
Aku melirik kearah pos satpam dan di sana kedua satpam itu sudah berada di tempatnya seperti semula, ini sangat aneh sekali pikirku, Aku
menatap kearah lelaki asing ini sesaat jika di lihat dari sorot matanya yang seakan memuja Mbak Tasya, aku sangat yakin sekali jika ini semua adalah rencana Mbak Tasya, aku mungkin bisa terima jika di hina dan juga di siksa oleh Mbak Tasya karena aku telah merebut suaminya. Tapi untuk yang satu ini aku tidak bisa tinggal diam, aku tidak mau Mbak Tasya memfitnah aku berselingkuh padahal yang terjadi dialah dalang dibalik semua ini, aku harus membela diriku sendiri karena sekarang ini kehormatan sebagai seorang wanita sedang di pertaruhkan.
“Mbak Tasya, jangan asal menuduh,” tukas ku cepat. “aku memang pernah bertemu lelaki ini tempo hari di pinggir jalan, dia memaksa membawa barang belanjaku waktu itu, tapi aku menolaknya dan dia masih memaksa
hingga Mas Sadam datang menyelamatkan aku dari lelaki kurang ajar ini.” Aku melihat wajah Mbak Tasya yang tadinya terlihat santai kini mulai tersulut emosi sepertinya ucapku tadi memetik api dalam dirinya.
“Sifana, bukankah kamu sendiri yang memperkenalkan nama kamu padaku,” ujar lelaki asing itu mencoba memfitnahku sekarang aku yakin jika ini adalah siasat Mbak Tasya.
Aku melihat Mas Sadam menatapku lelaki itu lekat entah apa yang sedang dia pikirkan ataukah dia percaya dengan semua ini, ya sepertinya
begitu karena Mas Sadam sangat mencintai Mbak Tasya jadi ia dengan mudah bisa percaya dengan apa yang wanita itu katakan sedangkan aku hanya istri yang tidak di anggap dan ikatan diantara kami tidak lebih dari di atas kertas saja.
“Mas Sadam, aku mohon jangan percaya padanya, aku sungguh
tidak pernah memberitahukan namaku padanya jika memang aku seperti itu mana mungkin tadi aku berusaha meloloskan diri,” aku berusaha meyakinkan Mas Sadam
lagi.
“Sifana, kenapa kamu dengan mudah melupakan aku,” lelaki itu langsung memegang kedua tanganku kemudian. Aku berusaha melepaskan diri akan tetapi lelaki itu menggenggamnya semakin erat hingga membuat tenagaku seakan
tidak berdaya di buatnya.
“Lepaskan,” Aku terkejut setelah mendengarkan Mas Sadam
__ADS_1
mengatakan kata tersebut. Aku tidak menyangka jika dia membantuku ataukah ini tandanya jika sekarang Mas Sadam mulai percaya dengan apa yang aku katakan tadi.
Aku melihat dengan sangat jelas jika sekarang Mbak Tasya melihat kearah Mas Sadam dengan rahang yang terjatuh, pasti wanita itu sama
kagetnya denganku. Kedua satpam melihat dari gerbang mungkin mereka akan turun tangan jika sampai para majikan di lukai, beberapa mobil melintas begitu saja, ya begitulah penghuni kompleks sekitar rumah mereka sibuk dengan urusan masing-masing jari tidak perduli dengan kejadian disekitar lebih lagi tidak ada adegan yang perlu di khawatirkan dan aku juga percaya jika Mbak Tasya tidak akan pernah membiarkan Mas Sadam terluka.
“Apa kamu tidak dengar apa yang aku bilang barusan!” suara Mas Sadam mulai naik satu oktaf, aku melihat urat di sekitar rahangnya mulai
berkedut bukankah itu tanda jika lelaki itu sudah mulai terpancing emosi.
“Bukankah, Sifana adalah pelayan, Anda Pak Sadam,” ujar lelaki bernama putra itu. Lelaki itu langsung menghentikan ucapannya ketika ia
kelolosan menyebutkan nama Mas Sadam, ya aku yakin lelaki itu pasti tidak sengaja menyebutkan nama Mas Sadam bukankah ini malah semakin bagus untukku.
