Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Apakah Dia Masih Gadis


__ADS_3

Aku melihat Sifana membasahi bibirnya lalu berkata, “Janji yang kamu ucapkan tidak pernah terwujud, Mas. Kau bahkan membiarkan aku di


lukai olehnya setiap waktu bahkan bernafas diantara kalian berdua saja aku merasa kesulitan belum lagi keberadaan ku di rumah itu tidak pernah dianggap mungkin karena aku terlahir dari keluarga miskin jadi Kalian bisa memperlakukan aku dengan seenaknya.”


Malam ini aku dan juga Sifana sudah pulang kembali ke kediaman Erlanga, perempuan itu masih marah padaku dan dia tidak mau menatapku sama sekali, bahkan beberapa kali aku mencoba untuk mengajaknya berbicara namun tidak pernah di hiraukan, aku bisa mengerti akan kebenciannya dan rasa takutnya padaku. Aku akan menjaganya mulai sekarang dan tidak akan pernah aku


biarkan Tasya ataupun siapapun menyakitinya bahkan tidak juga diriku sendiri. Matanya yang bengkak sudah mulai memudar. Aku melihat perempuan itu turun dari dalam mobil tanpa mau menatapku, dan aku juga melihat jika kini Mama Elsa memeluknya dengan senyuman manis, aku sangat kagum sekali saat melihat Sifana terlihat baik-baik saja seakan tidak ada hal buruk yang barusan terjadi pada kami berdua.


“Sayang, kamu dari mana saja kenapa tidak pulang ke rumah bahkan tidak memberikan kabar juga,” Tasya memelukku dan wanita ini juga


bersikap jika tidak pernah terjadi apapun dihadapan kami aku tahu Tasya ingin menunjukkan pada Sifana jika hubungan kami berdua baik-baik saja, tapi aku tidak bisa mendukung akting istri pertamaku untuk menyakiti istri keduaku.


“Sayang, jangan seperti ini, di lihat Mama sama Papa,” ucapku sembari menepis tangannya bahkan aku juga enggan sekali menjawab pertanyaan darinya.


“Sifana, bagaimana kabar kamu?” aku melihat Mama Elsa mengandeng tangan Sifana setelah memeluknya tadi.


“Kabar Sifana baik-baik saja, Ma,” aku melihat Sifana tersenyum manis tapi aku tahu dia mencoba sebisa mungkin untuk menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


Liora berlari menghampiri Sifana lalu memeluknya dengan manja seakan perempuan itu adalah mama kandungnya sediri, aku merasa aneh


melihat Liora lebih dekat dengan Sifana mungkin karena istri pertamaku terlalu kejam padanya. Aku sudah sering memarahi Tasya karena dia terlalu kasar pada Liora akan tetapi ucapan ku hanya dianggap sebagai angin lalu olehnya, sungguh miris sekali jika bukan karena Liora aku pasti tidak akan tahan melihat sikap Tasya.


“Mama Sifana, sama Papa Sadam pergi kemana saja? Kenapa tidak mengajak, Liora kan Liora juga mau ikut,” aku melihat Sifana membungkuk

__ADS_1


untuk mengecup puncak kepala putriku dan dengan lembut tangannya menangkup wajah Liora sembari berkata. “Mama Sifana dan juga Papa Sadam tidak kemanapun, kami hanya menginap di rumah Nenek dan juga Kakak,” sambungnya dengan perlahan


ketika berbicara.


“Nenek juga bilang begitu waktu membawa Liora pulang dengan paksa, padahal Liora juga ingin menginap bersama Mama dan juga Papa," aku selalu gemas sekali setiap melihat wajah polos Liora yang merajut kalau tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.


“Mama dan juga Papa, lain kali akan mengajak Liora ikut serta,” aku melihat Sifana dengan sabar menghadapi kepolosan putriku. Aku


selalu melihat sikap keibuan yang ada di diri Liora sangat jauh berbeda dengan Tasya.


