
"Ma. Sifa sudah terlambat sekitar tiga minggu,” ucapku ketika sudah menghitung kapan aku terlambat datang bulan.
Aku takut sekali jika mengecewakan mereka semua. Bagaimana jika aku tidak hamil padahal semua orang sudah berharap banyak padaku aku hanya bisa menghela nafas pelan seakan hendak menghembuskan kegelisahan ku bersama angin lalu.
“Sifana … sifana,” panggilan Mama Elsa membuat lamunanku pecah dan kini aku langsung menatap kearahnya dengan memaksakan senyuman di wajahku. Aku tidak ingin semua orang mengetahui kecemasan yang sedang aku rasakan sekarang.
“Ya, Ma ada apa?” tanyaku pada Mama Elsa.
“Pa, hubungi Dokter Hera, biarkan dia datang dan memeriksa Sifana,” pinta Mama Elsa sembari menatap kearah suaminya.
“Nenek, memangnya Mama Sifa sakit apa?” tanya Liora yang merasa penasaran. Sejak dari tadi aku melihat gadis kecil itu hanya diam rupanya Ia sedang mengamati situasi yang ada disekitarnya.
“Baik Ma,” setelah bicara Papa Damar langsung melangkah keluar dari ruangan ini.
“Mama Sifana tidak sakit, tapi Nenek tidak mau menjelaskan sekarang, biar nanti Dokter saja yang menjelaskannya,” sahut Mama Elsa.
Mas Sadam mengengam tanganku kemudian tersenyum manis. Aku bisa melihat binar harapan yang terpancar dari manik matanya saat ini. Aku membalas senyumannya. hatiku memang merasa gundah karena takut akan suatu hal yang masih belum pasti tapi Aku juga berdoa pada tuhan semoga ia memberikan hasil yang akan membuat semua orang bahagia.
“Sayang, semoga saja di rahim kamu ada anak kita,” ucap mas Sadam dengan tulus. Aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman manis.
“Amin,” sahutku padanya penuh harapan.
“Nenek kenapa main rahasiaan gitu, Liora tidak suka,” ketus Liora sembari menaruh kedua tangannya bersedekap di dada.
“Nanti saja kamu pasti tahu, jadi bocah itu harus sabar,” pinta Mama Elsa.
“Mbak Sifa sakit apa sih? Jangan membuat Anggun takut dong,” pinta Anggun sembari mengerucutkan bibirnya lucu.
__ADS_1
“Seperti apa yang dikatakan oleh Nenek tadi, jadi kamu harus sabar dan tunggu saja sampai dokter datang,” sahutku pada Anggun dengan tersenyum manis.
“Mbak Sifa, kok pelit,” keluh Anggun tidak suka dengan jawabanku tapi aku tahu adik kesayanganku itu tidak bersungguh-sungguh ketika bicara dia hanya sedang mencemaskan aku saja.
“Mbak Anggun, Mama sekarang pelit sekali nanti kalau kita punya rahasia jangan sampai dikasih tahu,” bisik Liora di dekat telinga Anggun. Ketika berbisik bocah kecil itu menatapku dengan lirikan sinis tapi entah mengapa lirikannya itu malah membuat aku gemas sendiri.
Satu lagi jangan lupakan Liora yang berbisik namun, dengan suara yang lantang sehingga aku dan juga Mama Elsa bisa mendengarkannya dengan sangat jelas sekali. Ya, Tuhan jika aku memiliki anak semoga sama menggemaskannya seperti Liora.
“Liora, dan juga Anggun bermain di dalam kamar saja dulu, nanti Nenek dan juga Kakek akan mengatakan kabar baik untuk kalian,” ucap Mama Elsa pada keduanya. Entah mengapa Aku merasakan sesak nafas mendengarkan penuturan wanita paruh baya itu barusan.
“Baik, Nek,” sahut Anggun patuh.
“Mbak Anggun, Dedek mau disini,” pinta Liora sembari menarik balik tangannya yang sudah genggam oleh Anggun.
“Dedek, tadi Mbak Anggun melihat ada permainan baru di ponsel, ayo kita main bersama,” bujuk Anggun pada Liora.
“Main congklak di ponsel,” sahut Anggun.
“Ayo-ayo Dedek suka mainan itu,” sahut Liora sembari melangkah keluar dari ruangan kamar ini mendahului anggun.
