
Aku menatap kearah Mas Sadam dengan penuh tanya, lelaki ini akan membawa aku kemana? Kenapa dia hanya diam saja bahkan tatapan matanya terlihat misterius sekali kenapa aku jadi takut.
“Mas Sadam, kita mau pergi kemana?” untuk kali kedua aku bertanya.
“Kita akan pergi ke tempat yang seharusnya,” dia menjawab ambigu membuat aku semakin bingung saja. Bukankah tempat yang seharusnya itu adalah kita pulang ke rumah? Tapi kenapa malah pergi ke tempat lain.
“Mas Sadam, bisakah kamu mengatakan tempat yang akan kita
datangi?” tanyaku meminta penjelasan.
“Aku akan mencari tempat yang sepi lalu membunuh kamu di sana,” kulihat lelaki itu menyeringai sungguh menakutkan sekali.
Kini sekujur tubuhku perlahan diselimuti oleh rasa takut, jantungku yang tadi sudah berdetak kencang kini semakin meraung bagaikan sirene mobil polisi yang merajai jalanan. Kenapa Mas Sadam ingin membunuhku? Apakah selama ini sikap baiknya padaku hanya pura-pura dan sosok Mas Sadam yang sebenarnya adalah lelaki di malam itu, malam yang masih sering membuat aku bergidik takut ketika bayangan itu muncul lagi dalam benakku. Aku mencoba memutar kedua bola mata ini agar cairan bening tidak lolos dari singgasananya
dan menunjukkan aku begitu takut sekarang. Aku masih menatap Mas Sadam dengan kedua tangan saling bertautan menjalarkan semakin besar rasa takut di sana. Aku mencari apapun yang ada didalam mobil ini-benda yang bisa membuat orang
disebelah ku tidak sadarkan diri lalu aku akan kabur. Ya, ini rencana yang bagus.
Mas Sadam mengalihkan perhatiannya sesaat padaku dan kedua alisnya langsung berkerut dalam sedangkan diriku yang malang menatapnya dengan mengeluarkan keringat dingin dan wajah pucat pasih seakan kata-katanya tadi bagaikan lintah yang menyerap semua darah di wajahku.
“Sayang, kenapa kamu ketakutan seperti itu?” dia masih bertanya kenapa aku takut sungguh menakjubkan sekali lelaki ini. Andai aku bisa ingin aku cakar yang wajahnya untuk melampiaskan rasa takut di sekujur tubuh ini.
“Ka-kau mau membunuhku! Apa salahku?” aku melihat kini lelaki itu mengerutkan keningnya juga entah apa artinya itu aku kebingungan
hingga tidak bisa mengartikan air mukanya.
Aku melihat Mas Sadam langsung menepuk jidatnya dengan terkekeh, aku menganga heran melihat sikapnya. “Astaga, jangan bicara jika kamu mengira ucapan ku tadi serius?” kini Mas Sadam menatap kearah jalanan setelah melihat jalan agak sepi lelaki itu langsung membanting setir mobilnya ke kiri
dan menepi di jalanan. Kini dia menatapku sendu dan itu membuat hatiku sedikit merasa tenang.
“Te-tentu saja aku percaya karena malam itu saja,” belum selesai aku berbicara tapi lelaki itu sudah membungkam mulutku dengan
ciumannya. Kedua bibir kami saling bersentuhan entah kenapa aku tidak bisa menjauh walau satu jengkal saja mungkin karena lelaki ini melakukannya dengan sangat lembut seakan takut menyakiti aku.
__ADS_1
Nafas hangatnya menerpa wajahku ketika dia melepaskan pungutan kami, dia menyatuhkan kedua kening kami lalu mengunci pandanganku
hanya berpusat padanya. “Aku tidak akan pernah menyakiti kamu lagi, percayalah.”
“Tapi tadi Mas Sadam bilang mau membunuhku?” aku bertanya satu kali lagi mengulang perkataanya sebelumnya.
“Sayang, aku hanya bercanda kenapa kamu menggangap serius apa yang aku katakan,” ujarnya dengan menjauhkan posisi kami, aku melihatnya menepuk jidat untuk kali kedua. Ya Tuhan kenapa aku bodoh sekali bisa percaya ucapannya tanpa berpikir panjang.
