Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Kelopak mataku memang masih terpejam akan tetapi telinga ini


masih bisa mendengar jika Mama Elsa sedang menyalahkan Mbak Tasya akan apa yang terjadi padaku. Mama Elsa menuduh Mbak Tasya yang telah melakukan ini semua,


Mbak Tasya tentu saja mengelak akan tetapi Mama Elsa masih tidak mau percaya hingga aku dengar Mas Sadam mulai membela Mbak Tasya padahal tadi lelaki itu tahu sendiri dengan apa yang telah dilakukan Mbak Tasya padaku. Aku hanya bisa


mengerutkan kening dengan manik mata yang masih terpejam saat merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian kepala. Kudengar Papa Damar mulai menengahi masalah ini hingga semua orang langsung terdiam.


“Mbak Sifana, bangunlah jangan buat Liora sedih seperti ini,” kudengar suara gadis kecil yang sangat aku sayangi tengah menangis dengan


tangan yang mengoyangkan pelan lenganku. Bisa aku rasakan baju ini basah sedikit dan aku yakin jika itu adalah air mata Liora.


Karena tidak ingin membuat gadis kecil ini merasa khawatir akhirnya aku putuskan untuk membuka mata, pandanganku masih terasa kabur akan tetapi lambat laun mulai terlihat jelas.


“Sifana, apakah kamu baik-baik saja?” kulihat Mama Tasya langsung menghampiriku dengan wajah yang terlihat khawatir sekali.


“Nak, katakan pada kami apakah semua ini karena kelakuan, Tasya,” kudengar Papa Sadam ikut menimpali. Pun aku melihat wajah lelaki itu juga terlihat khawatir sama seperti wajah Mama Elsa.


Aku melirik kearah Mbak Tasya sekilas wanita itu membulatkan

__ADS_1


kedua matanya padaku seakan mengatakan jika aku tidak boleh menceritakan yang sebenarnya. Sesaat kemudian kualihkan pandangan ini kearah Mas Sadam yang tengah melihat Mbak Tasya dengan air muka yang tidak terbaca.


“Sebenci itu kamu padaku, Mas Sadam hingga kamu menutup mata


akan semua yang terjadi.” Bibir ini hanya bisa diam akan tetapi cairan bening yang sudah menyelimuti kornea mata seakan menunjukkan sakit yang begitu dalam di hati ini.


Kulihat Mama Elsa dan juga Papa Damar masih menatap aku


menunggu jawaban, aku membuka mulut sembari berkata, “Mbak Tasya, tidak berbohong karena tadi Sifana terjatuh justru Mbak Tasya yang tadi hendak menyelamatkan Sifana, Ma, Pa.” Aku terpaksa berbohong karena tidak ingin melihat Mbak Tasya semakin membenciku meskipun aku tahu wanita itu juga tidak


akan pernah menyukaiku, karena kenyataan yang sebenarnya adalah aku sudah mengganggu kehidupan mereka.


“Ma, kenapa selalu menyalahkan, Tasya bukankah Sifana sudah


mengatakan yang sebenarnya,” air muka Mas Sadam terlihat tidak suka melihat ada orang lain yang menjelekkan Mbak Tasya sama seperti hari-hari sebelumya.


“Papa dan juga Nenek, jangan bertengkar lagi, Mbak Sifana


sedang sakit,” kudengar suara lirih bercampur isak tangis keluar dari bibir mungil Liora. Gadis kecil ini sangat baik sekali padaku.

__ADS_1


“Nenek dan juga Papa tidak bertengkar, Sayang, Liora hanya


sedang salah paham saja,” kudengar Mama Elsa mendekati Liora sembari mengusap kedua cairan bening yang sudah menetes di pipi gadis kecil ini.


“Liora, ayo keluar sama, Mama saja kita biarkan Mbak Sifana beristirahat.” Mbak Tasya mengajak Liora pergi akan tetapi gadis kecil itu hanya diam menatap tangan Mbak Tasya yang sudah berada dihadapan Liora tanpa


berniat menyentuhnya.


“Liora, mau sama Mbak Tasya saja,” ujar gadis kecil itu sembari menggenggam tanganku erat.


"Mbak Sifana harus beristirahat, sebaiknya kita keluar sama, Mama saja," aku melihat Mas Sadam berbicara dengan nada suara lembut dan penuh kasih sayang hingga Liora mulai patuh akan permintaannya.


Kini hanya ada Mama dan juga Papa di dalam kamar ini, aku mulai merasakan jika tenggorokanku kering, kulihat kearah nakas samping ranjang ada satu gelas air mineral di sana, aku meneguk salivah yang terasa kering di tenggorokan.


"Biar, Mama saja yang ambilkan," suara Mama Elsa mengehentikan tubuhku bergerak. Wanita ini sangat peka sekali dengan apa yang akan aku lakukan sehingga dia membantuku untuk minum air dalam gelas ini perlahan.


Mama Elsa juga tidak merasa jijik mengusap sisa air minum di dekat bibiku.


Papa Damar Mengatakan jika mereka akan tinggal di dalam rumah ini sampai aku sembuh, aku hanya bisa mengganggukkan kepala dengan senyuman tipis, aku tentu senang sekali melihat mereka berada di rumah ini, ya walaupun secara tidak langsung diriku telah berlindung dibalik punggung mereka berdua.

__ADS_1


"Sebenci itu kamu padaku, Mas. Hingga kamu menutup mata akan semua yang terjadi. Bukankah seperti itu, Mas Sadam.'


__ADS_2