***
Papa Damar melangkah masuk kedalam ruangan kamar ini, Ia tidak sendiri karena ada wanita paruh baya yang melangkah dibelakangnya. Aku melihat Mama Elsa langsung beranjak berdiri dari sofa kemudian mendekati Dokter Hera.
“Elsa, kamu masih cantik saja padahal usianya sudah tidak muda lagi.” Aku mendengar Dokter Hera bicara sembari membuka kedua tangannya.
“Hera, kamu jangan berlebihan kamu juga masih awet muda,” puji Mama Elsa balik. Dilihat sekilas saja keduanya sudah terlihat akrab mungkin Dokter Hera ini adalah teman baik Mama Elsa.
__ADS_1
“Siapa yang hamil?” tanya Dokter Hera ketika pelukan keduanya sudah terlepas. “Jangan bilang kamu yang hamil?” tanya Dokter Hera lagi sembari menatap kearah Mama Elsa dengan penuh selidik.
“Hust, kamu jangan ngawur mana mungkin aku yang hamil,” sahut Mama Elsa sembari menepuk lengan tangan Dokter Hera.
“Lalu untuk apa kamu menyuruh aku kemari jika tidak ada yang hamil? Kau tahu aku ini Dokter spesialis kandungan bukan Dokter umum,” sahut Dokter Hera.
“Yang hamil adalah istrinya Sadam,” sahut Mama Elsa.
“Mereka sudah menikah lama, nanti akan aku ceritakan sekarang kamu periksa menantuku dulu,” pinta Mama Elsa. Aku tahu Mama Elsa pasti tidak ingin bercerita di hadapanku karena nanti Dokter Hera bisa salah paham dan mengira jika aku menggoda Mas Sadam hingga pisah dengan istri pertamanya.
Kini Dokter Hera menatap kearah Aku dan juga Mas Sadam dengan bingung, dia pasti tidak tahu jika aku adalah istri Mas Sadam jika aku tidak salah ingat waktu Papa Damar mengumumkan aku didepan umum tidak nampak Dokter Hera hadir.
“Waktu acara kita, Dokter Hera berada diluar negeri jadi Ia tidak tidak turut hadir dalam acara kita, kamu jangan tersinggung jika kini Dokter Hera tidak mengenal kamu,” jelas Mas Sadam sembari mengengam tanganku.
“Iya Mas,” sahutku padanya.
“Sayang sekarang berbaringlah biar Dokter Hera memeriksa kondisi kamu,” pinta Mas Sadam padaku. Mas Sadam beranjak berdiri dari posisi duduknya dan Ia kini berdiri sembari menatapku. Tatapan matanya sungguh teduh membuat hatiku hangat.
Dokter Hera melangkah menghampiriku dengan senyuman manisnya. Wanita paruh baya itu memang tersenyum tapi aku bisa melihat rasa penasaran yang berbinar nyata dari tatapan matanya. Dokter hera mengeluarkan alat tensi darah setelah selesai dengan itu ia mulai memeriksa denyut nadiku, denyut jantung dan juga laju pernapasan kemudian wanita paruh baya itu kini membuka baju yang masih menutupi tubuhku dan melakukan pemaksaan pada bagian perutku dengan sangat hati-hati sekali.
Aku melihat wajah Mama Elsa, Papa Damar dan juga Mas Sadam yang kini tegang. Aku beralih melihat kearah Dokter Hera yang sudah menyelesaikan pemeriksaannya dan kini wanita paruh baya itu sedang menuliskan resep obat di kertas kecil. Kemudian mulai melangkah mendekati Mama Elsa. Mas Sadam mendudukkan tubuhnya di sampingku sembari menggengam tanganku. Kini aku dan juga Mas Sadam melihat kearah Dokter Hera.
“Bagaimana hasil pemeriksaanya?” tanya Mama Elsa.
“Menantu kamu sedang hamil dan jika dihitung dari tanggal terakhir dia mengalami menstruasi maka usia kandungannya sekitar tiga Minggu, tapi untuk pemeriksaan lebih terperinci sebaiknya melakukan USG karena kamu tahu sendiri diusia awal kehamilan rentan sekali mengalami keguguran,” jelas Dokter Hera.
Aku dan juga Mas Sadam langsung berpelukan. Ya, Tuhan terima kasih karena engkau telah memberikan kebahagiaan tanpa henti pada keluarga kami.
__ADS_1