
Sadam Pov.
Baru kali ini aku melihat tatapan matanya penuh dengan kebencian, aku juga melihat sorot mata Sifana terlihat kecewa dan juga takut
padaku kenapa aku bisa kejam seperti itu padanya dan aku begitu marah pada Tasya kenapa dia selalu saja mengatakan hal buruk tentang perempuan itu dan dengan bodoh aku percaya begitu saja. Andaikan semua kejadian malam kemarin tidak pernah terjadi pasti aku masih akan melihat tatapan malu-malu yang selama
ini perempuan itu tunjukkan padaku. Tuhan, tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan besar ini, Sifana perempuan yang baik dan juga masih suci dan aku merenggut mahkotanya dengan kasar dan tidak punya hati.
Aku terlalu tertekan melihat sikap Tasya yang semakin menjadi-jadi bahkan wanita itu juga tidak pernah menganggap aku sebagai suaminya
secara tidak langsung aku melupakan emosi sialan itu pada perempuan tidak bersalah ini, tanpa Sifana ketahui selama ini diam-diam aku selalu memarahi Tasya yang dengan sengaja melukainya hingga akhirnya aku tidak tega melihat perempuan
malang itu selalu di siksa dan aku memutuskan untuk memulai semuanya dari awal, jujur hatiku terasa begitu pilu ketika melihat sorot mata ketakutan dan juga tertekan yang selama ini istriku kedua tunjukkan dihadapan Tasya, dia terlalu baik sampai tidak tega mengungkapkan keburukan Tasya hadapanku.
Aku mendekatinya dan meminta maaf akan tetapi Sifana menjaga jarak denganku dan hatiku begitu sakit saat melihat sorot matanya yang ketakutan ketika aku berada disampingnya, bayangan ketika aku memaksakan diri memasuki tubuhnya sungguh membuat aku merasa bersalah tapi perasaan bersalah itu percuma saja sebab hal itu sudah terjadi dan waktu tidak akan pernah bisa di putar kembali.
“Sifana, kamu mau kemana?” aku melihat perempuan itu melangkah keluar dari rumah ini dengan setengah berlari. Dia malah semakin
kencang berlari tanpa menggubris ucapan ku, aku tahu dia mencoba untuk menghindar dan aku tidak bisa membiarkan perempuan itu pergi sendirian tidak setelah apa yang terjadi.
Aku keluar dari rumah ikut berlari menghampirinya, aku melihat kedua satpam yang kini sedang melihat kami berdua dengan tatapan aneh
tapi aku tidak perduli, aku terus saja memanggil nama Sifana walaupun perempuan itu masih tidak mau menghentikan langkahnya. Dia berlari ke pinggir jalan dan secara kebetulan ada angkutan umun lewat Sifana langsung masuk kedalamnya, aku
__ADS_1
semakin mempercepat langkahku sembari menyuruh supir angkutan umum itu untuk berhenti dan akhirnya aku bisa masuk kedalam angkutan umum ini, aku melihat semua penumpang di dalam angkutan umum menatap istriku dengan wajah penuh damba, ya aku tidak heran karena Sifana memang sangat cantik sekali meskipun dia tidak memakai make up bahkan kedua matanya juga masih terlihat bengkak tapi hal itu tidak sedikitpun mengurangi kecantikannya.
Aku mencoba mengatur nafas dan jujur saja aku merasa tidak nyaman naik angkutan umum karena ini untuk kali pertama aku menaiki angkutan
umum ini lebih lagi di sini banyak sekali terdapat aroma tubuh semua orang, aku sungguh merasa mual dan ingin sekali muntah keringat di tubuh ini semakin berjatuhan dan aku melihat Sifana menatapku sesaat dan setelah aku melihatnya wanita itu langsung membuang wajahnya kearah lain.
“Pak supir, berhenti di sini,” aku langsung ikut turun tanpa berbicara apapun. Sifana membayar ongkos kami berdua dan melangkah pergi begitu saja.