Matahari sudah mulai nampak di langit malam, kerlap-kerlip bintang mengelilingi sang bulan dan ini terlihat indah sekali saat di lihat


dari bumi. Aku duduk bersama Mama dan juga Papa di gazebo yang ada dekat dengan taman bunga. Kedua orangtuaku mengatakan dan juga menunjukkan jika Tasya berselingkuh ketika di mall, ya hal ini sudah sering aku lihat tapi seperti biasa aku masih membela Tasya karena aku tidak ingin jika sampai wanita itu membawa Liora pergi jauh dariku. Liora adalah semangat hidupku dan aku tidak bisa kehilangannya, hanya karena Liora saja aku masih mempertahankan rumah tangga ini sampai aku berkali-kali menyakiti hati kedua orangtuaku.


“Sadam, bukalah mata kamu dan lihat apa yang telah istri kamu lakukan bersama dengan lelaki lain. Tasya bahkan berciuman di depan umum


mulai geram dan ikut angkat bicara.


“Tidak bisakah kau melihat betapa baiknya Sifana, Apakah kamu kira kami tidak tahu apa yang telah kamu lakukan padanya kemarin malam!


Kami memasang cctv di seluruh rumah termasuk bagian dapur, hanya saja bagian dapur kami sembunyikan agar para pelayan tidak mengetahuinya. Tapi sekarang


lihatlah wanita itu bahkan tetap menyembunyikan apa yang telah kamu lakukan dihadapan kami semua, Sifana mungkin marah pada kamu tapi dia juga masih mencoba melindungi kamu dari amarah kami berdua, sadarlah dan lihat kebaikan istri kedua kamu itu, Nak," Aku melihat kobaran mata yang sudah mulai membara di manik mata Papa Damar.

__ADS_1


Aku memang pantas mendapatkan semua makian ini bahkan mungkin ini masih kurang jika mengingat kebodohan ku malam itu. Aku tidak pernah menyangka jika Mama mengetahui semuanya tanpa melihat mungkin benar apa yang selama ini dikatakan orang jika insting seorang ibu pasti benar dan aku sudah


membuktikannya sendiri sekarang.


“Apakah dia masih gadis?” papa Sadam menatapku dengan penuh


selidik dan aku hanya bisa mengganggukkan kepala mengiyakan pertanyaannya.


Bugg!


Aku langsung terjatuh ke belakang setelah Papa memukul wajahku, kepala ini mulai terasa pusing dan untuk sesaat pandanganku mulai berkunang-kunang akhibat pukulan kerasnya. Aku mulai merasakan sesuatu menetes perlahan dari sudut bibir ini dan aku menyekanya perlahan, ya itu adalah cairan berwarna merah. Dengan sangat


jelas aku melihat kedutan di sekitar rahang Papa menandakan jika lelaki itu sedang mencoba menahan emosi yang sudah memuncak di ubun-ubunnya.


“Papa, jangan seperti ini, Mama mohon jangan pukul Sadam


lagi,” aku melihat Mama masih berusaha membela diriku padahal aku sudah melakukan kesalahan yang besar. Aku sangat merasa bersalah sekali karena telah menyakiti hati wanita yang telah melahirkan ku itu.


“Ma, Biar anak tidak berguna ini sadar dengan apa yang dia lakukan, bagaimana mungkin kita bisa membesarkan putra yang tidak punya belas kasih seperti dia,” aku melihat Papa mengusap kasar wajahnya yang memerah seakan hendak membuang semua emosinya.


“Jika sampai satu kali lagi, Papa melihat kamu masih membela Tasya maka, Papa akan melakukan lebih dari ini.”


“Pa jangan,” aku melihat Sifana langsung menghadang di depanku ketika Papa Sadam hendak melayangkan tinjunya padaku untuk kali kedua.

__ADS_1


“Pa, dengan kekerasan seperti ini semuanya tidak akan pernah selesai malah akan semakin memperkeruh keadaan,” aku melihat Tasya langsung membawa Liora masuk kedalam.


Aku langsung menghembuskan nafas lega ketika melihat Papa bisa menghentikan gerakan tangannya di waktu yang tepat, aku sungguh tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai Sifana terkena pukulan Papa.


__ADS_2