
Aku dan juga Liora masuk kedalam rumah. Aku mengandeng tangannya entah mengapa Aku selalu merasa dekat dengan Liora mungkin karena Aku melihat sosok Anggun di dalam diri, ya walaupun Liora lebih manja dari pada Anggun yang selalu bersikap seperti orang dewasa.
“Mama Sifana, bolehkan Liora bertanya?” ujar Liora sembari mendongakkan kepalanya menatapku.
Aku tersenyum manis sembari berkata, “Bicara saja, Sayang kenapa harus meminta ijin.”
“Bagaimana kabar, Mama Tasya Apakah dia tidak merindukan Liora Sejak Mama Tasya keluar dari rumah malam itu dia tidak pernah menghubungi Liora sama sekali,” Aku melihat manik mata karamel miliknya memancarkan kerinduan pada sosok yang Ia sebutkan tadi.
Aku harus berbohong agar tidak membuat Liora sedih. “Mama Tasya tentu saja sangat merindukan Liora, mungkin Mama Tasya sedang sibuk jadi masih belum bisa menjenguk Liora,” ujarku padanya sembari mengajak Liora duduk di sofa yang ada di ruang tengah rumah ini.
“Mama Sifana, tidak berbohong kan?” tanya Liora padaku. Manik mata Liora terlihat berkaca-kaca mungkin dia sedang menahan rindu pada Mamanya dan itu sangat wajar.
“Mama Sifana tidak mungkin berbohong,” ujarku sembari memeluknya. “Apakah Liora sudah sarapan pagi?” tanyaku padanya mencoba mengalihkan perbincangan kami.
“Liora sudah sarapan pagi, tadi Nenek buatkan nasi goreng dengan ayam goreng untuk Liora dan juga Kakek,” jawab Liora sembari melepaskan pelukanku kemudian gadis kecil itu mengambil remote tv yang ada di meja lalu menyalakan tv tersebut dan menonton film karton yang Ia sukai.
Suara langkah kaki terdengar melangkah mendekat. Aku mengalihkan pandangan dan mendapati Mama Elsa sedang tersenyum padaku.
“Liora, sedang lihat apa?” tanya Mama Elsa sembari mendudukkan tubuhnya di samping Liora.
“Liora sedang nonton kartun upin dan ipin,” sahutnya sembari mengalihkan pandangan kearah Mama Elsa sekilas lalu kembali memusatkan perhatian kearah televisi.
“Nenek mau bicara dengan Mama Sifana dulu, ya. Liora di sini saja lihat televisi.”
__ADS_1
“Ok. Nenek,” sahut Liora sembari menyatuhkan jari jempol dan juga telunjuknya membentuk huruf o.
Aku dan juga Mama Elsa berjalan menuju ke dapur.
“Sifana, bagaimana dengan sikap Sadam pada kamu?” tanya Mama Elsa sembari menarik salah satu kursi di meja makan untuk Dia duduki.
“Mas Sadam, sudah jauh berubah Ma. Dia jadi lebih baik dan juga menyayangi Sifana, sama seperti apa yang Mama Elsa dan juga Papa Damar inginkan,” jawabku apa adanya.
“Sifana, Mama berharap hanya kamu saja istri Sadam satu-satunya,” wanita paruh baya itu bicara dengan air muka serius. “Melihat Sadam mengusir Tasya dari rumah ini itu membuat Mama dan juga Papa merasa lega karena pada akhirnya Sadam mengetahui siapa Tasya yang sebenarnya.”
“Dari awal Mama dan juga Papa mengatakan kalau Mbak Tasya berselingkuh, Mas Sadam sudah percaya, bahan sejak saat itu dia juga tidak pernah lagi menyentuh Mbak Tasya,” jelasku pada Mama Elsa karena tidak ingin wanita paruh baya itu terus saja menggangap Mas Sadam salah.
Aku melihat Mama Elsa mulai mengerutkan keningnya seakan tidak mengerti dengan penjelasan ku barusan. “Sifana, apa maksud dari ucapan kamu itu?” tanya Mama Elsa padaku.