“Sifana, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki
semua ini, aku sungguh menyesal telah memperlakukan kamu dengan tidak baik selama ini, aku mohon dengarkan aku,” ucapku dengan terus mengekori gerakan perempuan itu. Terik matahari seakan membakar kulitku tapi aku tidak perduli demi untuk mendapatkan maaf dari istriku.
Aku menghentikan langkah ketika melihat istriku memutar tubuhnya
akan tetapi aku tidak perduli pada semua orang itu dan masih sibuk memusatkan perhatian kearah wajah istriku.
“Tolong, Mas Sadam jangan mengikuti aku, bukankah tadi aku
sudah bilang jika akan memaafkan, Mas Sadam dan aku juga ingin kalau Mas Sadam lekas mengakhiri hubungan yang tidak sehat ini,” hatiku sungguh terluka ketika melihat bibirnya gemetar setiap mengucapkan kata bahkan pelupuk matanya sudah di penuhi oleh Kristal bening, kedua alis dan juga hidungnya mulai memerah dan aku merasakan rasa sakit dan tidak nyaman di dada ini lalu perlahan merambat naik ke tenggorokan dan membuat panas hidungku hingga aku mulai merasakan sesak di dada seakan oksigen di dalam sana sudah mengering.
“Sifana, aku tidak akan pernah menceraikan kamu, aku sungguh
minta maaf, aku benar-benar minta maaf,”ucapku sembari menangkup wajah imutnya mengunakan kedua tangan, aku tidak peduli jika beberapa orang terus melihat kami, aku hanya perduli pada istriku yang malang ini, ya hanya dia saja sekarang prioritas utamaku.
__ADS_1
Sifana menepis kasar tanganku yang sempat menangkup wajahnya
lalu ia mengambil nafas dalam sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara, “Kenapa aku lupa jika, Mas Sadam pasti tidak akan pernah meninggalkanku sebab, Mas Sadam takut tidak mendapatkan warisan dari Papa Damar,” aku melihat senyuman miris terukir menyakitkan dari bibirnya yang memucat. Perempuan itu seakan sedang menertawakan nasib malangnya karena telah menikah denganku.
“Mungkin jika dahulu aku akan takut kehilangan semua itu, tapi tidak dengan sekarang, aku lebih takut kehilangan dirimu, Sifana,” aku
memegangi kedua tangannya meskipun perempuan itu enggan bersentuhan denganku.
“Setelah malam itu, aku sudah kehilangan perasaan cintaku padamu, Mas. Cinta yang dulu selalu membuat jantungku berdebar ketika dekat
denganmu kini sudah lenyap-melebur bersama sikap kasar kamu padaku di malam menyedihkan itu.” Aku melihat satu tetes air mata mulai jatuh membasahi wajahnya dan dengan cepat wanita itu langsung mengusapnya kasar kemudian
mengigit bibirnya sebelum kembali berbicara. “aku sudah tidak menginginkan pernikahan ini lagi, mungkin memang benar apa yang pernah Mas Sadam katakan cinta istri Mas Sadam hanya satu yaitu, Mbak Tasya.”
“Itu dulu sebelum aku mengetahui alasan kamu menikah denganku, tapi setelah aku mengetahuinya aku mulai bisa menerima kehadiran kamu
diantara kami, dan aku mohon jangan pernah pergi dariku, aku akan berusaha membuat kamu jatuh hati padaku percayalah, aku akan berubah dan memperlakukan kalian dengan adil seperti janjiku sebelumnya.
Aku melihat Sifana membasahi bibirnya lalu berkata, “Janji yang kamu ucapkan tidak pernah terwujud, Mas. Kau bahkan membiarkan aku di
lukai olehnya setiap waktu bahkan bernafas diantara kalian berdua saja aku merasa kesulitan belum lagi keberadaan diriku di rumah itu tidak pernah dianggap mungkin karena aku terlahir dari keluarga miskin jadi Kalian bisa memperlakukan
aku dengan seenaknya.”
__ADS_1