Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Rencana Tuhan Sangat Indah


__ADS_3

Aku langsung memutar kenop pintu sembari berteriak. “Apa yang kalian lakukan pada adikku.” Semua pengawal yang mendengarkan Aku berteriak langsung bergegas masuk kedalam ruangan ini.


Wajah perawat wanita dan juga Dokter Heru langsung pucat ketika para pengawal bertubuh kekar itu menodongkan senjata api pada keduanya. Aku langsung berlari mendekati Anggun sembari mengecek seluruh tubuhku. Anggun


menatapku dengan ekspresi kebingungan.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja Apa yang kedua orang itu lakukan pada kamu?” tanyaku sembari masih meneliti sekujur tubuh adikku tapi tidak ada luka yang mencurigakan di sana.


“Anggun, tolong kami,” ucap perawat wanita yang kini tengah diamankan oleh pengawal yang tadi berjaga di depan ruangan Anggun. Aku menatap tajam kearah perawat wanita itu, Aku bahkan tidak kasihan sedikitpun melihat.wajah pucatnya karena shock sedang di todong senjata oleh sang pengawal tepat di bagian kepalanya.


“Tutup mulut kamu,” bentakku padanya. Aku benar-benar tidak bisa mentoleransi jika ada orang yang menyakiti Anggun bahkan jika itu adalah diriku sendiri sekalipun.


“Mbak Sifa, kamu sudah salah paham dengan apa yang terjadi,” ucap Anggun sembari mengoyangkan perlahan lengan tanganku.


“Bagaimana mungkin Mbak Sifa bisa salah pahan, Mbak Sifa melihat.sendiri jika keduanya mencoba melukai kamu dengan melepaskan selang.infus itu,” sahutku pada Anggun dengan menahan emosi yang sudah siap meledak dari puncak ubun-ubun ini.


“Mbak Sifa, mereka melepaskan selang infus itu karena Anggun tidak perlu mengunakannya lagi,” aku masih mendengarkan penjelasan adikku itu. “Anggun sudah boleh pulang.”


“Lalu kenapa jika Anggun boleh pula ….,” ucapanku langsung terhenti ketika Aku baru bisa mencerna apa yang barusan di jelaskan oleh Adik kesayanganku itu. “Sayang, apakah benar jika Anggun boleh pulang?” tanyaku mencoba mengulangi apa yang telah kudengar tadi.


Anggun mengganggukkan kepalanya dengan senyuman lebar. “Iya,.Anggun boleh pulang sekarang. Jadi Anggun mohon lepaskan mereka berdua,” pintanya dengan mengusap salah satu pipiku dengan buku tangannya.

__ADS_1


“Tolong lepaskan mereka,” pintaku sembari menatap kearah para pengawal. “Kalian boleh keluar sekarang,” sambungku setelah mereka bertiga mengantongi kembali senjatanya.


Aku melihat kini Dokter Heru dan juga perawat tersebut mengusap peluh di jidat masing-masing merasa lega karena lolos dari masalah. Dengan perlahan tapi pasti rona merah dikedua pipinya mulai kembali lagi.


“Dokter Heru, saya minta maaf sekali, Saya sungguh tidak sengaja membuat kalian berdua ketakutan tadi, Saya sungguh panik ketika melihat infus Anggun dilepas,” ucapku setelah berdiri dihadapan mereka.


“Saya tahu, Mbak Sifana pasti merasa cemas. Saya juga tahu betapa sayang Anda pada Anggun,” ucap Dokter Heru dengan tersenyum. “Sebenarnya beberapa hari yang lalu kami hendak memberikan kabar baik jika Anggun akan pulang hari ini, tapi Adik anda ini ingin memberikan surprise secara langsung jadi melarang kami untuk memberikan kabar pada Anda,” sambung Dokter Heru mencoba menjelaskan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.


“Dokter Heru terima kasih karena selama ini telah menjaga Anggun dengan baik, saya sungguh bahagia sekali dan tidak menyangka jika hari yang di tunggu ini akan datang juga.” Aku bicara dengan mengusap perlahan air mataku yang tidak berhenti berproduksi, air mata bahagia yang membuat Anggun ikut menitihkan air matanya juga.