“Dia bukan pelayan, dia istriku,” aku hampir saja tidak percaya dengan penuturan Mas Sadam barusan, bukankah selama ini lelaki itu bilang jika aku adalah pelayan di dalam rumah ini, tapi kenapa sekarang dia malah mengakui aku sebagai istrinya dihadapan lelaki lain, ini sungguh tidak masuk akal. “dari mana kamu tahu namaku?” Mas Sadam kembali bertanya pada lelaki itu, aku melihat
Ku alihkan perhatian kearah Mbak Tasya, wanita itu sedang gelisah sekarang, bahkan aku melihat jidatnya mulai mengeluarkan keringat
dingin tanda jika dia gagal melakukan misinya untuk memfitnah aku dihadapan Mas Sadam.
“Kamu pasti ingin memfitnah aku, pantas saja sejak awal kita bertemu kamu terlihat sangat agresif sekali dan itu membuat aku tidak suka, kau
pikir aku wanita murahan yang bisa kau rayu dan juga kau fitnah seenaknya, aku juga yakin jika kamu di suruh oleh seseorang untuk melakukan ini semua,” tuduhan ku sepertinya benar dan mengenai hati lelaki itu dan juga Mbak Tasya,
Terlihat sangat jelas jika kedua orang itu mulai gelagapan bahkan Mbak Tasya juga sampai menggenggam kedua tangannya sendiri dengan memberikan tatapan tajam
__ADS_1
pada lelaki asing tersebut.
“Katakan siapa yang menyuruh kamu,” aku melirik Mas Sadam
yang menatapku sekilas kemudian melihat kearah Mbak Tasya dan juga lelaki itu secara bergantian. Apakah dia mengetahui sesuatu tapi masih berpura-pura diam? Entahlah
hanya Tuhan dan juga Mas Sadam saja yang tahu kebenarannya.
“Kenapa kita harus mempermasalahkan hal seperti ini,” aku melihat Mbak Tasya mulai bergelayut manja di lengan Mas Sadam. “Sayang, sebaiknya kita masuk saja kedalam rumah bukankah kamu lelah selesai bekerja,” bujuk Mbak Tasya. Aku Hanya bisa menundukkan kepala pasrah melihat semua ini jika sudah begini pasti Mas Sadam akan menganggap masalah ini selesai.
Lelaki asing itu pergi setelah berpamitan pada kami semua
tapi dia tidak meminta maaf dan masih sok kenal denganku. Mbak Tasya dan juga Mas Sadam berlalu pergi sedangkan aku berjalan masuk menuju gerbang utama rumah
ini. Mobil yang di kemudikan oleh Mas Sadam melewati aku begitu saja, aku adalah korban di dalam masalah ini tapi kenapa nasibku seperti pelaku utama. Aku berjanji pada diriku sendiri jika tidak akan pernah mau mengalah pada Mbak Tasya kalau terus di fitnah.
***
Hari sudah larut malam akan tetapi aku masih tidak bisa memejamkan mata, aku mulai menjejakkan kaki di atas sandal lalu berjalan menuju
ke jendela, tanpa sengaja aku melihat Mbak Tasya sedang berjalan-jalan di
taman, wanita itu sendirian akan tetapi sedang sibuk berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Jika di lihat dari air mukanya wanita itu sepertinya sedang marah-marah sekarang ataukah mungkin Mbak Tasya sedang marah-marah pada lelaki asing itu tadi, ya, sepertinya begitu.
Aku mengamati wajah Mbak Tasya yang panik dan juga cemas tapi selang beberapa detik wanita itu senyam-senyum sendiri seperti lelaki yang ada didalam telepon itu pandai merayu jika dilihat dari wajah Mbak Tasya yang langsung sumringah. Aku hanya bisa mengangkat kedua pundak lalu menutup kembali tirai jendela akan tetapi aku langsung berteriak kaget ketika melihat Mas Sadam berada di dalam kamarku.
__ADS_1
'Aku tidak akan membiarkan orang lain memfitnah aku, bukankah seperti itu seharusnya, Mbak Tasya?'