***
Mas Sadam turun dari dalam mobil lalu lelaki itu mengitari mobilnya membukakan pintu untukku, aku sungguh diperlakukan baik olehnya. Mas Sadam mengulurkan tangannya padaku dan dengan senang hati aku menyentuh tangannya membiarkan lelaki itu membantuku turun dari dalam mobil, adegan seperti ini sering kali aku lihat di dalam film drakor bahkan tubuh Mas Sadam
sedikit membungkuk menyabut tanganku. Aku merasakan kedua pipiku di rambati rasa panas, segera aku alihkan pandangan kearah lain karena tidak ingin jika sampai Mas Sadam melihat semburat merah di kedua pipiku. Aku langsung meliriknya ketika lelaki itu membisikkan kata mesra di dekat daun telingaku.
“Sayang, kau sangat cantik sekali,” aku butuh air untuk menguyur tubuhku agar tidak terbakar karena kata-katanya, aku baru tahu jika dia
pandai merayu. “aku tidak merayu tapi berbicara jujur,” sambungnya padaku. Lelaki ini hebat sekali dia bisa membaca jalan pikiranku sekarang seperti cenayang saja.
“Kita mau membeli sesuatu untuk kamu,” aku melihat lelaki itu tersenyum manis padaku bahkan dia juga belum melepaskan tautan tangannya dari pergelangan tanganku.
“Tapi aku sudah punya semuanya mas, tempo hari Mas Sadam
membelikan aku banyak baju,” sahutku mengambil kesimpulan.
“Bukan itu, ini sesuatu yang harusnya aku berikan untuk kamu sejak dari awal kita menikah.”
“Oh ….,” jawabku sambil membulatkan bibir membentuk huruf tersebut.
Aku tidak bicara lagi dan sibuk memusatkan perhatian kearah
orang-orang yang kini sedang berbelanja. Aku melihat dua orang gadis belia bernyanyi bersama dan terdapat satu headset yang mereka gunakan berdua bahkan kedua gadis belia tidak tidak perduli dengan tatapan para pengunjung lain melihat tingkahnya, entah kenapa aku mengingat masa dimana aku masih bersekolah dahulu masa itu sangat
menyenangkan sekali segera aku gelengkan kepala untuk menepis bayangan masa lalu tersebut. Kini aku mengalihkan perhatian kearah lelaki tampan yang sedang berjalan sendirian lelaki itu sesekali menengok
__ADS_1
kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu mungkin sedang mencari kekasihnya. Bayangan akan lelaki itu langsung melebur di benakku ketika aku merasakan tangan Mas Sadam menarik pinggangku lebih dekat dengannya entah sejak kapan dia melepaskan genggaman tangannya.
Aku menatap wajah Mas Sadam yang terlihat suram, matanya menajam menatap lelaki yang sempat aku lihat tadi ini untuk kali kedua aku melihat air mukanya seperti ini dalam satu hari sebenarnya apa yang terjadi
padanya? Aku kembali menatap lelaki tampan yang sempat aku lihat dan benar saja kini lelaki itu sudah bersama kekasihnya dan mereka bergandengan tangan bersama
dengan tersenyum bahagia seakan dunia hanya milik berdua dan yang lain numpang saja.
“Apakah dia sangat tampan!” nada suara sarkas mulai menyeruak di telingaku membuat perhatianku tertuju menatap Mas Sadam.
“Maksudnya?” tanyaku dengan menghentikan langkah kami di
dekat toko penjual perhiasan.
“Dari tadi kamu menatapnya, apakah kamu menyukainya? Apakah dia lebih tampan dari pada aku? Apakah tubuhnya lebih bagus dariku?” aku
mengerutkan kening tidak mengerti kemana arah perbincangan suamiku sekarang aku sangat bodoh hingga tidak bisa menebaknya mungkin karena aku takut kecewa karena dia tidak mungkin sedang merasa ‘cemburu’ padaku.
“Aku tidak mengenalnya,” sahutku singkat mana mungkin aku menyukainya."
“Kau menyukainya, aku melihat kamu menatapnya dari tadi sampai kau tidak menyadari jika aku memperhatikan kamu,” aku melihat mata Mas Sadam menajam seakan lelaki itu sedang menghunuskan pedang melalui tatapan matanya itu.
“Aku hanya menatapnya bukan berarti menyukainya,” aku
mengambil nafas dalam lalu menghembuskan perlahan dari mulut. “menatapnya saja apa tidak boleh.”
“Tentu saja tidak boleh!” Mas Sadam menjawab cepat ucapan ku.
“Kenapa tidak boleh?” aku melangkah mundur ketika Mas Sadam mendekati aku tanpa mengerdipkan matanya. Aku kini sudah tidak bisa kemanapun
lagi karena telah terpojok ke dinding toko yang terbuat dari kaca transparan. Aku melihat beberapa pengunjung menatap kearah kami dengan mengerutkan keningnya sesaat lalu pergi tanpa perduli.
“Karena aku cemburu.”
__ADS_1