“Kalau begitu kami pamit keluar lebih dahulu,” pamit Dokter Heru padaku.


“Terima kasih, dan maafkan atas kesalahan saya tadi,” ujarku kembali meminta maaf karena masih merasa tidak enak hati padanya.


"Mbak Sifa, Anggun ingin cerita sesuatu," ujar Anggun setelah Aku duduk disampingnya.


"Cerita saja, Sayang," sahutku sembari tersenyum.


"Tempo hari sebelum Anggun tidak sadarkan diri, seorang wanita bernama Tasya datang menemui Anggun. Wanita itu mengatakan jika Mbak Sifa merebut suaminya," mengambil nafas sejenak. "Wanita itu mengatakan jika Mbak Sifa melakukan itu untuk membayar biaya pengobatan Anggun, dan karena Mbak Sifa wanita itu di usir dari rumah, dia bahkan menyuruh Anggun pergi dari dunia ini agar Mbak Sifa tidak jadi orang jahat dengan merebut suami orang, hanya untuk membuat Anggun tetap bernafas."


Aku langsung memeluk tubuh Anggun dengan sangat erat. Mbak Tasya tega sekali mengatakan hal semacam itu pada anak yang sedang sakit, sungguh keterlaluan sekali. Aku sudah merasa jika dia tidak benar-benar berubah karena mana ada orang jahat yang cepat sekali berubah.

__ADS_1


"Mbak Sifa akan menceritakan semuanya mulai dari awal. Agar hati Anggun tenang," ucapku padanya. "Anggun percaya sama Mbak Sifa?" sambungku.


"Anggun sangat-sangat percaya pada Mbak Sifa," sahut Anggun mantap.


Aku menceritakan pada Anggun awal mula menjadi pelayan di rumah itu. Aku mengatakan jika kedua orangtua Mas Sadam melihat Mbak Tasya berselingkuh, dan saat itu juga mereka memberitahukan kebenaran tersebut pada Mas Sadam akan tetapi lelaki itu menolak untuk percaya hingga Akhirnya kedua orangtua Mas Sadam meminta bantuan pada Mbak Sifa untuk melakukan skandal agar bisa menikah dengan Mas Sadam. Kebetulan Mbak Sifa membutuhkan uang untuk membayar biaya pengobatan kamu yang mahal namun, di sisi lain Mbak Sifa juga ingin membantu kedua orangtua Mas Sadam mengungkapkan siapa sebenarnya Mbak Tasya itu.


Anggun anak yang pandai jadi di bisa menangkap dengan mudah apa yang Aku ceritakan barusan. Aku juga mengatakan tentang alasan Mas Sadam tidak percaya pada kedua orangtuanya.


"Mbak Sifa, pasti di siksa oleh wanita jahat itu," ucap Anggun sembari memelukku.


"Siksaan itu tidak ada artinya ketika Mbak Anggun melihat kamu sembuh seperti ini," jawabku sembari tersenyum manis menjawab perkataannya.


"Apakah Mas Sadam benar-benar mencintai Mbak Sifa?" tanya Anggun penasaran.


"Awalnya dia begitu membenci Mbak Sifa, tapi sekarang Mas Sadam sangat mencintai Mbak Sifa bahkan dia juga menganggap kamu seperti Adiknya sendiri." Aku mencubit gemas pipinya yang agak berisi itu.


"Mungkin Anggun masih kecil, akan tetapi Anggun juga bisa melihat jika Mas Sadam sangat mencintai Mbak Sifa," ucapnya dengan tersenyum manis.


Cklek!


"Kalian sedang membicarakan Aku?" tanya Mas Sadam.

__ADS_1


Aku dan juga Anggun hanya tersenyum menatap kehadirannya.


Kalian sudah mampir belum ke karya Nisa yang berjudul Obsesi Tuan Massimo. bisa di baca di fi*zo gratis loh. Kisah seorang mafia bucin. kalian pasti suka perpaduan Action dan Romens komedi yang tidak akan membuat ngantuk yang baca ehehehe.


__ADS_2