisi ranjang dan kamu sudah tidak ada di sana, itu membuatku merasa khawatir sekali,” ucapnya sembari melingkarkan satu tangannya di pundak ini.


“Maaf, Mas Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya penasaran sekali melihat semburat senja dari balkon kamar ini,” ucapku jujur sembari menaruh kepalaku di pundaknya.


“Sayang, lain kali kamu bisa membangunkan Aku,” pintanya sembari mengecup puncak kepala ini.


“Mas, Aku tahu kamu pasti sangat lelah sekali karena semalam tidur larut malam setelah menyelesaikan tugas kantor, Aku mana tega membangunkan kamu karena masalah sempele seperti ini,” jelasku padanya.


Mas Sadam mengarahkan daguku untuk menatapnya. “Sekecil apapun yang kamu inginkan itu adalah kewajiban Aku untuk menurutinya, lain kali jangan membuatku cemas lagi, karena Aku tidak akan pernah sanggup kehilangan kamu, Sayang.”


Mas Sadam mengecup bibir ini sekilas kemudian menatap kearah langit. Perlahan tapi pasti langit mulai menampakkan gradasi warna merah, biru dan juga putih. Warnanya sungguh indah sekali. Mas Sadam menyandarkan kepalanya di kepalaku dengan posisi yang sama-satu tangannya melingkar di bahu ini. Bahkan Dia juga sesekali membenarkan selimut yang terjatuh dari pundak ini hingga menunjukkan lengan tanganku yang tidak tertutup oleh Kain, Mas Sadam seakan tidak membiarkan jika tubuhku di jamah oleh angin pagi, karena udara cukup dingin sekali mungkin karena sebentar lagi adalah musim hujan.


“Sayang, sebentar lagi matahari akan terbit,” ucap Mas Sadam sembari menatapku.


“Iya, Mas. Aku menantikan hal itu,” sahutku padanya.

__ADS_1


“Sebelum itu terjadi, bolehkan Aku mengecup manis bibir kamu ini,” pintanya padaku dengan ibu jarinya mengusap lembut bibirku, lelaki itu menatap dengan penuh damba sampai membuat aku malu sendiri.


Uwuu Author ikut meleleh seperti balok es yang terkena sinar mentari.


__ADS_2