“Apakah maksud kamu selama ini diam-diam Sadam sudah mengetahui semuanya tapi dia masih bertahan dengan wanita tidak punya hati itu?” aku mengganggukkan kepala mengiyakan ucapan Mama Elsa. “Kenapa Sadam masih bertahan dengan sikap Tasya yang sudah kelewat batas itu? Mama benar tidak habis pikir dengan anak itu.” Terlihat kobaran api yang terpancar jelas dari manik mata Mama Elsa. Dia tentu saja marah melihat putra yang sangat ia sayangi ternyata menyimpan beban seberat itu selama ini.
“Mas Sadam takut jika sampai Ia mengambil keputusan maka Liora yang akan terkena dampaknya, bahkan Mas Sadam juga tidak mau jika sampai Liora dibawah oleh Mbak Tasya.” Aku mengungkapkan semua kebenaran itu karena tidak mau Mama Elsa berlarut-larut menyalahkan Mas Sadam karena semua ini.
“Semua sudah berlalu, sekarang kita semua akan memulai hidup yang baru. Bagi Mama yang terpenting sekarang Sadam sudah bisa mengambil keputusan yang benar dan Mama juga sangat bahagia sekali ketika mengetahui jika Sadam memperlakukan kamu dengan sangat baik."
"Ma, terima kasih karena selama ini selalu percaya dan juga mendukung Sifana," ujarku dengan mengusap cairan bening yang lolos dari pelupuk mata ini. Tangisan bahagia ini lekas aku usap agar tidak sampai di lihat oleh Liora karena anak kecil identik mengartikan orang dewasa yang sedang menangis adalah karena bersedih bukan bahagia.
"Mama tahu karena kamu pantas mendapatkannya." Mama Elsa sudah berdiri di sampingku lalu wanita itu memeluk aku seperti putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
***
Aku, Mama Elsa dan juga Liora duduk di kursi yang berada di teras rumah. Kami bertiga menunggu kehadiran Mas Sadam dan juga Papa Damar pulang dari berkerja. Selang beberapa waktu lewatlah mobil Mas Sadam dari gerbang utama rumah ini. Liora sudah melompat kegirangan melihat kehadiran Papanya.
“Liora, jangan loncat-loncat seperti itu nanti kamu jatuh,” ucapku lirih padanya.
“Ma, Liora sangat kangen sama Papa karena tadi pagi bertemu Papa hanya sebentar,” sahut Liora sembari menatapku sekilas.
“Mama tahu, tapi Liora tetap harus berhenti melompat seperti itu,” ujarku lagi masih dengan suara yang lembut agar mudah di cerah olehnya.
“Baik, Ma.”
Mas Sadam turun dari dalam mobil lalu Liora berlari menghampirinya. Aku hanya bisa menepuk jidat melihat tingkahnya yang terlalu aktif itu, Aku tidak memperbolehkan dia meloncat agar tidak jatuh tapi Liora malah berlari seperti itu.
“Anak itu memang benar-benar,” ujar Mama Elsa sembari mengelengkan kepalanya melihat tingkah cucu kesayangannya itu.
“Papa, tangkap Liora, ayo Pa tangkap Liora.” Aku melihat Liora merentangkan kedua tangannya agar di tangkap oleh Mas Sadam, senyuman gadis kecil itu tidak luntur dari bibirnya membuat semua orang tertawa gemas melihatnya.
Mas Sadam menaruh tas kerjanya di lantai kemudian mengambil ancang-ancang untuk menangkap tubuh kecil yang kini tengah berlari kearahnya. Ketika Liora sudah berada di dekap Mas Sadam, lelaki itu langsung mengangkat tubuhnya sembari berputar perlahan dengan posisi mengangkang tubuh kecil Liora di udara. Aku dan juga Mama Elsa tersebut bahagia melihatnya.
Sekilas Aku melihat sosok tak asing di manik mataku.
Siapa ya, yang di lihat oleh Sifana?
__ADS_1